Hidup Sederhana yang Sehat, Bukan Hidup Menderita

By , Rabu, 25 Mei 2016 | 08:00 WIB

Tulisan ini dibuat dari kejauhan sekian ribu mil dari tanah air. Tepatnya di sebuah desa 2 jam bermobil dari salah satu kota di negri tirai bambu.

Di tempat ini, dari mana ilmu Taichi berasal, nuansa kesederhanaan masih terasa kental sekali pun begitu banyak orang asing berdatangan sebagai murid dari pelbagai penjuru dunia.

Negeri empat musim ini tak pelak menghasilkan gandum. Terbukti tepat di depan jendela kamar terhampar ladang gandum sejauh mata memandang.

Selain mengajar taichi sejak jaman leluhurnya, sang suhu juga petani lasak pemegang nilai-nilai tradisional yang tak pernah melewatkan makan bersama dengan anak cucu setiap harinya di meja pendek, berkursi pendek-pendek seukuran cucu balitanya.

Kembali ke ‘peradaban yang sesungguhnya’, membuat saya merenung banyak. Di sini, semua orang bekerja keras, harafiah secara fisik. Kulit menghitam entah bertani atau akibat taichi di bawah matahari.

Tanpa jasa bersih-bersih ala hotel berbintang, kami menyapu, mengepel, menguras kamar mandi, hingga menyuci sendiri. Semua nampak sibuk, bahkan dapur umum selalu ngebul dari subuh hingga makan malam usai.

Semua tercukupi dengan hanya makan sehari tiga kali, yang sangat sederhana. Tidak ada istilah rehat kopi apalagi snacking. Terlalu mewah, terlalu foya-foya.

Kelaparan? Pastinya tidak. Mereka dan kami terlihat amat sehat. Nampak berpinggang dengan punggung rata, kaki kokoh dan dada bidang.

Ada rahasia makanan tertentu? Ramuan herbal ajaib? Sama sekali tidak. Karena pekerja keras, setiap makan selalu ada bakpau kosong dikenal sebagai mantau yang mudah bantat jika kena udara dingin – tampilannya jangan dikira putih lembut seperti bakpau di mall, melainkan kusam kekuningan dengan bau ragi yang masih kentara.

Begitu pula rupa nasi yang hanya muncul dua kali sehari – ada orang yang terkadang justru mengejar kerak kecoklatannya di dasar langseng.

Anehnya, semua orang makan lahap bersanding sup encer dan dua jenis lauk. Yang paling sering muncul justru ketimun. Dari dibuat acar hingga diserut sebagai campuran sup bersama jamur kuping dan kocokan telur.

Tahu hampir selalu tersedia dengan cincang daging yang nyaris kurang dari sesendok makan dalam satu baskom irisan tahu serta daun bawang dan satu baskom lain berisi sayuran. Tidak ada jamu apalagi minuman rempah ajaib.

!break!

“Warung besar” terdekat dari tempat saya tinggal, butuh ditempuh dengan jalan kaki sejauh 2 kilometer. Perjalanan itu wajib ditempuh demi buah dan sayuran segar. Jangan salah, bukan berarti mereka tidak punya mobil.

Jalan raya pun mulus tak berlubang. Tapi, berjalan kaki dengan jalur pejalan kaki yang nyaman sudah merupakan budaya.

Sepanjang jalan, anak-anak berpipi merah memandang para pendatang dengan tatapan ingin tahu dan orangtuanya menyapa ramah, seakan kami sudah penduduk lama di sana.

Ketenangan sangat terasa di sini, tempat dimana Google jangan harap bisa dibuka semaunya dan mustahil mengakses Facebook apalagi meng-upgrade Twitter.

Paling tidak, pemerintahnya meminimalkan stres rakyat akibat media sosial dan kegilaan mengumbar narsisme wajah hasil photoshop.

 Menjauh dari peradaban kota seperti ini, bukan berarti saya mendadak ekstrem terpikir untuk ‘beralih’. Sama sekali tidak. Karena, misi saya memang bukan untuk itu. Melainkan untuk beberapa pembuktian sekaligus pembenaran tentang beberapa hal.

Salah satunya tentang kepercayaan ngemil, makanan antara, snacking. Mempertahankan kadar gula darah normal tidak yoyo tanpa membebani insulin, bukan berarti manusia jadi mesin rakus yang berkutat di sekitar makanan setiap 3 jam sekali.

Semua tergantung apa yang dimakan, bagaimana tubuh meregulasi makanan itu dan perilaku hidup seperti apa yang menentukan makanan apa yang patut masuk tubuh.

Repotnya, masih terlalu banyak orang hidup leyeh-leyeh di depan komputer, tapi merasa berhak makan gaya kuli kapal.

Mengaku olah raga, padahal cuma dua kali tiap minggu, tapi ribut merasa harus konsumsi minuman berenergi atau camilan khusus.

Ketika saya remaja dulu, manusia versi itu dikenal dengan istilah “tengil”. Ujung-ujungnya, menghabiskan dana, tetap berperut buncit, kulit pucat dan berisiko keropos tulang.

Di sini, tak jauh dari saya menulis, terhampar pemandangan keren sekelompok orang-orang yang tekun melatih diri bertahun-tahun, tanpa istilah instan dan praktis.

Menjalani hidup apa adanya tanpa mengharapkan yang muluk-muluk, hanya berpikir agar dirinya bisa menjadi contoh bagi anak cucu di kemudian hari.

Anak menjadi baik bukan karena iming-iming diberi mainan baru atau diajak main ke mal, melainkan karena memang jadi orang itu harus baik.