Perziarahan Agung: Perjumpaan Rawi dan Rembulan di Fort Tolucco

By Mahandis Yoanata Thamrin, Jumat, 11 Maret 2016 | 09:30 WIB
Fort Tolucco atau Fort Toluko, beberapa jam jelang Gerhana Matahari Total. Benteng ini dibangun oleh Portugis pada 1540. Gubernur jenderal VOC Pieter Both memugarnya pada 1610. Portugis kerap menyebut benteng ini sebagai Fort Santo Lucas, sementara Belanda menyebutnya dengan Fort Holandia. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Indonesia)

“Saya sudah menyaksikan Gerhana Matahari Total sebanyak lima kali di berbagai negara,” ujar Tsutabayashi sembari menyeka peluh. “Namun inilah gerhana terlama yang saya saksikan sepanjang hidup saya.”

   

Indonesia memiliki sejarah kecut tentang gerhana matahari. Jika Gerhana Matahari Total Juni 1983 melahirkan gegar budaya dan ketakutan warga, Gerhana Matahari Total Maret 2016 telah melahirkan gempita budaya di sebelas provinsi yang menjadi perlintasannya. Para pemangku kepentingan berupaya memanfaatkan momen semesta yang bersejarah sebagai wahana mempromosikan keunggulan destinasi wisata mereka. Namun, kita perlu berbangga bahwa sejatinya Indonesia telah menjadi tuan rumah gerhana sejak akhir abad ke-19.

Dari anak-anak sekolah dasar hingga peneliti kampiun bermunajat dan bergelora saat pengamatan Gerhana Matahari Total di Fort Tolucco. Benteng ini menghadap laut dan berlatar Gunung Gamalama. Ketika fenomena yang sama terjadi di Jawa pada 1983, para orang tua dihimbau untuk mendekap anak-anak mereka, sebuah gegar budaya. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Indonesia)

Jelang siang nan terik di sebuah rumah pejabat militer yang berlokasi di samping bastion Fort Oranje. Saya berkesempatan berbincang dengan Anwar Husen, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Maluku Utara. Anwar mengatakan bahwa acara di Ternate ini sejatinya dipersiapkan hanya selama dua bulan.

“Gerhana Matahari Total bisa kita lihat dalam tiga perspektif,” ujar Anwar. “Pertama, dari perspektif agama gerhana adalah hukum Tuhan atau sunatullah, orang menyikapi ini dengan ritual agama. Kedua, gerhana menjadi peristiwa ilmu pengetahuan. Dalam momen ini para ilmuwan  dan peneliti menjadikannya sebagai objek meneliti fenomena alam. Ketiga, bagi saya, ini adalah peristiwa pariwisata. Orang melihat keindahan fenomena alam ini sebagai sesuatu yang patut dijual dan memiliki nilai investasi dan nilai wisata.”

Dari jendela samping Fort Tolucco, pemburu gerhana matahari menyaksikan Gerhana Matahari Total yang kelak akan jatuh di kawasan yang sama sekitar lebih dari tiga abad mendatang. Kata "jendela" merupakan serapan dari bahasa Portugis, 'janela'. Budaya Portugis memengaruhi budaya Maluku Utara baik bahasa, toponimi, maupun busana. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Indonesia)

Menurut Anwar, peristiwa gerhana matahari mempunyai dampak yang luas di sektor pariwisata di Maluku Utara. “Target wisatawan mancanegara di Maluku Utara pada 2016 adalah 2.500 orang,” ujarnya bersemangat. “Namun, baru pada triwulan pertama tahun ini jumlahnya sudah 2.626 orang. Itu yang tercatat pada dinas.”  

Semua pihak berharap bahwa gempita untuk menjadikan Maluku Utara sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya, tidak hanya sekadar euforia sesaat lantaran peristiwa gerhana. Boleh jadi pada tahun ini, para pelancong membanjiri Maluku lantaran alasan geografi yang menjadikan kawasan itu sebagai titik pengamatan Gerhana Matahari Total terlama di Nusantara. Dalam jangka panjang, pembangunan sebuah kawasan destinasi wisata, tampaknya perlu sinergi serius antara kesiapan warga dan pemangku kepentingan, termasuk atmosfer kedamaian.

Tak kebagian kaca mata gerhana matahari? Seorang pemburu gerhana menyaksikan lewat lembaran film hasil rontgen milik kerabat. 'Ini masih ada gambar tulangnya,' ujarnya. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Indonesia)

Perseteruan antarumat beragama pernah pecah di Maluku Utara pada awal milenium silam, sebuah peristiwa sejarah yang beberapa kali berulang sejak Portugis dan Spanyol masih berkuasa di Kepulauan Rempah.  
 
Di Fort Tolucco, Gerhana Matahari Total seolah menyadarkan hati para pemirsanya. Benteng Portugis, yang pada masa silam menjadi pemicu seteru di Kepulauan Rempah, pada hari itu menjadi tempat perziarahan hati. Para pelancong beragam bangsa dan agama menyaksikan Rawi dan Rembulan yang sama, ketakjuban dan keharuan betapa kecilnya manusia di hadapan Sang Pencipta. Di benteng kecil itu, para pemburu perjumpaan rawi dan rembulan menggemakan beragam doa atau ketakjuban atas layar semesta, namun sejatinya mereka memiliki tujuan yang sama.

Saya kembali bersimpuh di sudut bastion Fort Tolucco sembari mengingat kembali perkataan Sultan Khairun sebagai penguasa Ternate abad ke-16, kepada Frans Xavier, penyebar Katolik di Maluku. “Orang Kristen dan Islam menyembah Tuhan yang sama," kata Khairun, "dan suatu ketika kelak semuanya akan dipersatukan dalam iman.”

Senyum ceria seorang anak Ternate tatkala menyaksikan perjalanan berjumpanya Rawi dan Rembulan di atas Fort Tolucco. Senyum cerahnya semoga menjadi kedamaian dan keramahan Maluku Utara untuk menyambut gelombang pelancong mendatang. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Indonesia)