Bertahan di Tengah Pagebluk, Para Seniman Wayang Orang Berteman dengan Teknologi

By Fathia Yasmine, Sabtu, 31 Oktober 2020 | 13:38 WIB
Potret Tunas Bharata, generasi muda penerus wayang orang Bharata (Dok. Paguyuban Wayang Orang Bharata )

Nationalgeographic.co.id – Pagebluk Covid-19 memberi dampak besar pada kehidupan masyarakat. Perubahan pola hidup untuk menghindari paparan virus corona yang jadi penyebabnya bukan hanya mempengaruhi sektor ekonomi tetapi juga sosial budaya.

Sepanjang pagebluk, berbagai pagelaran seni terpaksa dihentikan karena gedung-gedung pertunjukkan harus ditutup. Gegap gempitanya panggung dan riuh rendah tepuk tangan penonton, kini tak pernah lagi dilihat dan didengat oleh para pecinta seni.

Para pecinta seni kehilangan kesempatan untuk mengaggumi indahnya kesenian yang ditampilkan. Sementara, para seniman kehilangan panggung. Kekhawatiran akan lunturnya kelestarian seni dan budaya menjadi pemikiran mereka. Selain itu, cukup banyak seniman yang menggantungkan hidupnya melalui pentas seni.

Para seniman merindukan kehidupan sebelum pagebluk, di mana kebebasan untuk berpentas dapat diperoleh.

Baca Juga: Sutan Muhammad Amin, Salah Satu Tokoh Sumpah Pemuda yang Berjasa

Misalnya saja seperti para seniman wayang orang yang tergabung dalam Paguyuban Wayang Orang (WO) Bharata yang kini terpaksa berhenti mengadakan pentas rutin.

Hal ini disampaikan oleh seniman wayang orang sekaligus sutradara WO Baratha Teguh “Kenthus” Ampiranto, pagebluk membuat ia dan para rekannya terpaksa berhenti mengadakan pentas rutin.

“Adanya pagebluk, membuat kami jadi terpaksa tertunda berkarya, dahulu, minimal seminggu sekali di malam minggu, kami mengadakan pentas Wayang Orang,” kata Kenthus.

Kegiatan pentas menurutnya, ikut berhenti semenjak munculnya pagebluk. Pagelaran wayang orang tidak dilangsungkan di gedung pertunjukkan terhitung sejak 8 bulan lalu.

Baca Juga: AVONTUR DARING: Merarik, Tradisi Melarikan Anak Gadis Usai Acara Pinangan

Saat ini, paguyuban pun hanya mengandalkan bantuan donasi dari para sukarelawan maupun para penikmatnya, untuk mempertahankan eksistensi.

“Ada berbagai donatur yang peduli akan WO, dan memberikan donasi seiklhlasnya,” lanjut Kenthus.