Green Tumbilotohe, Tradisi Menyelamatkan Bumi di Bulan Ramadhan

By , Jumat, 17 Juli 2015 | 16:00 WIB

Cahaya-cahaya keluar di antara bunga. Berkilau menerangi taman di penghujung Ramadhan. Lampu-lampu menerangi setiap sudut jalan. Rumah dan masjid, tampak terang, berlumur pancaran sinar.

Inilah malam pasang lampu atau tumbilotohe. Sebuah tradisi masyarakat Gorontalo yang menandakan bahwa Bulan Ramadhan (puasa) akan berakhir, dan hari kemenangan, Idul Fitri, segera tiba. Perayaan tumbilotohe ini sudah dilakukan sejak abad ke-15.

Tumbilotohe sendiri dalam Bahasa Gorontalo terdiri dari dua kata. Tumbilo yang artinya pasang, dan tohe adalah lampu. Umumnya tradisi ini dikenal dengan sebutan malam pasang lampu. Lampu-lampu botol dinyalakan saat selesai Salat Magrib hingga menjelang subuh.

Sejak beberapa tahun, pemerintah di Gorontalo bahkan sering membuat festival tumbilotohe untuk merayakannya. Antar kampung dilombakan. Setiap desa atau kelurahan berlomba menyemarakkan tumbilotohe dengan ratusan bahkan ribuan botol lampu dengan sumber bahan bakarnya adalah minyak tanah. Tak jarang menggunakan lampu listrik.

"Namun, tumbilotohe dengan bahan bakar minyak tanah yang semakin mahal ini bisa mengakibatkan polusi, serta jika menggunakan listrik itu adalah pemborosan energi," kata Awaludin, dari Forum Komunitas Hijau (FKH) Kota Gorontalo, Rabu (15/7/15).

"Karena itu kami membuat green tumbilotohe atau malam pasang lampu yang ramah lingkungan sembari menghemat energi untuk menyelamatkan bumi."

Menurut Awal, green tumbilotohe itu dibuat dalam bentuk lomba prototype lampu. Penilaiannya  berdasarkan kearifan masyarakat Gorontalo yaitu ramah lingkungan, bahannya terbuat dari alam, mudah didapatkan, atau daur ulang sampah menjadi lampu tradisional yang tidak menggunakan bahan bakar minyak tanah dan sumber energi listrik.

Lomba green tumbilotohe itu digelar di Sekolah Alam Mandiri, sebuah lembaga non-formal yang mengkampanyekan gerakan pendidikan lingkungan di Kota Gorontalo. Lampu-lampu tersebut dipajang dan dipamerkan kepada pengunjung.!break!

“Antusias masyarakat untuk membuat lampu dengan model yang ramah lingkungan ini sangat tinggi. Terbukti dengan banyaknya peserta yang mengirimkan model lampu tradisional mereka. Ini menandakan bahwa upaya atau kampanye menghemat energi untuk menyelamatkan bumi mulai tumbuh di masyarakat,” ujarnya.

Lampu dari kulit kerang milik Riden Baruadi dengan bahan bakar minyak kelapa dicampur air menjadi pemenang lomba green tumbilotohe. (Mongabay.co.id/Christopel Paino)

Rahman Dako, Koordinator Forum Komunitas Hijau Kota Gorontalo mengatakan, greentumbilotohe ini bagian dari program tata ruang kota hijau, yang memiliki delapan atribut hijau. Yaitu perencanaan kota hijau ramah lingkungan, ketersediaan ruang terbuka hijau minimal 30 persen dari luasan kota, konsumsi energi yang efisien, pengelolaan air yang efektif, pengelolaan sampah, green building atau bangunan hemat energi, sistem transportasi berkelanjutan, serta peningkatan peran masyarakat sebagai komunitas hijau atau green society.

“Dan green tumbilotohe ini merupakan bagian dari atribut kota hijau untuk penghematan energi,” kata Rahman.

Malam pasang lampu sendiri digelar pada tiga malam terakhir Ramadhan, yang dimulai Senin, 13 Juli 2015 malam. Pada green tumbilotohe ini, peserta membuat lampu dengan berbagai model. Mulai dari yang berbahan kulit kima atau kerang raksasa, pepaya, bambu, kelapa, buah maja, dan lampu dari barang bekas seperti plastik air mineral dan limbah rumah tangga. Sementara bahan bakarnya terbuat dari getah pohon damar, minyak kelapa yang dicampur air, ethanol, hingga minyak nilam.

“Dari lampu yang dibuat peserta, kita bisa lihat model energi alternatif selain minyak tanah atau listrik,” ungkap Samsudin Ayub, pendiri Sekolah Alam Mandiri.

Setelah dinilai juri, lampu yang terbuat dari kulit kerang atau molusca dengan bahan bakar campuran minyak kelapa dan air, dinobatkan sebagai pemenang, disusul lampu model polopalo atau alat musik tradisional Gorontalo dari bambu, juga dengan bahan bakar air dan minyak kelapa.

“Banyak yang beranggapan bahwa kulit kerang atau kima merusak. Tapi warga pesisir di Gorontalo biasa mengambil dagingnya kemudian kulitnya dibuang oleh penduduk setempat,” kata Riden Baruadi, pemilik lampu dari kulit kerang.