Nasib Penerbang RAF yang Pesawatnya Tertembak Jatuh di Surabaya

By Mahandis Yoanata Thamrin, Selasa, 2 Juli 2019 | 20:09 WIB
Pejuang Republik berlaga dengan meriam penangkis serangan udara dalam Pertempuran Surabaya. Mungkin operator meriam itu bernama Gumbreg, yang berhasil menjatuhkan lebih dari sepuluh pesawat musuh. (Album Perang Kemerdekaan 1945-1950)

Serdadu 12th Yorkshire Batalyon, 5 Brigade Parasut, melakukan penyisiran terhadap warga selama operasi di Jakarta. Para serdadu itu ditugaskan untuk mengambil alih semua bangunan pemerintah sipil di kota ini, 31 Desember 1945. (Imperial War Museums/Wikimedia Commons)

Kisah sejarah tersebut ditulis oleh K’tut Tantri dalam autobiografinya,  Revolt in Paradise, yang diterbitkan pertama kali oleh Harper & Brother di New York, Amerika Serikat pada 1960. Edisi bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Gunung Agung pada 1965, berjudul Revolusi di Nusa Damai. Buku ini juga pernah diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 1982 dan 2006. Setidaknya, buku ini telah diterbitkan dalam 14 edisi bahasa lokal.

Nama sejatinya Muriel Stuart Walker, warga negara Amerika Serikat kelahiran Inggris. Dia berada di Indonesia selama lima belas tahun, 1932-1947. Awalnya dia tinggal di Bali, diangkat sebagai anak oleh Raja Bali yang memberinya nama lokal K’tut Tantri.

Dalam buku itu dia berkisah tentang perjalanannya dari New York hingga ke Hindia Belanda, bermukim di Bali, jatuh cinta dengan ningrat setempat, hidup dalam tawanan Jepang, dan mendukung kemerdekaan Indonesia.

Tantri memang menuliskan dalam halaman pembuka bahwa ada sebagian nama yang sengaja disamarkan. “Kenyataan ini menyulitkan penuturan kisah, karena bercerita sejujur-jujurnya mengenai diri sendiri, tidaklah bisa dibilang gampang,” ungkap K’tut Tantri.

K’tut Tantri wafat di Australia pada 1997 dalam usia 99 tahun. Dia pernah menjalani hidup menderita sebagai tawanan perang Jepang. Bahkan, pernah dinyatakan tewas dalam kamp. Sayang, keterlibatan Tantri dalam gerilya dan perjuangan revolusi Republik Indonesia tampaknya kini nyaris dilupakan oleh bangsa Indonesia.

 

Foto karya wartawan IPPHOS yang menjadi koleksi Australian War Memorial. Sukarno, Presiden Indonesia, berbincang dengan Charles Eaton, pejabat sementara Konsulat Jenderal Australia di Yogyakarta 1947. (Australian War Memorial)