Meski Lama Menjajah, Mengapa Bahasa Belanda Tetap Tak Dikenal?

By Galih Pranata, Selasa, 3 Mei 2022 | 08:00 WIB
Guru dan murid-murid sekolah di Ambon, Hindia Belanda, sekitar 1900. (KITLV)

Baca Juga: Abdoel Rivai, Jurnalis Hindia Berbahasa Melayu di Negeri Belanda

      

Maklum saja, para Indo dibesarkan oleh ibu-ibu mereka yang kebanyakan berasal dari Jawa. Mereka pun lebih mengenal bahasa Melayu ketimbang bahasa Belanda.

Memasuki 1850, para anak bangsawan hingga priayi Jawa yang menyandang kelas elit sosial, bisa mengenyam pendidikan berbahasa Belanda lewat Sekolah Dasar rintisan Europese Largere School (ELS).

Meskipun demikian, dari 3.500 murid yang dapat bersekolah di ELS, hanya 50 murid saja yang merupakan kaum elit pribumi. Sepertinya, pemerintah Belanda memandang sebegitu berartinya bahasa Belanda bagi kaum pribumi, sehingga mereka membatasi bahasa Belanda agar tidak dipahami apalagi dikuasai oleh kaum pribumi.

Potret pembelajaran sekolah katholik di Jawa sekitar abad ke-20. (Tropenmuseum/Wikimedia)

Dalam roman Bumi Manusia yang digubah Pramoedya Ananta Toer, dilukiskan juga bahwa orang-orang Belanda tak mau bahasanya digunakan oleh kaum pribumi, dan memilih untuk berbahasa Melayu jika harus berbicara dengan pribumi.

Kees Groeneboer mencatat, ketika memasuki 1900-an, hanya 5.000 penduduk pribumi yang menguasai bahasa Belanda. Hal ini setara dengan 1:8.000 penduduk saja yang mampu menguasainya.

Berbeda setelah memasuki abad ke-20, pemerintah Belanda mulai gencar mengenalkan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan Eropa untuk pribumi.

Bahasa Belanda mulai banyak digunakan dalam kurikulum pendidikan pribumi. Namun, pascakekalahan perang atas Jepang pada 1942, dominasi bahasa Belanda mulai tersisih berganti menjadi bahasa Jepang. Begitupun zaman awal kemerdekaan, bahasa Belanda semakin dilupakan.