Pro Kontra Larangan Gurita, Kepiting, dan Lobster Digoreng Hidup-Hidup

By Ricky Jenihansen, Senin, 28 Maret 2022 | 16:00 WIB
Seorang vlogger mencoba memakan gurita hidup-hidup. ( Kuaishou)

Nationalgeographic.co.id—Inggris saat ini sedang mempertimbangkan amandemen undang-undang kesejahteraan hewan. Jika disetujui, maka hewan invertebrata seperti gurita, kepiting, dan lobster akan masuk ke dalam daftar makhluk hidup yang harus diberi perlindungan. Rencana tersebut kemudian menimbulkan pro kontra.

Jika Anda berkunjung ke restoran makanan laut, maka Anda akan melihat bahwa merebus atau menggoreng gurita, kepiting dan lobster hidup-hidup adalah hal yang biasa. Sebagian besar negara tidak mengakui invertebrata, seperti gurita, kepiting, lobster dan udang karang, sebagai makhluk hidup yang dapat merasakan sakit dan memiliki emosi.

Gurita memang dapat memecahkan teka-teki kompleks dan menunjukkan preferensi untuk individu yang berbeda. Tapi apakah mereka, dan hewan lain serta invertebrata, memiliki emosi sedang diperdebatkan dengan hangat dan dapat mengguncang pengambilan keputusan moral manusia, kata seorang pakar pikiran hewan dari York University.

Sebuah laporan London School of Economics (LSE) yang ditugaskan oleh pemerintah Inggris menemukan ada bukti yang cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa krustasea dekapoda dan moluska cephalopoda adalah makhluk hidup," kata Profesor York University dan filsuf Kristin Andrews, Ketua Riset York di Animal Minds, yang bekerja dengan tim LSE dalam rilis media.

Andrews merupakan rekan penulis studi yang diterbitkan baru-baru ini di jurnal Science dengan judul "Do octopuses, squid and crabs have emotions?" bersama dengan Profesor Frans de Waal, direktur Living Links Center di Emory University, yang membahas masalah etika dan kebijakan seputar hewan yang dianggap makhluk hidup.

Ilmuwan memperdebatkan apakah gurita, kepiting, cumi-cumi dan lobster memiliki emosi dan merasakan sakit. (Nick Kilvert)

Andrews menunjukkan bahwa dalam budaya Barat telah lama dipikirkan bahwa hewan lain tidak merasakan sakit atau memiliki emosi. "Merupakan perjuangan nyata bahkan untuk mendapatkan ikan dan mamalia diakui di bawah undang-undang kesejahteraan sebagai makhluk hidup. Jadi, cukup mutakhir apa yang tampaknya terjadi di Inggris dengan invertebrata," katanya.

Bayi manusia pra-verbal dianggap tidak merasakan sakit sampai setidaknya tahun 1980-an. Banyak orang masih menganggap bahwa hewan, termasuk invertebrata, tidak merasakan sakit dan hanya memiliki reaksi bawah sadar terhadap rangsangan negatif. Namun, penelitian pada mamalia, ikan, gurita, dan pada tingkat lebih rendah seperti kepiting, telah menunjukkan bahwa mereka menghindari rasa sakit dan lokasi berbahaya. Selain ada juga tanda-tanda empati pada beberapa hewan, seperti sapi, mereka menjadi tertekan saat melihat anak sapi mereka digigit kesakitan.

  

Baca Juga: Bagaimana Ilmuwan Tahu Gurita, Kepiting, Lobster Bisa Merasakan Sakit?

Baca Juga: Akhirnya Gurita Dinyatakan Sebagai Binatang, Selama Ini Dianggap Apa ?

Baca Juga: Kuliner Ekstrem: Bulu Babi hingga Gurita yang Dimakan Hidup-Hidup