Samurai Kekaisaran Jepang Punya Mantra Sihir Sebelum Bertempur

By Hanny Nur Fadhilah, Senin, 17 Juli 2023 | 11:00 WIB
Untuk memulai pertempuran, Samurai kekaisaran Jepang percaya pada mantra agar terhindar dari makhluk jahat. (Ancient Pages)

Nationalgeographic.co.id—Dukun, penyihir dan pendeta bukanlah satu-satunya yang bergantung pada mantra dan sihir di dunia kuno. Takhayul memainkan peran utama dalam peperangan dan pertempuran para samurai kekaisaran Jepang.

Dalam buku The Dark Side of Japan: Ancient Black Magic, Folklore, Ritual, peneliti ninja dan sejarawan Antony Cummins menyelidiki tentang dunia samurai. Dia mencoba menyingkap bagaimana dan mengapa Samurai memperhatikan makhluk supernatural, mantra, dewa, dewi, sihir, dan segala hal yang berbau takhayul.

Samurai yang dianggap sebagai pahlawan mengikuti kode bushido, kode tak tertulis berusia berabad-abad untuk prajurit samurai ideal. Tampaknya agak aneh bahwa seorang samurai yang pemberani harus terlibat dalam kepercayaan tentang makhluk gaib. 

Beberapa Samurai Jepang Percaya Pada Makhluk Gaib

Menurut beberapa gulungan arsip sejarah kuno menyatakan bahwa beberapa samurai memang percaya pada makhluk gaib. Bagi mereka, makhluk gaib jahat semacam itu adalah kenyataan. Namun ada gulungan arsip lain yang mengatakan bahwa samurai harus mengabaikan fantasi semacam itu.

Di Jepang kuno, orang-orang percaya bahwa kejahatan dapat dibangkitkan di tempat-tempat yang paling aneh dan setan serta makhluk misterius lainnya bertanggung jawab atas kejadian-kejadian yang tidak menguntungkan.

Yōkai menghantui jembatan dan terowongan, pintu masuk dan mengintai di persimpangan jalan. (Ancient Pages)

Salah satu makhluk tersebut adalah Yōkai, makhluk interdimensi misterius yang tinggal di perbatasan dan di ruang angkasa, yang terletak "di antara".

Juji, Ritual yang Dipraktikkan Untuk Menghilangkan Kejahatan

Samurai percaya akan keberadaan roh baik yang jinak maupun jahat. Dengan berdoa kepada leluhur untuk meminta bantuan dan menggunakan mantra yang berhubungan dengan dewa dan roh, adalah mungkin untuk menangkal kejahatan.

Juji, yang berarti “sepuluh tanda” dipraktikkan oleh prajurit Jepang untuk menghalau kejahatan dan menciptakan kepositifan sebelum mereka memasuki situasi tertentu.

Konsep ritual Juji tersebar luas, baik dalam budaya samurai, kedokteran, dan perdukunan. Mantra Juji diajarkan di sekolah-sekolah samurai dan sihir itu tidak serahasia yang diyakini samurai dan itu sebenarnya sudah ada sebelum samurai.