Perjuangan dan Pengorbanan Wanita di Balik Sejarah Perang Dunia I

By Galih Pranata, Senin, 3 Juli 2023 | 10:11 WIB
Para pekerja wanita yang mempersiapkan amunisi dalam catatan sejarah Perang Dunia I. Foto ini diambil di Pabrik Amunisi Chilwell, Nottingham sekitar tahun 1917. (Wikimedia Commons)

Nationalgeographic.co.id—Tercatat dalam sejarah Perang Dunia I, sebagian besar pria di Inggris Raya dikirim dan dipersiapkan ke medan pertempuran. Mereka harus meninggalkan kehidupan mereka dengan tanpa jaminan bisa kembali lagi.

Mereka tidak hanya meninggalkan jabatan mereka di pabrik-pabrik yang menjadi sandaran ekonomi bagi keluarganya dan bagi Kerajaan Inggris, tetapi juga meninggalkan istri dan anak-anak mereka tanpa makanan—suatu ironi dari fakta sejarah Perang Dunia I. 

"Perang ini tidak terduga," tulis Andrei Tapalaga kepada History of Yesterday dalam artikel berjudul "The Strong Canary Girls Who Worked to Death During WW1: The lifeline of the British Army" yang terbit pada 17 November 2022.

Kondisi dan kenyataan meletusnya perang mendorong munculnya permintaan besar akan senjata dan amunisi. Setelah perang berlangsung selama sekitar satu tahun dan tentara Sekutu memahami dimensi aslinya, permintaan tugas berat yang sebenarnya datang.

Sebagian besar pabrik di Inggris secara otomatis diubah menjadi pabrik perang (pabrik yang digunakan untuk memproduksi segala perlengkapan perang seperti senjata, amunisi, seragam, dan lain-lain).

Tercatat hampir 10 juta pria di atas usia 18 tahun telah dikirim ke medan perang, hanya ada satu sumber daya manusia yang tersisa untuk dikerahkan: wanita, menggunakan jasa mereka untuk memasok perang ini.

"Wanita pada saat itu tidak terlalu dipekerjakan dalam industri dengan tugas berat, karena kesetaraan gender masih menjadi topik yang tabu saat itu," imbuhnya. 

Banyak sejarawan yang mengkaji sejarah Perang Dunia I berpendapat bahwa kebutuhan mendesak perempuan untuk bekerja di pabrik selama perang, mendorong gerakan persamaan hak perempuan beberapa tahun setelahnya, yakni pada tahun 1928.

Dengan tidak adanya pilihan lain, para wanita harus bekerja keras karena itulah satu-satunya cara mereka dapat mendukung pria mereka di garis depan, serta demi mendapat uang untuk memberi makan anak-anak mereka.

Namun, dalam keseluruhan kisah sejarah Perang Dunia I, ada pekerjaan wanita yang cukup spesifik yang sejatinya tak hanya bekerja dengan tujuan untuk keluarganya, di mana mereka juga memikul tugas berat. 

Sejarah Perang Dunia I mengungkap bahwa para wanita-wanita ini mempertaruhkan nyawa mereka dan berisiko tinggi dengan memproduksi amunisi untuk perang, yang dikenal sebagai peluru howitzer.

Amunisi ini diciptakan dalam berbagai ukuran tergantung pada kaliber yang dibutuhkan, tetapi semuanya diisi dengan bahan peledak yang sama, Trinitrotoluena (umumnya dikenal sebagai TNT).

Paparan radiasi terus-menerus karena bekerja dekat dengan bahan peledak beracun ini, telah mengubah kulit para pekerja wanita ini menjadi warna oranye terang. Inilah mengapa para wanita itu dijuluki dengan sebutan "Canary Girls".

Dua pekerja amunisi wanita berdiri di samping selongsong yang diproduksi di National Shell Filling Factory №6, Chillwell, Nottinghamshire selama Perang Dunia Pertama. (Imperial War Museum)

Para wanita yang bekerja di pabrik-pabrik perang ini dibujuk untuk tetap bekerja dengan tawaran gaji yang tinggi, dua kali lipat dari apa yang diterima pria biasa dengan pekerjaan yang sama-sama mematikannya.

Saat perang terus berkembang, permintaan menjadi semakin tinggi dengan artileri menjadi salah satu senjata utama yang digunakan dalam perang parit. Para wanita ini pada gilirannya memikul kerja yang lebih keras lagi dengan bekerja lebih dari 14 jam sehari.

"Hingga pada tahun 1917, permintaan begitu tinggi sehingga pabrik-pabrik perang bahkan mempekerjakan gadis di bawah umur, yakni yang masih berusia 14 tahun untuk memproduksi amunisi," terusnya.

Semua ini menyebabkan dampak paparan terhadap TNT yang lebih besar lagi. Setelah perang, banyak bayi yang baru lahir dari rahim para Canary Girl dilaporkan lahir dengan pigmen kulit oranye, menunjukkan betapa beracunnya zat tersebut.

Pada usia senjanya, Canary Girl mengeluhkan masalah kesehatan yang telah didiagnosis berasal dari zat beracun yang telah mereka gunakan selama empat tahun. Namun, ada masalah yang lebih besar.

Terjadi insiden besar di Pabrik Pengisian amunisi Nasional No.6, dekat Chilwell. Dilaporkan beberapa bahan peledak ditemukan meledak. Insiden tersebut menyebabkan kematian 130 pekerja wanita.

Dikatakan bahwa selama Perang Dunia I, dua wanita meninggal setiap minggu di pabrik perang karena kecelakaan kerja atau bahkan keracunan bahan kimia. Namun, ironi sepanjang sejarah Perang Dunia I terus berlanjut.

Keracunan bahan kimia dan TNT menjadi masalah umum yang sering disebutkan dalam jurnal medis di awal abad ke-20, utamanya sepanjang sejarah Perang Dunia I.

Secara data empirik, baik para pria yang bekerja dengan senjatanya, maupun wanita yang bekerja untuk amunisi, dilaporkan hanya 24% pekerja saja yang tidak menunjukkan gejala keracunan TNT (berdasarkan tes darah). Selebihnya (76%) dianggap tidak keracunan.

Para wanita ini terbelenggu oleh pemikiran suami mereka yang mengandalkan amunisi dan senjata yang mereka hasilkan. Terlepas dari kondisi kerja yang memprihatinkan, mereka harus tetap bekerja jika ingin suami dan anak laki-laki mereka pulang secepat mungkin.