Manuver Bajak Laut yang Buat Pusing Tiga Kekaisaran di Asia Timur

By Cicilia Nony Ayuningsih Bratajaya, Kamis, 3 Agustus 2023 | 13:00 WIB
Bajak laut telah lama jadi bagian sejarah kekaisaran di Asia Timur. Mereka alami pertempuran sengit. Seperti cerita One Piece yang tak ada habisnya. (Public Domain)

Nationalgeographic.co.id—Bajak laut telah lama menjadi bagian dari sejarah Kekaisaran Jepang, Korea, dan Cina. Tiga kekaisaran Asia Timur ini telah mengalami pertempuran sengit dengan perompak ini. Menjelajah dunia bajak laut di ketiga kekaisaran ini sungguh menakjubkan.

Layaknya mengikuti cerita One Piece seri manga Jepang. Tak heran, One Piece menjadi manga terlaris sepanjang sejarah selama sepuluh tahun berturut-turut.

Wako diterjemahkan sebagai bajak laut kerdil, istilah yang digunakan tidak hanya bagi orang Jepang,  tetapi juga mencakup bajak laut yang berbasis di pantai Korea, Taiwan, dan China. Orang Cina menyebut bajak laut  wokou dan orang Korea waegu.

Bajak laut telah menjarah kapal di seluruh Asia Timur setidaknya sejak abad ke-8 masehi. Wako  mengganggu lautan Asia Timur dari Korea hingga Indonesia. Khususnya antara abad ke-13 dan ke-17 masehi, kehancuran menimpa masyarakat pesisir.

Selain gangguan perdagangan, ribuan orang tak berdosa dijual sebagai budak. Para bajak laut menyebabkan ketegangan yang signifikan dalam hubungan diplomatik antara Kekaisaran Tiongkok, Kekaisaran Korea, dan Kekaisaran Jepang selama periode ini.

Sejarah panjang manuver bajak laut di tiga kekaisaran wilayah Asia Timur (Yu Ninjie)

Jepang memiliki sejarah bajak laut yang panjang, khususnya selama periode Sengoku. Mereka menargetkan wilayah pesisir untuk melakukan aktivitas penyelundupan, merampok kapal dagang, dan bahkan menyerang desa pesisir.

Beberapa bajak laut Jepang yang terkenal seperti Murakami Suigun sering beroperasi bekerja sama dengan armada bajak laut Tiongkok. Murakami Suigun merupakan klan angkatan laut yang sering disebut-sebut sebagai perompak. Klan ini menguasai sebagian dari Setouchi selama berabad-abad.

Memang, para bajak laut sangat merusak reputasi Jepang di mata tetangga Asia Timur mereka pada periode abad pertengahan. Setelah panglima perang Toyotomi Hideyoshi (1582-1598 M) menyatukan pemerintahan Jepang, akhirnya pemerintah cukup kuat untuk menangani momok bajak laut dan mengakhiri teror mereka.

Dilansir dari World History, pangkalan bajak laut yang paling terkenal adalah Pulau Tsushima, yang juga memiliki pelabuhan resmi. Pulau itu berbatu-batu dan bergunung-gunung sehingga penduduk berjuang untuk menyediakan makanan yang cukup untuk diri mereka sendiri.

Sementara penguasa setempat yang feodal memperoleh banyak uang dengan mensponsori para bajak laut yang menyita barang-barang di laut lepas. Pangkalan bajak laut penting lainnya di Jepang berada di Pulau Iki dan Matsura.

Pada puncaknya di abad ke-14 masehi, ratusan kapal bajak laut menyerbu selat antara Korea dan Jepang bagian selatan. Mereka melakukan berkali-kali serangan besar di semenanjung Korea selatan setiap tahun.