Tes DNA Mampu Temukan Orang Hilang

By , Rabu, 21 Februari 2018 | 12:00 WIB

Indonesia

Tak hanya di Amerika Serikat, ternyata uji DNA untuk menemukan anak hilang juga telah ada di Indonesia sejak beberapa waktu lalu.

Wakil Ketua Laboratorium Forensik Lembaga Eijkman Loa Helena Suryadi mengatakan, DNA orang tua bisa digunakan untuk mencocokkan dengan DNA anak-anak yang ditemukan dalam kasus perdagangan anak.

"Barangkali ketika ada penangkapan kasus perdagangan anak, salah satunya ada anak hilang yang dicari. Kita tinggal cek dengan DNA," ujar Helena di Gedung Lembaga Eijkman, Jakarta kepada Kompas.com, Kamis (19/3/2015).

Helena mengatakan, program ini dinamakan DNA Prokids yang sudah ada di Indonesia sejak 2010. Tes DNA dilakukan gratis baik terhadap anak-anak maupun ibu yang kehilangan anaknya. DNA Prokids pun sudah dilakukan di 15 negara di dunia.

Sejarah

Penggunaan tes DNA untuk pencarian orang ini sendiri sebenarnya dipelopori oleh Kantor Pemeriksa Medis Kota New York, tempat Sampson bekerja saat ini. Cara ini pertama kali sejak peristiwa 9/11.

Saat itu, teknik ini berguna untuk mengidentifikasi puluhan ribu sisa-sisa menusia yang ditemukan di reruntuhan World Trade Center.

Sekarang, program pencarian orang dengan menggunakan DNA terus dikembangkan. Salah satunya, dengan mengambil sampel DNA dari fragmen tulang.

Hal tersebut dilakukan karena hingga saat ini, tes DNA hanya menggunakan sampel yang berasal dari darah atau air liur. Padahal, kedua sampel tersebut sangat mudah hancur karena proses uji coba.

Teknologi genetika terbaru memungkinkan beberapa sel direproduksi untuk DNA yang dapat diidentifikasi tak terbatas.

Caranya, bahan genetik yang telah dihancurkan kemudian diputar dalam mesih pemisah dengan putaran. Selanjutnya dihasilkan cairan bening yang dituangkan ke dalam tabung reaksi pada jalur perakitan robot.