Soal Keamanan Dunia Maya, Indonesia Masih Jadi Korban "Bully"

By , Rabu, 4 Mei 2016 | 18:00 WIB

Perusahaan keamanan cyber FireEye mengungkap bahwa Indonesia saat ini seperti jadi negara korban bully karena sering "dikerjai" oleh negara-negara lain.

FireEye mengungkap bahwa persentase serangan cyber ke Indonesia ternyata lebih tinggi dari pelanggan layanannya di negara lain. Jumlahnya mencapai dua kali lipat.

Diketahui, jumlah pelanggan FireEye di Indonesia yang mendapat serangan cyber sebanyak 36 persen dari total jumlah pelanggan global. Sementara itu, pelanggan di luar negeri hanya 15 persen.

Sayangnya, FireEye menolak menyebut berapa jumlah kliennya yang ada di Indonesia. (Baca : Sistem Keamanan Murah Gawai Jadul)

Menurut Chief Technology Officer FireEye, Bryce Boland, ada beberapa motivasi serangan cyber ke perusahaan-perusahaan di Indonesia, seperti yang bersifat politis, finansial, ekonomi, serta keamanan.

Bryce juga mengungkap bahwa saat ini ada empat kelompokhacker besar yang fokus menyerang Indonesia. Kelompok tersebut terdiri atas tiga kelompok besar dari China dan satu kelompok dari Eropa Timur.

Upaya untuk menangkal serangan cyber ke Indonesia juga dirasa masih minim.

"Tingkat kematangan Indonesia dalam hal cyber security masih rendah, kebanyakan perusahaan dan organisasi di Indonesia masih dalam tahap deteksi saja," kata Boland dalam acara jumpa media di Jakarta, Selasa (19/4/2016).

Tingkat kematangan cyber Indonesia

Untuk diketahui, tingkat kematangan cyber Indonesia oleh FireEye dinilai ada di peringkat ke-14. Tanah Air mendapat skor 46,4 di antara negara-negara di Asia, Australia, dan Jepang. Indonesia bahkan berada di bawah India, Thailand, dan Filipina.

Tingkat kematangan dan kesadaran keamanan cyber ini oleh FireEye dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap deteksi, tahap respons, dan tahap hunting (berburu). (Baca pula : Simulasi Perang Siber, Kerja Sama Pertahanan Baru AS-Inggris)

Negara-negara yang sudah matang dalam hal cyber security sudah aktif memburu siapa saja yang mencoba menyerang mereka, meski tidak ada deteksi ancaman.

"Perusahaan dan organisasi di Indonesia masih mengandalkan teknologi lama yang sudah ada sejak 15 tahun lalu, seperti firewall dananti-virus saja," kata Boland.

Lantas, apa yang perlu dilakukan agar Indonesia tidak terus-menerus dijadikan sebagai obyek bully oleh negara lain, tetapi menjadi negara pemburu para penyerang cyber?

Boland mengatakan, tidak bisa hanya mengandalkan satu solusi untuk bisa memecahkan semuanya (silver bullet). Menurut dia, harus adaintelligence awareness dari semua level, mulai dari pemerintah hingga pelaku industri.

"Dibutuhkan kerangka kerja yang bisa mengidentifikasi kejahatan sebelum terjadi, sementara pemerintah bisa menyiapkan sistem hukum peradilannya," pungkas Boland.