Menghilang 130 Tahun, Ngengat Unik Ini Kembali Ditemukan

By , Senin, 18 Desember 2017 | 11:00 WIB

Baru-baru ini, para ilmuwan mendapatkan kabar gembira. Spesies ngengat yang hilang ditemukan kembali setelah 130 tahun.

Ngengat biru oriental tersebut menyamarkan diri sebagai lebah. Sebelumnya, ngengat ini diidentifikasi sebagai satu spesimen rusak yang dikoleksi pada tahun 1887.

Spesies ini ditemukan kembali oleh ahli serangga asal Polandia. Lokasi penemuannya di sebuah hutan hujan di Malaysia, salah satu daerah paling kaya akan satwa liar di bumi.

Ngengat biru oriental atau Heterosphecia tawonoides ini berkamuflase, mengumpulkan garam dan mineral dari daerah yang lembap dengan belalai yang menyerupai lidah.

(Baca juga: Studi Terbaru Mengungkap Lebih Jauh Kamasutra Ngengat)

Empat ekor ngengat langka ini bersinar sangat biru di bawah sinar matahari. Semuanya dikumpulkan ahli genetika dan dilakukan pemeriksaan genitalia untuk memastikan bahwa mereka adalah spesies yang hilang.

Dilansir dari The Guardian, Jumat (15/12/2017), pada 1887, spesimen ini telah dikumpulkan di Indonesia.

Tapi Marta Skowron Volponi dari Universitas Gdansk, Polandia menemukan kembali spesies tersebut saat melihat kilau biru cemerlang di tepi sungai hutan hujan semenanjung Malaysia.

Selama kunjungannya pada 2013, 2016, dan 2017, Skowron Volponi dan koleganya mengamati hanya mengamati dan merekam 12 ekor ngengat. Ini menunjukkan bahwa ngenat sangat langka dan sulit dipahami.

Dalam makalahnya untuk Ilmu Konservasi Tropis, Skowron Volponi menggambarkan bagaimana ngengat biru oriental ini adalah satu-satunya ngengat yang terlihat seperti tiruan di antara lebah.

Ngengat biru oriental menemukan keamanan sebagai kamuflase sejumlah spesies lebah.

Bahkan, ngengat tersebut terlihat memungut garam di genangan yang sama dengan spesies lebah yang juga memiliki pita pemantul cahaya biru di perutnya. Sementara ngengat itu bergerak dari genangan air bersama para lebah, ngengat lainnya akan menjaga jarak mereka dari lebah.

Ngengat langka ini juga ditemukan di taman nasional yang tak terlindung bagian hutan hujan. Lokasi ini sangat terancam oleh pembangunan.

(Baca juga: Kawanan Ngengat Raksasa Menyerbu Malaysia)

Malaysia sendiri memiliki tingkat deforestasi tertinggi di dunia, sekitar 14,4 persen antara tahun 2000-2012. Hal ini karena perkebunan kelapa sawit yang makin berlipat ganda.

"Ekosistem yang sangat rentan ini lenyap dengan cepat," ungkap Skowron Volponi.

"Mengingat tingkat hilangnya habitat dan kepunahan spesies saat ini, sangat penting untuk mempelajari dan mengkategorikan keduanya, yaitu spesies baru dan yang pernah ditemukan beberapa waktu sebelumnya namun tak pernah dilihat lagi sejak itu," tutupnya.

Artikel ini sudah pernah tayang di Kompas.com. Baca artikel sumber