Sejarah Dunia: Potret Anak di Bawah Umur Kerja Kasar Demi Keluarga

By Galih Pranata, Jumat, 9 Februari 2024 | 08:35 WIB
Potret Mary, bocah berusia empat tahun tengah mengupas tiram. (Lewis W.Hine (1911))

Nationalgeographic.co.id—Saat ini, anak-anak berusia empat hingga lima tahun kerap kali terlihat lelah dan berkeringat setelah seharian berlarian di taman bermain. Ya, usia di mana mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain.

Namun lebih dari seratus tahun yang lalu, sejarah dunia mencatat anak-anak di bawah umur bekerja keras di pabrik tekstil dan berkeringat setelah seharian memetik kapas. Pada tahun 1800-an dan awal 1900-an, anak-anak sudah dapat bekerja. 

Anak-anak selalu menjadi bagian dari angkatan kerja. Mereka bekerja di pertanian keluarga, menjual makanan dan barang dengan gerobak di pasar, dan bahkan diperbudak secara mengerikan.

Seiring dengan kemajuan teknologi industri, anak-anak mencari pekerjaan di pabrik dan pertambangan, bekerja di alat berat, menggunakan tubuh kecil mereka untuk mengakses tempat-tempat yang tidak dapat dijangkau oleh orang dewasa.

Dunia usaha mendapat manfaat besar dari para pekerja muda ini. Anak-anak, terutama mereka yang hidup dalam kemiskinan, bekerja dengan upah yang lebih sedikit. Mereka cenderung tidak berorganisasi ke dalam serikat buruh.

Mereka juga tidak akan memprotes kondisi atau tugas kerja. Dan sebagai bonus tambahan, mereka cukup kecil untuk ditempatkan di tempat yang tidak dapat dijangkau oleh orang dewasa atau masuk ke dalam celah kecil pada mesin.

"Mereka berkontribusi terhadap pendapatan rumah tangga dan menjaga keluarganya untuk tetap bertahan," tulis Aimee Heidelberg kepada History Collection dalam artikelnya Sickening Images of Historic Child Labor Conditions, terbitan 29 November 2023. 

Potret pekerja di bawah umur bekerja kasar di pabrik cerutu F. Delloiacono, sebagai ironi catatan sejarah dunia abad ke-19. (Lewis W. Hine (1912))

Sebut saja sebuah keluarga di New York, membuat industri rumahan dengan merakit bunga buatan. Mereka menghasilkan 8 sen sehari. Anak-anak juga ikut membantu, dan di antaranya ada yang baru berusia lima tahun!

Ada pula potret yang diambil oleh fotografer bernama Lewis Hine, tentang anak laki-laki berusia delapan tahun dan anak perempuan berusia sepuluh tahun. Mereka bekerja di antara orang dewasa yang mengupas daun tembakau untuk produksi cerutu.

Ruang kerja mereka penuh sesak dan kotor di toko cerutu F. Delloiacono, tempat mereka mencabut batang daun tembakau. Ruangannya sempit; lebar meja kerjanya menyisakan cukup ruang untuk mengatur kursi jika tidak diletakkan terlalu jauh dari meja. Cerutu dan dedaunan menumpuk tinggi di rak di sepanjang dinding

Ruang kerja mereka juga merupakan ruang tamu dan ruang tidur serta bersebelahan dengan toko tempat cerutu dijual. Ironisnya, tempat kerja anak-anak tersebut, saat ini, adalah sebuah toko vape di Providence, Rhode Island.