Tulang Rahang Korban Bom Hiroshima Ungkap Paparan Radiasi yang Tinggi

By Gita Laras Widyaningrum, Jumat, 4 Mei 2018 | 11:06 WIB
Tulang rahang milik korban bom Hiroshima (Sergio Mascarenhas)

Para ilmuwan telah menghitung seberapa banyak radiasi yang terpapar pada korban bom Hiroshima menggunakan jaringan dari salah satu korban, untuk pertama kalinya.

Studi ini memberikan pandangan baru mengenai pengaruh bom atom yang dijatuhkan di Hisroshima pada 1945 lalu. Ribuan orang meninggal di tempat akibat ledakan tersebut, sementara warga lainnya menderita penyakit yang disebabkan oleh radiasi hingga berbulan-bulan kemudian.  

Menggunakan teknik yang didesain untuk penanggalan fosil dan artefak arkeologi, para peneliti menganalisis fragmen tulang rahang milik salah satu korban bom Hiroshima. Tulang tersebut mengungkap adanya tingkat radiasi hampir dua kali lipat dari dosis fatal.

Baca juga: Arkeolog Temukan Kerangka Korban Pembantaian Massal Dari Abad Ke-5

Penelitian ini bergantung pada teknik yang dikenal dengan nama spektroskopi resonansi spin elektron (spektroskopi ESR) – digunakan untuk mengukur dosis radiasi korban Hiroshima yang terpapar pada 73 tahun lalu.

Hasilnya menunjukkan, dosis radiasi pada tulang rahang korban Hiroshima mencapai 9,46 gray (Gy). Menurut tim peneliti, itu jumlah yang sangat tinggi.

“Setengah dari dosis tersebut, 5 Gy saja sudah sangat fatal,” ujar Oswaldo Baffa, profesor di University of São Paulo's Ribeirão Preto School of Philosophy, Science & Letters (FFCLRP-USP), yang mengawasi studi tersebut.

Perjalanan panjang

Penelitian terbaru ini dilakukan berdasarkan studi sebelumnya pada 1980 yang dipimpin oleh Sérgio Mascarenhas, fisikawan sekaligus profesor di University of São Paulo (USP).

Pada dekade sebelumnya, Mascarenhas menemukan fakta bahwa iradiasi sinar X dan gamma, menginduksi suatu fenomena yang dikenal sebagai paramegnetisme dalam tulang manusia – membuatnya lemah terhadap magnet.

Proses tersebut menyebabkan sampel tulang kehilangan elektron sehingga dapat menunjukkan seberapa banyak radiasi yang mereka terima.

Setelah menentukan tanggal arkeologisnya, Mascarenhas menguji sampel tulang yang ditemukan di Hiroshima University untuk mengukur radiasi.  Secara eksperimental, metode tersebut dianggap berhasil.