Peneliti Temukan Kehidupan di Dasar Laut yang Tertidur Selama 100 Juta Tahun

By Gita Laras Widyaningrum, Kamis, 30 Juli 2020 | 09:51 WIB
Kelompok mikrob yang masih bertahan hidup di dasar laut selama 100 juta tahun. (JAMSTEC)

Nationalgeographic.co.id – Jauh di bawah laut dan terjebak di batuan kuno berusia 100 juta tahun, terdapat sebuah kehidupan. Meski bukan godzila atau megalodon, tapi penemuan ini menunjukkan bagaimana kehidupan di Bumi dapat bertahan di tempat dengan kondisi paling aneh dan ekstrem.

Para ilmuwan baru-baru ini menemukan sekelompok mikrob yang hidup di dasar laut. Mereka mampu bertahan hidup di batuan sedimen selama lebih dari 100 juta tahun dengan sedikit nutrisi.

Setelah ditempatkan pada kondisi yang tepat di laboratorium, mikrob purba ini bahkan bisa bangun dari “hibernasi”-nya untuk melakukan metabolisme dan berkembang biak lagi.

Baca Juga: Elang Langka Ditemukan Mati Diracun, Mengancam Jumlah Populasinya

Dipublikasikan pada jurnal Nature Communications, para peneliti diketahui mengumpulkan sampel sedimen dari 75 meter dari dasar laut di Samudra Pasifik Selatan atau sekitar 5.700 meter di bawah permukaan laut.

Kehidupan mikrob yang berada di sana kemudian “dibangunkan kembali” melalui teknik di laboratorium. Diinkubasi dengan karbon berlabel isotop dan nitrogen yang mengandung nutrisi. Dalam sepuluh minggu, isotop terlihat pada mikrob—menunjukkan bahwa mereka memiliki metabolisme aktif, bisa makan, dan membelah diri.

“Ini merupakan mikrob tertua dari lingkungan laut yang berhasil dihidupkan kembali,” kata Steven D’Hondt, penulis studi dan profesor ilmu kelautan dari University of Rhode Island.

“Bahkan setelah 100 juta tahun mengalami kelaparan, mikrob ini dapat tumbuh, berkembang biak, dan terlibat dalam berbagai aktivitas metabolisme ketika kembali ke permukaan,” imbuhnya.

Kelompok mikrob tersebut terjebak di dasar laut setelah terkubur oleh lapisan sedimen yang terbentuk dari “salju laut”, puing-puing, debu, dan partikel lainnya.

Jika sedimen terbentuk dalam kondisi yang tepat, oksigen masih dapat menembus ke kedalaman, tetapi sulit bermigrasi. Inilah sebabnya mikrob tetap berada di sana selama bertahun-tahun.

Dan meskipun lapisan sedimen mengandung oksigen, tapi jumlah bahan organiknya sangat terbatas—membuatnya menjadi lingkungan yang sangat sulit bagi kehidupan.

Baca Juga: Dampak Aktivitas Manusia di Antarktika Lebih Parah dari yang Diperkirakan