Ilmuwan Ungkap Gunung Padang Sebagai Struktur Piramida Tertua di Dunia

Gita Laras Widyaningrum Rabu, 19 Desember 2018 | 14:27 WIB
Seorang penjaga membersihkan situs Megalitikum Gunung Padang di kawasan Cianjur. (Andrean Kristianto/Kompas.com)

Nationalgeographic.co.id - Ketika penjajah Belanda menjadi orang-orang Eropa pertama yang menemukan Gunung Padang di awal abad ke-20, mereka pasti terpesona oleh besarnya lingkungan yang penuh batu di sana.

Ya, di Gunung Padang, Jawa Barat ini, terdapat sisa-sisa kompleks berbatu dan beberapa monumen yang dianggap sebagai keajaiban arkeologi. Sejak ditemukan, Gunung Padang disebut-sebut sebagai situs megalitik terbesar di seluruh Asia Tenggara.

Meski begitu, belum ada yang mengetahui apa yang mungkin tersembunyi dan terkubur di bawahnya.

Baca Juga : Bukan Korban Kanibalisme, Luka Pada Kerangka 8.000 Tahun Ini Sempat Tunjukkan Pemulihan

Dalam sebuah studi terbaru yang dipresentasikan pada pertemuan American Geophysical Union 2018, tim peneliti Indonesia memaparkan data-data yang menyatakan bahwa Gunung Padang merupakan struktur piramida tertua di dunia.

Penelitian mereka, yang telah dilakukan selama bertahun-tahun, mengungkapkan bahwa Gunung Padang tidak hanya bukit seperti yang biasa kita lihat, melainkan serangkaian struktur kuno dengan fondasi berasal dari sekitar 10 ribu tahun lalu (atau bahkan lebih tua).

"Studi kami membuktikan bahwa strukturnya tidak hanya menutupi lapisan atas, tapi juga membungkus lereng sekitar 15 hektar. Dengan kata lain, strukturnya tidak dangkal dan berakar lebih dalam," tullis peneliti.

Gunung Padang diperkirakan memiliki empat lapisan. (Danny Hilman Natawidjaja/LIPI)

Foto lapisan pertama dari dekat. Di bawahnya masih ada tiga lapisan lagi. (Danny Hilman Natawidjaja/LIPI)

Menggunakan kombinasi dari beberapa metode survei–termasuk ground penetration radar (GPR), tomografi seismik, dan penggalian arkeologi–tim peneliti mengatakan Gunung Padang bukan struktur buatan, tapi dibangun di atas periode prasejarah secara berturut-turut.

Halaman Selanjutnya
Source : Science Alert
Penulis : Gita Laras Widyaningrum
Editor : Gita Laras Widyaningrum