Menelusur Jejak Orangutan di Koridor Labian Leboyan

By , Minggu, 8 Mei 2016 | 15:00 WIB

Survei yang dilakukan WWF Indonesia menunjukkan bahwa wilayah koridor antara Taman Nasional Betung Karihun (TNBK) dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) adalah hotspot orangutan yang penting.

"Kawasan koridor sebagai habitat biodiversitas memiliki peran penting dalam mendukung konservasi orangutan dan habitatnya, serta untuk mendukung keberadaan sub-spesies ini untuk jangka panjang,” ujar Albertus Tjiu, Program Manager WWF Indonesia di Kalimantan Barat.

TNBK sendiri, berdasarkan survei WWF Indonesia tahun 2005, merupakan habitat bagi 550 - 1830 individu orangutan. Sementara TNDS menurut survei WWF Indonesia tahun 2009 memiliki 771 - 1006 individu orangutan.

Tahun 2009, WWF Indonesia menyurvei wilayah koridor TNBK dan TNDS, terutama wilayah Daerah Aliran Sungai Labian Leboyan. Survei menunjukkan, wilayah koridor menjadi tempat hidup penting bagi orangutan. Ada 581 individu orangutan yang hidup di wilayah tersebut. 

WWF Indonesia kembali melakukan survei pada tahun 2011 untuk mengetahui persebaran orangutan di kawasan koridor. 

Tim survei melakukan monitoring di 40 jalur transek, yang meliputi empat kawasan desa, diantaranya Melemba, Sungai Ajung, Mensiau, dan Labian. Survey ini dilakukan di dua tipe habitat hutan, yaitu hutan rawa dan hutan dataran rendah, dengan panjang jalur transek 38,068 kilometer.

Dari hasil survei tersebut, total sarang yang dijumpai sebanyak 539 sarang, dengan perincian hasil pengamatan sarang di jalur transek ditemukan sebanyak 291 sarang, dan hasil observasi di luar jalur transek di jumpai sebanyak 248 sarang.

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, persebaran orangutan dari jumlah distribusi sarang orangutan lebih banyak dijumpai pada bagian selatan kawasan koridor. Persebaran tersebut mulai terputus dibagian tengah dan kembali ada lagi dibagian utara kawasan koridor. 

Di DAS Labian leboyan, orangutan dijumpai di setiap lokasi, namun populasi pada hutan dataran rendah lebih tinggi daripada hutan rawa.  Sebaran di rawa ada di kiri dan kanan sungai sedangkan dataran rendah ada di beberapa perbukitan.

“Hal ini dapat terjadi karena pada bagian tengah kawasan koridor telah banyak pembukaan hutan yang menjadi areal persawahan, pertanian dan perkebunan. Fragmentasi habitat merupakan masalah serius bagi orangutan, karena sebagai satwa arboreal mereka memerlukan pohon-pohon tinggi dengan kanopi atau tajuk pohon untuk pergerakannya," kata Albertus.

"Bagian tengah kawasan ini (koridor) juga merupakan areal yang sarat akan aktivitas penduduk dan keberadaan jalan raya di kawasan  tersebut memotong wilayah koridor menjadi dua bagian, yaitu bagian utara dan bagian selatan,” imbuhnya.

!break!

Orangutan yang hidup di setiap sudut koridor punya tantangan masing-masing. Orangutan di bagian utara koridor bisa dikatakan lebih aman. Daerah itu merupakan area penyangga, aktivitas penduduk seperti berladang atau bertani relatif minim, bahkan suksesi alami di areal bekas penebangan kayu (logging) sudah terjadi.