Babad Dipanagara dan Sosok Pangeran Dipanagara Sebagai Manusia

By Mahandis Yoanata Thamrin, Sabtu, 3 April 2021 | 07:00 WIB
Batik bertema Perang Jawa koleksi Museum Danar Hadi, Surakarta. Perang ini pecah pada Rabu, 20 Juli 1825. Awal perang panjang dan melelahkan ini ditandai penyerbuan dan pembakaran kediaman Dipanagara di Tegalrejo oleh pasukan gabungan Belanda-Keraton. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Indonesia)

Nationalgeographic.co.id—Peter Brian Ramsay Carey merupakan salah satu sejarawan Inggris terkemuka. Pernah mengajar di University of Oxford sebagai Laithwaite Fellow untuk Sejarah Modern di Trinity College, Oxford, Inggris Raya.

Kini dia menjadi Adjunct Professor di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Dia telah mengabdikan sepanjang hayatnya untuk meneliti sosok Pangeran Dipanagara. Sebuah karya litografi abad ke-19, yang menggambarkan Sang Pangeran dan laskarnya memasuki perkemahan di Desa Metesih, telah ‘menjerumuskan’ Carey dalam pencarian tentang sosok sejati Sang Pangeran selama 40 tahun terakhir—yang tampaknya tak berkesudahan.Buku karyanya tentang biografi Dipanagara berjudul The Power of Propechy: Prince Dipanagara and the end of an old order in Java terbit pertama kali pada 2007. Kemudian edisi dalam bahasa Indonesia menyusul pada 2012. Sebuah buku yang secara tak sengaja turut menyatukan kembali ‘tulang-tulang yang terpisah’ dari wangsa Dipanagaran tatkala peluncuran perdananya di bekas puing-puing kediaman Dipanagara, Tegalrejo, Yogyakarta. Pada kesempatan itu seorang perwakilan dari Sultan mempersilakan wangsa Dipanagaran untuk mendapatkan serat kekancingan (surat yang menerangkan bahwa seseorang merupakan bagian dari keluarga keraton) dengan mendaftarkan diri mereka ke Keraton Yogyakarta.

Lukisan saat Dipanagara dan 800 pasukannya mendirikan kemah di sebuah delta di Sungai Progo. Pulau tersebut berada di Dusun Meteseh, Kota Magelang, tak jauh dari Wisma Residen Kedu. (KITLV)
Baca Juga: Kecamuk Perang Jawa: Suratan Tragis Sang Pangeran yang Kesepian di Zaman Edan

Penyelisikannya lewat berbagai sumber naskah semasa telah menghadirkan kembali sosok Dipanagara yang dirindukan—sebagai manusia seutuhnya. Sang pangeran itu muncul tak hanya sebagai wayang dalam panggung Perang Jawa, tetapi juga manusia yang berbudaya Jawa pra-modern dan beragama Islam-Jawa.

Dalam buku karyanya, Carey juga telah mengungkapkan kegemaran Dipanagara. Sang Pangeran itu gemar berkebun, memilihara burung perkutut dan kakatua, bermain catur, menunggang kuda, makan sirih, dan hal yang berbahaya dan mujarab: kegemarannya mengutuk orang. Dia juga suka menyesap anggur putih asal Constantia, Afrika Selatan.