Laba-laba Jantan Lari Setelah Kawin Agar Tidak Dimakan Betina

By Afkar Aristoteles Mukhaer, Rabu, 27 April 2022 | 09:00 WIB
Sepasang laba-laba yang sedang kawin. Laba-laba jantan yang berukuran lebih kecil dari gambar ini, akan melontarkan tubuhnya demi menyelamatkan diri menjadi makanan betina setelah berhubungan seksual. ( Shichang Zhang et al./ Hubei University in Wuhan)

Nationalgeographic.co.id—Setelah melakukan hubungan seksual, laba-laba jantan sangat berisiko dimakan betina. Bukan tanpa alasan, para ilmuwan memperkirakan kanibalisme ini bertujuan agar keturunan yang dihasilkan betina bisa menjadi lebih tangguh.

Alasan lain, laba-laba betina memakan pasangan seksnya setelah kawin mungkin karena jantan lebih kecil dan mudah ditangkap daripada mangsa lainnya. Sehingga, saat mulai kawin, laba-laba jantan akan mendekati betina dengan hati-hati.

Namun, pengamatan terbaru mendapati laba-laba (Philoponella prominens) jantan berhasil mengembangkan pelarian cerdas. Setelah melakukan hubungan seksual, mereka meluncurkan tubuh mereka ke udara, seperti batu yang dilontarkan ketapel besar dalam pertempuran untuk menghancurkan tembok pertahanan.

Laporan pengamatan itu diterbitkan di jurnal Current Biology, Senin 25 April 2022. Makalah itu berjudul Male spiders avoid sexual cannibalism with a catapult mechanism, yang penulis utamanya adalah ahli ekologi Shichang Zhang di Hubei University in Wuhan, Tiongkok.

Amatan itu didapatinya bersama tim di lab. Hal itu membuat mereka terkejut. "Gerakan super cepat biasanya digunakan oleh hewan untuk melarikan diri dari pemangsa atau menangkap mangsa, bukan melawan pasangan seksualnya," terang Zhang pada National Geographic.

Semua laba-laba jantan yang melompat dari betina setelah kawin selamat. Para peneliti mengamati lewat kamera berkecepatan tinggi, mendapati rata-rata 175 putaran per detik dalam manuver untuk menyelamatkan diri.

Laba-laba jantan dilengkapi dengan pelengkap yang diseput pedipalps untuk mengirimkan sperma ke lubang kelamin betina. Setelah mengeluarkan sperma, mereka langsung melompat jauh.

Hasil penelitian ini "memberikan bukti kuat bahwa perilaku yang menarik ini adalah adaptasi seksual," kata Greta Binford, seorang ahli arachnologi di Lewsi & Clark College di Oregon, AS, yang tidak terlibat dalam penelitian ini. "Saya tidak tahu penelitian lain yang menunjukkan itu."

Zhang dan tim, untuk mengamati fenomena ini dari dekat, mengumpulkan laba-laba muda dari taman terdekat dan membesarkan mereka secara terpisah di laboratorium.

Mereka kemudian menempatkan satu jantan yang belum kawin ke dalam jaring satu betina yang juga belum kawin, kemudian merekam interkasinya. Tim juga memberikan makanan kepada si betina berupa lalat buah, sehingga rasa lapar tidak memengaruhi cara dia memperlakukan si jantan.

Percobaan itu diulangi pada 180 pasang laba-laba, dan mendapati ada 155 aktivitas kawin yang berhasil terekam. 152 kasus perkawinan yang terekam, para pejantan berhasil membuahi betina, kemudian melepaskan diri dari bahaya dan selamat. Sisanya, tiga pejantan itu tidak melompat di waktu yang tepat, sehingga dia menjadi makan malam bagi betina yang dibuahinya.

Untuk mencari kunci yang membuat para jantan bisa melompat, para peneliti membuat serangkaian eksperimen terpisah. Zhang dan tim menguji efek memodifikasi cara laba-laba jantan untuk melepaskan diri dengan cara yang berbeda, seperti melepas sepasang kaki depan.