Rinjani Bertopi Awan, Warganet Penasaran. Ketahui Penyebabnya

By Mahmud Zulfikar, Jumat, 19 Juli 2019 | 17:00 WIB
Gunung Rinjani Tertutup Topi Awan, Terlihat Indah Tetapi Berbahaya Untuk Para Pendaki! (ANTARA/Rosidin/aa)

Nationalgeographic.co.id - Suhu dingin dan hujan yang tiba-tiba turun ketika kemarau sudah berlangsung 3 bulan membuat kita bertanya-tanya.

Ditambah fenomena turunya salju di Dieng, suhu Bandung dan Jakartapun dikabarkan menurun.

Ternyata, dikabarkan oleh Kompas.com, tidak hanya Bandung dan Jakarta yang alami suhu dingin. Wilayah Jawa dan bagian selatan Indonesia juga alami hal serupa pada kemarau ini.

Menurut BMKG, suhu dingin yang dirasakan oleh sebagian besar wilayah Indonesia dari malam hingga dini hari pada musim kemarau adalah hal yang lumrah.

Baca Juga: Kontaminasi Radioaktif di Wilayah Ini Ternyata Lebih Banyak dari Chernobyl

Awan topi menyelimuti Gunung Rinjani, Rabu (17/7/2019). (Instagram/@mountnesia )

Selain karena pada siang hari Bumi menyerap panas dan malam hari panas dilepaskan, fenomena dry intrusion atau intrusi udara kering juga sangat berpengaruh.

Kemudian Rabu kemarin (17/7/19) kita digemparkan dengan awan berbentuk topi yang menaungi Gunung Rinjani.

Melansir dari Kompas.com topi awan ini sudah pernah terjadi pada Gunung Semeru, Merapi, Merbabu, Sindoro, dan Sumbing.

Dalam dunia astronomi, fenomena seperti ini disebut awan lentikular.

Baca Juga: Memiliki Ketergantungan Pada Kafein? Ini Bahaya dan Cara Mengatasinya

Awan lentikular terbentuk ketika suhu udara hangat naik melewati gunung dan bertemu dengan suhu udara dingin. Perbedaan tinggi suhu udara hangat dan dingin menghasilkan kumpulan awan dan mengumpul di puncak.

Kumpulan awan ini bisa bertahan hingga berjam-jam bahkan sampai berhari-hari.

Fenomena ini memang lazim terjadi di puncak gunung dan tidak menyimpan misteri sama sekali.