Berjalan dengan Tangan, Lima Bersaudara Ini Tidak Pernah Berdiri

By Sysilia Tanhati, Kamis, 13 Januari 2022 | 08:00 WIB
Bagi orang lain, berjalan dengan menggunakan kaki dan tangan sangat tidak nyaman. Namun keluarga ini dapat dengan lincah bergerak. (Nicholas Humphrey et al/LSE Research)

Nationalgeographic.co.id—Di sudut terpencil di Turki tinggal sebuah keluarga yang tampaknya tidak mengalami evolusi. Hujan turun rintik-rintik ketika seorang pria terhuyung-huyung di trotoar. Sepintas ia terlihat seperti mabuk, menempel di dinding batu di sisi kirinya dan gelisah.

Perlahan menurunkan tangannya, terbungkus sandal hijau, ke tanah berlumpur. Dengan hati-hati, ia mulai berjalan menjauh, dengan merangkak.

Pria itu adalah salah satu dari lima anak dalam keluarga yang mengalami kondisi tidak biasa yang membingungkan. Ini membuat para ilmuwan keheranan sejak mereka pertama kali ditemukan pada 2005. Orang tuanya normal. Tapi 5 dari 19 keturunan mereka “berkaki empat” dan berjalan seperti primata.

Teori-teori sebelumnya menyatakan keluarga ini mewarisi kebiasaan nenek moyang primata. Namun penelitian terakhir menyatakan bahwa penelitian-penelitan sebelumnya semuanya salah. Ini bukan warisan. Ini adalah adaptasi terhadap kelainan yang langka yang dialami oleh kakak beradik ini.

Menurut salah satu peneliti, mereka mengalami kelainan yang disebut sindrom Uner Tan. Sindrom ini ditandai dengan hilangnya keseimbangan, gangguan kemampuan kognitif, dan kebiasaan berjalan berkaki empat. Menurut teori Uner Tan, ini menunjukkan “tahap terbelakang dalam evolusi manusia.” Dengan kata lain, kakak beradik dari Turki ini dianggap sebagai bukti berjalan bahwa kemajuan evolusi bisa saja lenyap. Jika itu terjadi, kita mungkin akan kembali berjalan dengan cara merangkak.

Penemu sindrom ini, Uner Tan, menyadari bahwa mereka menunjukkan gaya berjalan nenek moyang manusia yang mirip kera. Uner Tan, seorang ahli biologi evolusi, merupakan ilmuwan yang pertama kali menyarankan adanya evolusi terbalik pada manusia.

Peneliti Inggris menyanggah pendapat Tan. Dalam studi terpisah, ia menunjukkan bahwa primata berjalan dengan cara yang berbeda dengan keluarga ini. Mereka meletakkan semua berat badan di pergelangan tangan. Tidak pada buku-buku jari seperti primata.

Baca Juga: Temuan Ini Ungkap Gaya Hidup Mewah di Turki Sejak 5.000 Tahun Lalu

Studi lainnya membantah anggapan bahwa kakak beradik ini alami evolusi terbalik. Mereka tidak, seperti dugaan Tan sebelumnya, berjalan seperti primata. Primata berjalan dalam urutan diagonal, di mana mereka meletakkan tangan di satu sisi dan kaki di sisi lain. Lalu mengulangi pola ini saat mereka maju. Sementara itu, keluarga ini berjalan menyamping — mirip dengan hewan berkaki empat lainnya.

Menurut para peneliti, cara berjalan ini merupakan kondisi keturunan yang menyebabkan hipoplasia serebelar. Menurut keterangan dari National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), hipoplasia serebelar adalah neurologis ketika otak kecil memiliki ukuran lebih kecil daripada yang seharusnya dan tidak berkembang sempurna. Kondisi ini menyebabkan masalah pada fungsi motorik dan perkembangan otot.

Kelainan ini memengaruhi keseimbangan, sehingga tidak heran jika mereka mengalami kesulitan untuk berjalan dengan kedua kaki. Untuk beradaptasi, keluarga ini pun mengembakan quadrupedalisme. Ini adalah sebuah bentuk lokomosi terestrial pada hewan memakai empat paha atau lutut.

Penelitian ini dilakukan oleh Liza J. Shapiro dari Universitas Texas.

Kelincahan mereka dalam menggunakan kaki dan tangan sangat mengesankan. Kakak beradik ini dapat menaiki dan menuruni tangga dengan lincah.

Mereka bergerak menggunakan cara ini dengan lancar dan efektif. Ketidaknyamanan sama sekali tidak terlihat di wajah mereka. Ini sangat kontras dengan manusia dewasa normal yang menemukan gaya berjalan seperti itu. Ketika mereka mencobanya, tentu melelahkan dan tidak nyaman.

Selain mengganggu keseimbangan, sindrom ini membuat mereka mengalami kesulitan untuk berbicara. Kakak beradik ini hampir tidak dapat berbicara, sehingga mereka mengembangkan cara untuk berkomunikasi satu sama lain.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Tan, mereka menggunakan kurang dari seratus kata dan mengalami kesulitan menjawab beberapa pertanyaan.

“Tahun berapa?” Tan berkata dia bertanya pada salah satu saudara itu.

"Delapan puluh," kata seorang. "Sembilan puluh," jawab yang lain. "Hewan," kata yang lain. “Juli,” jelas yang keempat. "Rumah," kata yang terakhir.

“Apa musimnya?”

"Hewan," kata salah satunya.

"Apa ini?" katanya sambil menunjuk sepatu merah.

"Tomat," salah satunya menjawab.

Mereka memiliki 14 saudara laki-laki dan perempuan lainnya yang tidak terpengaruh oleh kondisi tersebut. Hanya lima yang berjalan dengan kedua tangan dan kakinya. Ini merupakan keluarga besar yang saling melindungi.

Yang perempuan tinggal di rumah, mengisi waktu merenda dengan jarum dan benang.

Sementara para pria paling suka berpetualang dan "sangat gesit." Mereka berkeliaran di desa mengumpulkan botol dan kaleng dan menempatkannya di dalam kantong yang dibuat dengan kemeja yang ditahan gigi.

“Keluarga ini menjadi misteri bagi komunitas ilmiah dan kontroversi seputar keluarga ini terus berlanjut,” tutur psikolog Turki Defne Aruoba.

Sesekali, seorang ilmuwan baru muncul dan menawarkan pengobatan baru atau meminta izin untuk melakukan lebih banyak pengujian. Sang Ayah tidak memberikan jawaban ya atau tidak. Ia sepenuhnya menyerahkan pada apa yang dibawa kehidupan. Satu-satunya perhatiannya adalah kesejahteraan anak-anaknya yang cacat setelah dia meninggal.

Baca Juga: Jawaban Sains untuk 'Bisakah Seseorang Berjalan Di Atas Air?'