Misi Narawandira dalam Seni Lukis Botani, Memuliakan Ragam Puspa Keraton Yogyakarta 

By Mahandis Yoanata Thamrin, Senin, 27 Maret 2023 | 18:54 WIB
Pameran bertajuk 'Narawandira: Keraton, Alam, dan Kontinuitas' digelar di Kedhaton Keraton Yogyakarta. Pada kesempatan ini Keraton Yogyakarta menggandeng Indonesian Society of Botanical Artists (IDSBA) yang menampilkan keindahan seni lukis botani ragam puspa Keraton Yogyakarta. (IDSBA)

 

Nationalgeographic.co.id—Sejauh mana leluhur Kota Yogyakarta memuliakan ragam puspa? Kita bisa memulainya dari Jalan Malioboro dengan petak-petak pecinannya yang menjadi tengara jantung keramaian kota. Seruas jalan yang kian memikat bagi para pelawat.

Ruas jalan utama ini seolah membelah gelumat jantung kota. Keberadaannya sekaligus menjadi bagian sumbu filosofis yang menautkan Gunung Merapi, Keraton, dan Laut Selatan.

Wajah Malioboro memang telah banyak berubah dibandingkan suasana foto-foto awal abad ke-20 yang menampilkan pohon-pohon asam di sepanjang tepiannya.

Peter Carey menyelisik asal-usul toponimi ini dalam "Jalan Maliabara ('Garland Bearing Street'): The Etymology and Historical Origins of a much Misunderstood Yogyakarta Street Name" yang terbit dalam jurnal  Archipel, Volume 27, 1984. Seruas jalan ini berasal dari bahasa Sanksekerta, yakni malyabhara, demikian menurut Carey. Maknanya, untaian bunga-bunga atau karangan bunga.

Bolehlah kita memaknai ulang Jalan Malioboro secara sastrawi sebagai jalan sang raja yang berhias untaian bunga-bunga. Begitu mulia dan indah untuk sebuah nama jalan.

Kita kerap menautkan ragam puspa dengan keindahan karena tetumbuhan memiliki keunikan dan kecantikan, atau manfaat pengobatan nan istimewa. Di Yogyakarta, baik di dalam maupun di luar baluwarti Keraton, kita masih menjumpai sederet toponimi yang memuliakan nama tumbuhan.

Pameran Temporer 'NARAWANDIRA: Keraton, Alam, dan Kontinuitas'. Nara berarti manusia; pemimpin, sedangkan wandira berarti pohon beringin; pohon hayat; pohon yang menghubungkan ketiga dunia. Narawandira menitikberatkan pada peran manusia dalam menjaga kelestarian kontinuitas alam hari ini. (Keraton Yogyakarta)

Sejak awal pembangunan Keraton Yogyakarta, sang pendirinya telah memiliki prinsip dalam membangun kota untuk memperindah, menjaga, dan merawat kelestarian alam seisinya, atau dalam ungkapan Jawa sebagai memayu hayuning bawana

Pangeran Mangkubumi, sang pendiri yang bertakhta sebagai Sultan Hamengkubuwana I, meresapi ungkapan filosofis ini sebagai dasar dalam membangun kota dan sesisinya. Demikianlah, kota ini telah dibangun dengan perencanaan yang memuliakan keindahan, keselarasan, dan kelestarian alam.

"Diskursus mengenai pelestarian alam secara terus-menerus dilontarkan sebagai isu di tengah kemajuan zaman," ujar Gusti Kanjeng Ratu Bendara selaku Penghageng KHP Nityabudaya. "Berbagai upaya dalam sektor formal dan swasta terus digencar untuk memberi solusi bagi Bumi yang makin rentan. Perihal ini menjadi perhatian pula bagi keraton, dalam membaca perubahan zaman."

Seni botani bertajuk Beringin (Ficus benjamina) karya Icka Gavrilla. Pohon ini yang menjadi salah satu tanaman dalam sumbu filosofi Yogyakarta—Gunung Merapi, Keraton, dan Laut Selatan. Beringin yang rindang melambangkan pengayoman raja kepada rakyatnya. (Icka Gavrilla/IDSBA)

Pernyataan itu ia sampaikan dalam pembukaan pameran bertajuk "Narawandira: Keraton, Alam, dan Kontinuitas" di Kagungan Dalem Bangsal Srimanganti. Lokasi pameran digelar pada 5 Maret 2023 sampai 27 Agustus 2023 di Kedhaton Keraton Yogyakarta. Pada pameran ini Keraton Yogyakarta menggandeng Indonesian Society of Botanical Artists (IDSBA) yang menampilkan keindahan seni lukis botani ragam puspa Keraton Yogyakarta.

Pameran Narawandira merupakan bagian acara peringatan jumenengan atau naik takhta Sri Sultan Hamengkubawana X. Pada 7 Maret 2023, berdasarkan hitungan tahun Masehi, Sri Sultan bersama Gusti Kanjeng Ratu Hemas genap bertakhta selama 34 tahun. Apabila berdasarkan hitungan tahun Jawa, Sri Sultan genap bertakhta selama 35 tahun pada 20 Februari 2023, atau 29 Rajab Tahun Ehe 1956.

"Nara berarti manusia, wandira berarti beringin," ungkap GKR Bendara. "Beringin sering menjadi representasi dari seorang pemimpin, sebab memiliki keistimewaan yaitu kuat dan kokoh, mudah beradaptasi, menjadi pengayom dan penopang, dapat memberi manfaat dan terus bertumbuh. Nah, pameran kali ini kami ingin memberi potret dari peran manusia sebagai tokoh utama dalam pelestarian alam.” Dia berharap pameran ini menjadi langkah untuk mengajak masyarakat dalam mengambil peran pelestarian alam dengan lebih nyata. 

Eunike Nugroho, salah satu pendiri IDSBA, memaparkan keterlibatan komunitasnya kepada National Geographic Indonesia. Sebanyak 32 karya dari 26 seniman IDSBA yang dipamerkan dalam Narawandira.

"Berpameran bersama Keraton Yogya juga membuat saya dan banyak anggota IDSBA belajar tentang sisi budaya dan sejarah dari tumbuhan yang kami garap," kata Eunike. "Selain itu, mengunjungi Keraton dan mengikuti acara pembukaan yang menampilkan pertunjukan wayang orang dan gamelan juga memberikan pengalaman yang sangat mengesankan." 

Seni lukis/ilustrasi botani merupakan sebuah genre seni lukis yang memadukan antara botani (sains) dan seni (lukis). Biasanya seorang seniman botani mempelajari dan mengamati tumbuhan yang dijadikan subjek karyanya dengan tekun dan cermat terlebih dahulu sebelum akhirnya melukis.

Sejatinya pameran Narawandira mewujudkan impian Eunike dan komunitasnya. Pameran ini tidak hanya menampilkan lukisan botani, tetapi juga tumbuhan yang sebenarnya, awetan, produk dari tumbuhan, hingga infografis yang menarik untuk pengunjung awam.

"Salut untuk tim Keraton yang melakukan riset, mengembangkan tema, dan mewujudkan pameran yang komprehensif ini," ujarnya. "Hasilnya sangat istimewa dan memberikan pengalaman menarik serta pengetahuan tentang tumbuhan yang lengkap dan mudah dipahami."

Di Indonesia, seni lukis botani masih cukup baru jika dibandingkan dengan negara maju. Bahkan, hingga kini, pendidikan mengenai seni botani belum diajarkan dalam pendidikan formal. Para seniman masih berjumlah sedikit, umumnya mereka belajar secara otodidak.

Di Keraton Yogyakarta, sawo Kecik (Manilkara kauki) memiliki makna filosofi 'sarwo becik' atau serba dalam kebaikan. (Eunike Nugroho/IDSBA)

Misi IDSBA dalam pameran ini adalah, Eunike melanjutkan, memperkenalkan seni botani dan keragaman flora Indonesia dan memberikan kesempatan bagi anggota untuk mengaktualisasikan diri, sekaligus membuka peluang kerja sama untuk memasyarakatkan seni botani.

"Kami juga ingin menunjukkan bahwa IDSBA terbuka untuk beragam kolaborasi dan kerja sama, serta berharap semakin banyak pameran yang memberikan masyarakat paparan tentang seni botani dan kekayaan flora Indonesia."

Dalam pembukaan pameran itu GKR Bendara mengungkapkan bahwa pada 1756 leluhurnya mengubah hutan beringin menjadi lahan pertanian untuk membangun peradaban baru di Yogyakarta.

"Perubahan hutan menjadi ruang agraris dan ladang-ladang perkebunan pun dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sektor pemerintahan," ujarnya.

(Keraton Yogyakarta)

Ia juga berkisah tentang pembangunan taman dan pesanggrahan semasa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana II yang takhta pertamanya pada periode 1792-1812.

Sultan Kedua dikenal sebagai raja yang membangun banyak pesanggrahan dan taman, setidaknya terdapat 13 situs, salah satunya Taman Sari.

"Taman Sari menjadi potret pesanggrahan yang memukau," ujarnya. "Di taman tersebut ditanami vegetasi khusus seperti kenanga, lada, pinang, kemukus, sirih, manggis, duku, rambutan, hingga durian. Taman ini juga disebut kebun dapur dan taman bunga pada masanya."

Pekarangan Taman Sari juga ditanami pohon-pohon kepel, yang bernama ilmiah Stelechocarpus burahol. Kabarnya, putri-putri keraton menyantap buah kepel untuk mengharumkan aroma keringat tubuh, bahkan mengurangi bau air seni. Kecantikan paripurna putri-putri keraton.

Ragam puspa juga telah menginspirasi beberapa toponimi di dalam tembok keraton, seperti Kampung Ngasem yang berkait pohon asem, Kampung Sawojajar yang berkait pohon sawo, atau Kemandungan Lor yang kerap dijuluki 'Plataran Keben' karena ditumbuhi banyak pohon keben.

Tanaman dan makna simbolisnya

Selain untuk menciptakan ruang terbuka dan taman nan asri, ragam puspa di Keraton Yogyakarta juga memiliki peran sebagai media pesan makna kehidupan dalam bingkai sumbu filosofis kota.

"Perihal terpenting dalam membaca vegetasi di keraton adalah menempatkannya dalam ruang-ruang khusus," ujar GKR Bendara. "Dalam sumbu filosofi, Pangeran Mangkubumi memilih vegetasi khusus untuk mendukung falsafah sangkan paraning dumadi"—awal dan akhir penciptaan manusia atau alam semesta.

Dia memberikan contoh beberapa tanaman menjadi vegetasi yang mengisi sumbu filosofi seperti pohon tanjung, asem, gayam, pelem, dan beringin. Pohon beringin (Ficus benjamina) ditanam di kawasan Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan, jumlahnya mencapai puluhan. Bahkan beberapa pohon beringin itu memiliki nama. Beringin yang rindang dan kokoh memiliki simbol raja yang mengayomi rakyatnya.

 

Melati (Jasminum sambac) memiliki simbol sebagai 'kedaling lathi' yang berarti ucapan yang diungkapkan dengan lidah penuh ketulusan. (Yuliana Susi/IDSBA)

Pohon tanjung (Mimusops elengi) dan pohon asam jawa (Tamarindus indica) ditanam sepanjang jalan antara Alun-alun Selatan sampai Panggung Krapyak. Bagi orang Jawa, pohon tanjung memiliki makna filosofis bahwa anak kecil membutuhkan 'sanjungan', sedangkan pohon asam—atau orang Jawa menyebutnya asem—melambangkan rasa 'sengsem' atau 'menyenangkan'. Moral ceritanya, masa kanak-kanak merupakan masa yang menyenangkan dan orang tua perlu untuk mendukung atau menyanjungnya.

Keraton memelihara vegetasi historis dan filosofis seperti asem, tanjung, gayam, beringin, kepel, hingga belimbing wuluh yang begitu dekat dengan kosmis masyarakat Jawa. "Hari ini Keraton tidak sekadar berbagi warisan vegetasi bernilai historis maupun filosofis," ungkap GKR Bendara. "Keraton pun mengambil peran melestarikan vegetasi dan menjaga vegetasinya agar tidak punah."

Ia menambahkan bahwa Keraton Yogyakarta secara berkelanjutan memproduksi pemanfaatan vegetasi dalam upacara-upacara hajat dalem. Bahkan, dalam dapur-dapur keraton yang menyajikan menu-menu makanan Sultan, para peracik menggunakan rempah dan rimpang.

Cabe Jawa (Piper retrofracfum). Sebelum kedatangan cabai yang dibawa orang-orang Portugal, tumbuhan inilah yang disebut 'cabe' bagi orang Jawa. Sementara itu orang Jawa menyebut cabai (Capsicum spp.) sebagai 'lombok'. (Youfeta Devy/IDSBA)
 

Tanaman dan tata pemerintahan

Sri Sultan Hamengkubawana X dalam sambutan pembukaan pameran Narawandira memaparkan prinsip pelestarian leluhur Jawa yang menekankan pada aspek "tahu" dan "mengenali" alam.

Menurutnya, alam dan manusia memiliki hubungan integral yang saling mengikat dan tarik-menarik, sehingga selaras dengan filosofi hamemayu hayuning bawana—memperindah, menjaga, dan merawat kelestarian alam seisinya.

"Budaya Jawa kerap merefleksikan hubungan dengan alam sebagai sebuah kasualitas. Alam menjadi jawaban dari kebutuhan manusia dari wruh lan wanuh marang pertiwi. Di sisi lain alam sebagai bagian dari makrokosmos menghadirkan kerap memberi kejutan-kejutan bagi mereka yang acuh, tidak pernah asuh kepada buminya," ucap Sri Sultan.

Pada kesempatan itu Sri Sultan juga mengisahkan pengaruh tanaman padi dan tebu terhadap perjalanan pemerintahan Keraton Yogyakarta. Setelah pemulihan pasca-Perang Giyanti, beberapa dekade kemudian "penduduk berhasil menyulap lahan-lahan mereka menjadi tanah gemah ripah loh jinawi, thukul kang sarwo tinandur"—tanah subur ramai semarak, segala yang ditanam tumbuh.

Baca Juga: Seni Botani 'Flora of Southeast Asia' Memuliakan Kekayaan Ragam Puspa Asia Tenggara

Baca Juga: Ragam Flora Indonesia-3: Drama Tumbuhan dalam Napas Baru Seni Rupa Kini

Baca Juga: Telusur Riwayat Perkembangan Seni Ilustrasi Botani di Indonesia

Baca Juga: Kelindan Seni dan Sains dalam Mukjizat Kebinekaan Flora Indonesia

Setelah pembukaan hutan untuk pencetakan sawah dan kebun, tanaman tebu mulai merambahi Vorstenlanden pada abad ke-19, khususnya Yogyakarta. Sri Sultan melanjutkan kisahnya, pabrik gula pertama tercatat didirikan oleh orang Tionghoa pada 1835. Pabrik ini mampu menghasilkan 1.000 pikul gula—satu pikulnya setara 61,8 kilogram.

Produksi gula semakin meningkat menjadi 4.000 pikul, bersamaan dengan harga gula yang mulai naik pada 1846. Puncak produksi gula tebu terjadi pada 1866 sebanyak 64.500 pikul!

Berikutnya zaman pembukaan pintu penanaman modal pada 1870, terjadi investasi besar-besaran pada perkebunan swasta melalui pendirian pabrik gula. Bahkan, pada dekade pertama abad ke-20, setidaknya terdapat 17 pabrik gula di kota itu. 

Lukisan botani 'Blimbing Wuluh' (Averrhoa bilimbi) karya Deinitisa Amarawi. Di Keraton Yogyakarta, pohon belimbing wuluh ditanam atas kehendak Sultan. Kita bisa menjumpai pohon-pohon belimbing wuluh di pekarangan belakang Siti Hinggil. (Icka Gavrilla/IDSBA)

"Banyaknya pabrik gula di wilayah ini membuat Kasultanan Yogyakarta menjadi wilayah industri gula terbesar di waktu itu," ujarnya. Sultan Ketujuh juga turut menyewakan tanah-tanah lungguh sebagai lokasi pabrik gula, sekaligus andil dalam menanam modal di pabrik-pabrik gula. 

Menurutnya, Keraton Yogyakarta "tidak sekadar melihat bahwa pertiwi dan seluruh hasilnya dapat dimanfaatkan terus-menerus, tetapi juga mereproduksinya dengan jalan pelestarian adiluhung." Pelestarian yang ia maksudkan itu bukan sekadar melestarikan tanamannya, tetapi juga "kearifan dari alam yang memenuhi ruang sakral dan profan dalam waktu yang bersamaan."

Sri Sultan berupaya mendorong sekaligus mengambil peran untuk menumbuhkan kembali kesadaran masyarakat agar menjaga kelestarian lingkungan. "Menjaga dan merawat keserasian dunia jadi tugas yang semestinya diemban oleh manusia seutuhnya seperti halnya judul pameran Narawandira—manusia yang menjadi agen kontinuitas alam."