Astronom: Saturnus Akan Kehilangan Cincinnya dalam Waktu Cepat

By Gita Laras Widyaningrum, Rabu, 19 Desember 2018 | 15:26 WIB
Saturnus dengan cincinnya. (NASA/Ames/SwRI)

Nationalgeographic.co.id - Semua planet di tata surya memiliki pesonanya masing-masing. Namun, hanya sedikit yang mencolok dan menjadi ikon seperti Saturnus dengan cincinnya.

Sayangnya, sama seperti semua hal di alam semesta, cincin Saturnus pun tidak akan bertahan selamanya. Para ilmuwan menemukan fakta bahwa cincin tersebut mulai menghilang dan prosesnya berlangsung dengan cepat (dalam ukuran planet).

Ia bisa hancur dan akhirnya jatuh ke planet Saturnus dalam waktu 100 juta tahun–proses itu dijuluki dengan 'hujan cincin'.

Baca Juga : Farout, Planet Kerdil Berwarna Pink dan Objek Terjauh di Tata Surya

Hasil penelitian tersebut didapat berdasarkan observasi dari satelit Voyager 1 dan 2 yang telah bertemu dengan Saturnus dalam kepulangannya ke luar tata surya pada November 1980 dan Agustus 1981.

Mereka lalu menggabungkannya dengan data dari pesawat luar angkasa Cassini yang menganalisis kejatuhan material-material dari cincin Saturnus ke planet tersebut. Cara ini memungkinkan astronom untuk menghitung seberapa cepat cincin hancur.

Hasilnya menunjukkan, proses tersebut sama cepatnya dengan tingkat maksimum yang diprediksi oleh Voyager.

"Semua bagian cincin diperkirakan akan hilang dalam 300 juta tahun. Namun, jika melihat material cincin yang jatuh di ekuator Saturnus dari data Cassini, kemungkinan waktu hidupnya lebih singkat–tak kurang dari 100 juta tahun," kata James O'Donoghue, ilmuwan planet dari Goddard Space Flight Center NASA.

"Angka itu termasuk cepat dibandingkan usia Saturnus yang lebih dari 4 miliar tahun," imbuhnya.

Petunjuk tentang 'hujan cincin' yang terjadi di Saturnus pertama kali dilihat oleh Voyager. Mereka mendeteksi beberapa perubahan aneh dalam ionosfer Saturnus, termasuk variasi kerapatan pada cincin dan tiga pita gelap yang mengelilingi planet itu di garis lintang tengah-utara.

Awalnya, hal tersebut dianggap tidak berhubungan. Namun, penelitian pada 1986 menyatakan bahwa pita gelap itu muncul karena partikel es dari cincin Saturnus. Saat bersentuhan dengan atmosfer atas Saturnus, partikel es akan menguap dan gelombang airnya membersihkan kabut sehingga memunculkan pita gelap.