Studi Baru Ungkap Hubungan Molekuler antara Olahraga dan Nafsu Makan

By Utomo Priyambodo, Rabu, 22 Juni 2022 | 14:00 WIB
Seorang wanita sedang berdiri didepan kulkas. (Lutfi Fauziah)

Nationalgeographic.co.id—Olahraga secara teratur telah terbukti bermanfaat bagi tubuh kita. Paling tidak dalam melindungi kita dari obesitas.

Namun, para ilmuwan tetap penasaran dan terus meneliti secara lebih dekat mengapa olahraga teratur bisa mencegah obesitas pada tingkat molekuler. Dalam sebuah studi baru, para ilmuwan menempatkan tikus-tikus pada latihan treadmill yang intens dan menganalisis bagaimana bahan kimia dalam sel-sel hewan-hewan itu kemudian mulai berubah dari waktu ke waktu.

Mereka menemukan penampakan metabolit yang disebut Lac-Phe (N-lactoyl-phenylalanine). Metabolit ini disintesis dari laktat dan fenilalanin.

Fenilalanin adalah asam amino yang bergabung untuk membuat protein. Adapun laktat adalah asam yang diproduksi oleh tubuh setelah olahraga berat.

Para peneliti dalam studi baru ini berpikir mereka telah menemukan jalur biologis penting yang dibuka oleh olahraga. Jalur yang terbuka ini kemudian berdampak pada bagian tubuh lainnya, khususnya dalam tingkat nafsu makan dan jumlah makanan yang dikonsumsi.

Tes lebih lanjut mengkonfirmasi hasil ini. Para peneliti memberikan Lac-Phe dosis tinggi kepada tikus-tikus yang menjalani diet tinggi lemak, sehingga tikus-tikus tersebut makan sekitar setengahnya selama 12 jam berikutnya dibandingkan dengan sekelompok tikus kontrol. Sementara itu, pergerakan dan pengeluaran energi hewan-hewan pengerat itu tetap tidak berubah.

Selama periode 10 hari, dosis Lac-Phe menyebabkan penurunan asupan makanan, penurunan berat badan, dan peningkatan toleransi glukosa pada tikus-tikus itu. Itu adalah hasil positif karena saat ini banyak orang sedang memikirkan cara untuk memerangi obesitas dan penyakit terkait obesitas.

Meski demikian, tetap ada beberapa peringatan yang mesti kita perhatikan mengenai penggunaan dosis Lac-Phe ini. Perbedaan penekanan nafsu makan yang disebabkan oleh Lac-Phe hanya terlihat setelah berolahraga dan pada tikus-tikus yang diet tinggi lemak. Efek yang sama tidak terlihat pada tikus-tikus yang lebih banyak duduk.

   

Baca Juga: Mengapa Kita Merasa Pusing Saat Sedang Lapar? Ini Penjelasannya

Baca Juga: Mengapa Stres Bisa Memengaruhi Nafsu Makan Kita?

Baca Juga: Apakah Anda Sering Merasa Lapar? Berikut Faktor-Faktor Pemicunya

Baca Juga: Hara Hachi Bu, Kebiasaan Warga Okinawa Kendalikan Nafsu Makan Agar Panjang Umur

   

Para ilmuwan juga melihat efek olahraga pada manusia dan kuda pacu. Mereka menemukan peningkatan kadar Lac-Phe juga, terutama pada manusia setelah berlari cepat. Namun apakah kadar Lac-Phe yang tinggi juga akan membuat nafsu makan manusia jadi berkurang belumnya bisa dipastikan. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk melihat apakah hasil pada tikus ini dapat diterjemahkan secara sama sepenuhnya ke dalam kasus manusia.

Dengan menjelaskan lebih banyak tentang respons molekuler terhadap aktivitas fisik, temuan penelitian ini akan membantu di sejumlah bidang penelitian, termasuk perawatan.

"Penelitian di masa depan yang mengungkap mediator molekuler dan seluler hilir tindakan Lac-Phe di otak, dapat memberikan peluang terapeutik baru untuk menangkap manfaat kardiometabolik dari aktivitas fisik untuk kesehatan manusia," tulis para peneliti dalam laporan studi mereka, sebagaimana diberitakan Science Alert.

Laporan hasil penelitian mereka ini telah dipublikasikan di jurnal Nature pada 15 Juni 2022.