Fosil Dinosaurus Raksasa Mesir Ungkap Hubungan Kuno Afrika dan Eropa

By , Kamis, 1 Februari 2018 | 10:00 WIB

Afrika dulunya dihuni oleh spesies dinosaurus unik yang besar. Tapi ilmuwan hanya tahu sedikit tentang bagaimana keadaan mereka, apa yang terjadi pada mereka, dan bagaimana kaitannya dengan dinosaurus yang ditemukan di Asia.

Itulah sebabnya, penemuan fosil baru yang spektakuler di Mesir menjadi buah bibir di kalangan para ahli paleontologi .

Tim ahli paleontologi di Mesir menemukan fragmen-fragmen fosil dari spesies baru dinosaurus yang hidup sekitar 80 juta tahun silam. Fosil yang mencakup elemen tengkorak tersebut ditemukan di dekat Oase Dakhla di Gurun Barat Mesir.

Baca juga: Peneliti Buktikan Makhluk Mitologi Unicorn Nyata

Disebut Mansourasaurus shahinae, hewan kuno itu merupakan jenis titanosaurus, kelompok dinosaurus sauropoda yang berleher panjang dan pemakan tumbuh-tumbuhan. Berdasarkan fosil yang ditemukan, para ilmuwan memperkirakan dinosaurus ini berukuran panjang 8-10 meter ketika masih hidup.

Ahli paleontologi dari Mansoura University, Hesham Sallam, bersama rekan-rekannya menentukan bahwa fosil tersebut termasuk dalam genus dan spesies baru titanosaurus. Mereka kemudian menulis hasil penelitian tersebut dalam  jurnal Nature Ecology & Evolution.

Kerangka M. shahinae menjadi temuan penting karena sejauh ini merupakan spesimen dinosaurus paling lengkap yang berasal dari akhir Periode Kapur di Afrika.  Selain elemen tengkorak, fosil itu juga terdiri dari rahang bawah, tulang leher sekaligus tulang belakang, rusuk, sebagian besar bahu dan lengan, sebagian kaki belakang, dan potongan pelat dermal.

“Ini seperti harta karun—fosil dinosaurus yang terawetkan dengan baik dari akhir era dinosaurus di Afrika—yang telah dicari sejak lama oleh para ahli paleontologi,” ujar rekan penulis studi, Matt Lamanna, dari Carnegie Museum of Natural History.

Baca juga: Berkat Fosil Berusia 200 Juta Tahun, Evolusi Kupu-kupu Terungkap

Selama tahun-tahun awal era dinosaurus, sepanjang era Trias dan Jura, semua benua di Bumi masih tergabung sebagai benua super Pangaea. Namun, di Zaman Kapur, Pangaea mulai terpecah menjadi beberapa benua.

Secara historis, belum jelas seberapa baik Afrika terhubung dengan benua di belahan selatan dan Eropa selama periode ini. Selain itu, belum diketahui sampai sejauh mana kekerabatan fauna Afrika mungkin telah terputus dengan tetangga mereka dan berevolusi di jalur yang terpisah.

M. shahinae, sebagai satu dari sedikit dinosaurus afrika yang diketahui dari periode ini, membantu pertanyaan-pertanyaan tersebut.

“Dinosaurus ini membantu kita menjawab pertanyaan-pertanyaan lama tentang catatan fosil dan paleobiologi Afrika—hewan apa yang tinggal di sana, dan spesies apa yang berkerabat paling dekat?” ujar rekan penulis studi, Eric Gorscak, dari Field Museum.

Baca juga: Caihong Juji, Dinosaurus Berbulu Pelangi Seperti Burung Kolibri

Dengan menganalisis fitur-fitur pada kerangka fosil, para ahli paleontologi menentukan bahwa Mansourasaurus shahinae lebih erat kaitannya dengan dinosaurus dari Eropa dan Asia dibanding dinosaurus yang ditemukan jauh di selatan Afrika atau di Amerika Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya beberapa dinosaurus dapat bergerak di antara Afrika dan Eropa menjelang detik-detik kepunahannya.

“Dinosaurus-dinosaurus terakhir di Afrika tidak sepenuhnya terisolasi, bertentangan dengan perkiraan beberapa ilmuwan di masa lalu. Mereka masih terhubung ke Eropa,” pungkas Gorscak.