Ketika Galaksi Masif Bergabung dan Membentuk Inti Gugus Galaksi

By Citra Anastasia, Kamis, 10 Mei 2018 | 10:00 WIB
Ilustrasi gugus galaksi SPT2349-56, hasil megamerger 14 galaksi tunggal. ()

Penulis: Avivah Yamani / langitselatan.com

Dalam pengamatannya, ALMA dan APEX melihat dua pendar redup yang awalnya diduga sebagai objek tunggal. Ternyata, kedua pendar redup itu merupakan dua kelompok galaksi masif beranggotakan 14 dan 10 galaksi tunggal yang akan membentuk gugus galaksi. Empat belas galaksi tunggal yang dilihat ALMA itu bergabung membentuk gugus galaksi yang diberi nama SPT2349-56.

Cikal bakal gugus galaksi masif

Saat alam semesta masih muda, galaksi-galaksi masif yang bergabung membentuk inti gugus galaksi ini dihuni oleh bintang-bintang yang baru terbentuk. Bahkan, ledakan pembentukan bintang masih terus berlangsung di dalam galaksi-galaksi tersebut.

Mirip dengan ledakan penduduk di suatu daerah yang berlangsung cepat, galaksi-galaksi muda ini juga mengalami pertambahan pertumbuhan bintang yang sangat tinggi dan cepat. Pertumbuhan bintang pada galaksi tersebut bisa 50 – 1000 kali lebih cepat dari Bima Sakti. Dalam satu tahun ada ribuan bintang baru yang lahir di galaksi-galaksi masif tersebut.

Baca juga: Pertama Kalinya, Ilmuwan Temukan Helium di Planet Luar Tata Surya

Ukurannya pun lebih kompak atau lebih padat dibanding Bima Sakti. Dengan laju pertumbuhan bintang yang sedemikian tinggi, gugus galaksi kuno ini cuma tiga kali lebih besar dari Bima Sakti. Galaksi-galaksi masif tersebut memiliki diameter setidaknya 130 kpc atau 424 ribu tahun cahaya, sedangkan Bima Sakti hanya 30 kpc atau 100 ribu tahun cahaya.

SPT2349-56 berada pada jarak 12,4 miliar tahun cahaya dari Bumi. Itu artinya, cahaya yang kita terima sudah melakukan perjalanan selama 12,4 miliar tahun. Itu artinya, cahaya tersebut meninggalkan gugus galaksi SPT2349-56 saat alam semesta baru berusia 1,4 miliar tahun.

Selain keberadaan gugus galaksi SPT2349-56, ALMA dan APEX juga berhasil menemukan penggabungan galaksi-galaksi serupa. Kali ini ada 10 galaksi dari yang dilihat akan membentuk gugus galaksi baru. Menurut para astronom, kala hidup galaksi pembentuk bintang sangat pendek karena gas yang ada habis dengan sangat cepat untuk pembentukan bintang baru.

Ketika alam semesta masih muda

Saat alam semesta baru berusia beberapa juta tahun awal setelah peristiwa Dentuman Besar, materi normal dan materi gelap akan mulai berinteraksi, terkonsentrasi dan bergabung membentuk gugus galaksi. Ada ribuan galaksi, materi gelap, lubang hitam supermasif, dan pancaran gas sinar-X yang bisa mencapai suhu lebih dari satu juta derajat.

Baca juga: Rusia Berencana Membuat Sauna dan Fasilitas Kebersihan di Luar Angkasa

Ada yang menarik dari penemuan ini.

Berdasarkan hasil pemodelan, gugus galaksi masif seperti yang dilihat ALMA harusnya membutuhkan waktu lebih lama untuk berevolusi. Bagaimana gugus galaksi tersebut bisa bertumbuh sedemikian cepat masih menjadi pertanyaan. Apakah ada mekanisme tak dikenal yang bisa memicu laju pembentukan bintang yang ekstrim dan simultan dalam jarak beberapa ratus kilo parsec ketika alam semesta masih sangat muda. Penjelasan alternatif lainnya adalah keberadaan aliran gas dari jaringan kosmik yang memunkinkan pembentukan bintang dalam skala waktu yang lebih lama dari perkiraan waktu habisnya gas.

Meskipun belum diketahui jawabannya, keberadaan gugus galaksi merupakan kunci penting untuk mempelajari pembentukan halo materi gelap yang masif di alam semesta. Selain itu, para astronom juga bisa menguji teori kosmologi yang ada saat ini.

Artikel ini talah tayang di langitselatan.com. Baca artikel sumber.