Menyingkap Praktik Jual Diri sebagai Budak di Sejarah Romawi Kuno

By Hanny Nur Fadhilah, Selasa, 23 Januari 2024 | 12:00 WIB
Dalam catatan sejarah Romawi kuno, status sosial paling rendah adalah para budak. (Public domain)

Banyak orang, seperti Pliny, rentan terhadap idealisasi. Sayangnya, tidak ada literatur yang masih ada yang ditulis dari sudut pandang seseorang yang benar-benar menjalani kehidupan sebagai budak Romawi.

Prasasti batu nisan, seperti yang akan kita lihat, memberikan beberapa bukti bagus tentang hubungan antara budak, mantan budak, dan mantan majikan. Penggalian arkeologi terhadap wilayah budak juga sangat informatif. 

Dalam catatan sejarah Romawi kuno, status sosial paling rendah adalah para budak. Hukum Romawi menetapkan budak sebagai properti, bukan manusia. (Publik Domain)

Misalnya, sisa-sisa amfiteater—arena tempat para budak gladiator dan tawanan perang bertempur—terbentang dari Inggris kuno hingga Turki. Hal ini menjadi pengingat betapa luasnya praktik perbudakan di Kekaisaran Romawi.

Perbudakan di Roma kuno tunduk pada berbagai undang-undang  sebagian besar dibuat untuk kepentingan tuan, bukan budak. Pemilik budak memiliki kekuasaan hukum atas budaknya, yang pada dasarnya merupakan kekuasaan atas hidup dan mati.

Beberapa budak mencoba melawan perbudakan dan melarikan diri atau menyerang majikan mereka. Hukuman bagi mereka yang tertangkap sangat berat.

Jika seorang budak menyerang atau membunuh majikannya, maka tidak hanya pelakunya tetapi seluruh rumah tangga budak tersebut dapat dieksekusi.