Bukan dari Wuhan, Investigasi WHO Ungkap Asal Covid-19 di Tiongkok

By Afkar Aristoteles Mukhaer, Rabu, 31 Maret 2021 | 07:00 WIB
Ilustrasi kawanan kelelawar. (Shutterstock)

Nationalgeographic.co.id—Setahun pagebluk virus corona menghantui dunia, sejak 11 Januari lalu WHO memulai investigasi asal mulanya di Tiongkok. Pada perkembangan terakhir, seorang anggota tim investigasi, Peter Daszak, menyebut peternakan satwa liar sebagai sumber virus yang sangat memungkinkan.

Peternakan satwa liar itu banyak di antaranya di sekitar Yunnan, dan menjadi pemasok hewan ke pedagang di pasar makanan laut di Huanan, Wuhan—tempat kasus awal Covid-19 ditemukan tahun lalu.

Peter Daszak yang juga seorang ahli ekologi penyakit menyebut, satwa liar di peternakan kemungkinan besar tertular SARS-CoV-2 dari kelelawar di tempat asalnya. Perkiraan ini sebelumnya juga diungkapkan oleh pihak otoritas Tiongkok yang menganggap perdagangan ini yang membuat virus itu bisa menular ke manusia di Wuhan.

Baca Juga: Studi Jelaskan Bagaimana Perubahan Iklim Memicu Pagebluk Covid-19

 

Padahal peternakan-peternakan di wilayah Yunnan merupakan bagian dari proyek otoritas Tiongkok yang telah dipromosikan.

"Tiongkok mempromosikan pertanian satwa liar sebagai cara untuk mengentaskan penduduk pedesaan keluar dari kemiskinan," jelas Daszak dikutip dari NPR.

Peternakan itu awalnya dinilai dapat membantu pemerintah memenuhi tujuan ambisius untuk menutup kesenjangan desa-kota. Akan tetapi, pada praktiknya peternakan itu mengambil hewan eksotis seperti musang, landak, trenggiling, rakun, dan tikus bambu, untuk diternakkan di penangkaran.

"Itu [program promosinya] sangat sukses," kata Daszak. "Pada 2016, mereka memiliki 14 juta orang yang bekerja di peternakan satwa liar, dan itu adalah industri senilai 70 miliar dolar."

Hingga 24 Februari 2020, tepat ketika pagebluk di Wuhan mereda, pemerintah Tiongkok meregulasi perubahan kembali secara total tentang peternakan. Daszak menilainya sebagai langkah positif supaya bisa menghentikan peternakan satwa liar sebagai makanan.

Baca Juga: Figur Karakter Film Berperan Membangkitkan Kajian Fiksi-Sains

Melansir dari The Guardian Februari 2020, kebijakan peternakan satwa sebelumnya oleh legislatif Tiongkok dipandang bermasalah oleh organisasi pemerhati hewan liar WildAid. Undang-undang sebelumnya dinilai hanya berfokus pada eksploitasi satwa liar daripada perlindungannya.

"Epidemi virus corona dengan cepat mendorong Tiongkok untuk mengevaluasi kembali hubungannya dengan satwa liar," ujar Steve Blake, kepala perwakilan WildAid di Beijing. "Ada risiko tingkat tinggi dari skala operasi pembiakan ini, baik bagi ksehatan manusia maupun dampaknya pada populasi hewan di alam liar."

Lain dengan pemberitaan saat awal pagebluk, Daszak memperkirakan virus sudah pertama kali menyerang orang-orang di Tiongkok selatan.

Alasannya, kelelawar di sekitar peternakan satwa liar di Yunnan ditemukan virus yang secara genetik 96% mirip dengan SARS-CoV-2, dan membiakkan hewan yang umumnya menjadi inang kedua virus corona seperti musang dan trenggiling.

Pasar di Wuhan yang memiliki urusan dagang dengan peternakan satwa liar juga sempat ditutup selama semalam pada 31 Desember 2019. Alasannya, dikatikan dengan kasus flu misterius yang mulai merebak yang mirip dengan pneumonia.

Baca Juga: Pneumonia Wuhan, Wabah Penyakit Baru yang Menyerang Warga Tiongkok

"Ada penularan besar-besaran yang terjadi di pasar itu," ujar Linfa Wang, ahli virologi dalam tim investigasi WHO. 

"Di bagian hewan hidup, mereka (ilmuwan Tiongkok yang pertama kali meneliti) memiliki banyak sampel positif. Mereka bahkan punya dua sampel yang diisolasi dan merupakan virus hidup."

Investigasi yang dilakukan Daszak dan timnya belum usai meski sudah memiliki kesimpulan. Langkah berikutnya bagi mereka adalah mencari secara spesifik hewan mana yang merupakan inang virus, dan peternakan satwa liar mana yang menjadi awal mulanya.

Hasil temuan mereka direncanakan akan dipublikasikan di laman WHO sesegera mungkin.