Fenomena Langka, Seekor Bayi Penyu Berkepala Dua Ditemukan di Florida

By , Selasa, 22 Agustus 2017 | 13:00 WIB

Saat memeriksa sarang kosong yang ditinggalkan bayi penyu tempayan yang baru saja ditetaskan, pekerja lapangan di University of Central Florida melihat seseorang yang nampaknya sedang mengikuti sesuatu. Setelah diperiksa lebih dekat, ternyata seseorang tersebut mengikuti bayi penyu yang memiliki dua kepala.

Ribuan penyu bertelur di sepanjang jalan sejauh 29 mil yang dipantau oleh universitas tersebut. Di samping itu, masih banyak penyu yang masih bertelur di sepanjang Florida, salah satu agregasi penyu tempayan terbesar di dunia. Pada tahun 2016, lebih dari 122.000 penyu lahir dari sarang negara bagian.

"Tidak jarang menemukan penyu yang terlahir dengan kelainan perkembangan," kata Kate Mansfield, pengelola Marine Turtle Research Group di universitas. "Namun, jarang sekali menemukan fenomena kelainan. Sepanjang karir saya, ini merupakan pertama kalinya saya melihat penyu berkepala dua,” tuturnya.

Penyu tempayan dilindungi oleh U.S. Endangered Species Act, dan International Union for the Conservation of Nature mengklasifikasikan reptil besar yang rentan terhadap kepunahan.

Apakah Mampu Bertahan Hidup?

Ketika dilepaskan, penyu tersebut dengan enerjik merangkak pergi menuju lautan. "Mungkin penyu itu bisa bertahan, tetapi kemungkinannya cukup rendah," ujar Mansfield, yang menambahkan mutasi genetik yang diduga menyebabkan penyu tersebut memiliki dua kepala.

Menurut Sea Turtle Conservancy, kemungkinan penyu bertahan hidup untuk penetasan telur adalah rendah. Hanya 1:10.000 bayi penyu yang dapat hidup hingga dewasa.

Penyu tersebut ditemukan saat dilakukan pemeriksaan rutin pada sarang. Gambar-gambar ini diambil oleh UCF Marine Turtle Research Group saat melakukan penelitian yang diizinkan (Izin MTP-186). (Leah Rittenberg, UCF Marine Turtle Research Group)

Penyu menghadapi banyak bahaya di sepanjang rute migrasi mereka. Jaring pemancing, pembangunan di sepanjang garis pantai, dan perubahan iklim, semuanya berdampak pada kesempatan para penyu tempayan untuk bertahan hidup.

Ketika ditanya apakah dia pernah bertemu dengan penyu dewasa dengan kelainan yang parah, Mansfield mengatakan bahwa itu jarang sekali terjadi. Dari penyu liar yang diamati oleh peneliti, betina lebih sering ditemukan bertelur di pantai.

Terkadang, timnya menemukan seekor penyu dengan cangkang cacat. Namun, masalah yang paling sering dia lihat adalah luka-luka, bukan kelainan anatomis. "Biasanya, cedera tersebut disebabkan oleh hantaman kapal atau kaki yang digigit,” ucap Mansfield.

Penyu itu dilepaskan dan ia bergegas pergi dengan energik. Penyu ini mungkin akan bertahan, meskipun peneliti mengatakan bahwa hal iitu tidak mungkin terjadi. (Leah Rittenberg, UCF Marine Turtle Research Group)