Kebiasaan Alexander Hare Mengoleksi Budak Perempuan yang Cantik

By Galih Pranata, Jumat, 16 September 2022 | 14:00 WIB
Film pendek Amerika bergenre komedi, Harem Scarem (1920) menggambarkan seorang laki-laki yang diperankan Billy Jones bersama lima perempuan cantik yang disebutnya harem. (M.H. Cohn Productions/Exhibitors Herald)

Nationalgeographic.co.id—Alexander Hare adalah seorang petualang sejati. Sekunarnya bernama Hippomenes telah menghantarkannya ke berbagai daerah, membantunya menjangkau banyak tempat.

Dalam perjalanannya, Hare bahkan sudah pernah bertemu dengan Thomas Stamford Raffless sebelum menjadi orang terpandang seantero Hindia Belanda. Waktu itu, umur Hare baru 20-an.

Perantauan dan petualangan Hare terangkum dalam buku sejumlah sejarah kecil gubahan Rosihan Anwar berjudul Sejarah Kecil petite histoire Indonesia: Jilid 1 yang diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Buku Kompas pada 2004.

Pekerjaan Hare sebagai klerek (clerk) di perusahaan dagang Inggris di Portugis telah membawanya ke dunia-dunia baru. Tercatat sejak 1807, ia mulai ditempatkan di sejumlah daerah seperti di Malaka, Kalkuta, India hingga di Batavia.

Ketika Inggris mendapatkan posisinya di Nusantara sebagai penguasa interim dalam peralihan kekuasaan sementara dari Belanda menuju Inggris, Hare melancarkan bisnis dagangnya dengan bebas.

Memasuki tahun 1812, ia mendapatkan pekerjaan yang besar sebagai Resident-Commissioner di Banjarmasin—di samping kegiatannya berdagang. Jabatan yang diterima Hare, mengenalkannya pada dunia perbudakan dan pergundikan.

"Hare memperoleh dari sultan yang memerintah di Kalimantan Selatan, sebanyak kurang lebih 200 orang budak (slaves) untuk membantunya membuka daerah yang berada di bawah wewenang kekuasaan Residen Alexander Hare," tulis Rosihan dalam bukunya.

Sekurang-kurangnya 200 budak, mata dan minat Hare selalu tertuju pada budak-budak perempuan sultan yang diserahkan padanya. Terdapat banyak budak perempuan yang berasal dari berbagai macam daerah di Nusantara.

Akibat kesukaannya melihat keragaman etnik dari para budak perempuannya, mereka dijadikannya gundik bagi Hare. Para gundik atau nyai itu diperintahkan untuk melayani hasrat seksual dan hajat hidup Hare selama di Kalimantan.

Sifatnya yang gemar mengoleksi budak-budak perempuan sebagai istri piaraan atau gundiknya, membuatnya disebut sebagai "laki-laki yang gemar mengoleksi perempuan."

Ketika pemerintahan interim Inggris berakhir di Nusantara, Belanda kembali menempatkan posisinya semula. Inggris terdesak dan terpaksa keluar dari kuasanya atas Nusantara. Hare akhirnya kehilangan jabatannya juga di Kalimantan.

Penggambaran praktik harem dalam Kesultanan Utsmaniyah. (Fabio Fabbi)

Ia memutuskan pindah dari Kalimantan menuju ke Jawa. Menariknya, Hare berangkat tak sendirian. Ia membawa sejumlah mooie slavinnen atau budak perempuan pilihannya yang cantik-cantik—koleksinya yang berharga, barangkali.

Hare membawa semua harta berharganya ke Batavia, termasuk dengan kantung-kantung emas yang ia dapatkan dari sultan di Kalimantan dan jerih payahnya sebagai Residen di sana.

Akibat ekses-ekses seksualnya yang mengganggu, Hare akhirnya diusir oleh pemerintahan Belanda di Batavia pada bulan Maret 1819. Setelahnya, ia terus berpindah-pindah tempat dari Lombok ke Bengkulu kemudian ke Afrika Selatan.

Baca Juga: Gundik dan Ancaman Moral Akibat Percampuran Darah Jawa-Belanda

Baca Juga: Menyelisik Kehidupan Sosialita Para Nyonya Eropa di Hindia Belanda

Baca Juga: Kisah Cabul Berujung Maut Fientje de Feniks, Pelacur Batavia

  

Setibanya di Afrika Selatan, Hare membuka usaha pertanian di Kaapstad. Di sana, ia sering mengunjungi pasar untuk membeli gadis-gadis Afrika dari etnik Zulu, Basuto-Ovombo. Ia gemar sekali mengoleksi bermacam perempuan.

Hobinya memancing reaksi ketidaksenangan para pendeta di Gereja Gereformeerd dan mendesak penguasa setempat untuk sesegera mungkin mengusir Hare. Pada 1826, Hare resmi meninggalkan Afrika Selatan.

Hare yang punya hobi mengoleksi perempuan, punya banyak macam etnik yang telah ia kumpulkan. Ada perempuan Bugis Moskina, Sarinten Jogolan dari Sunda, Basuto dari Afrika Selatan, Nyo An dari Kanton (Cina), hingga budak perempuan Dishta dari India.

Dari sinilah istilah harem lahir, dari sebuah aktivitas kolektif para sultan dan raja di Timur Tengah dalam mengoleksi perempuan-perempuan yang dijadikannya selir atau istri piaraan. "Hare menginspirasi kebiasaannya," pungkasnya.