Riwayat Industri Hulu Minyak Indonesia: Dari BPM Sampai Permina

By Mahandis Yoanata Thamrin, Jumat, 2 Juli 2021 | 22:48 WIB
727th Amphibian Tractor Battalion Association. Roket dari LCI(R) ditembakkan ke pantai Tarakan pada 1 Mei 1945. (Australian War Memorial)

Nationalgeographic.co.id—Sebelum dunia mengharu biru dilanda Perang Dunia II, tujuh perusahaan besar menguasai industri minyak internasional, yaitu: Shell, Standard of New Jersey, Gulf, Texaco, British Petroleum, Standard of California dan Standard of New York. Lima di antara tujuh perusahaan besar itu beroperasi di Hindia Belanda, yang menjelma dalam tiga perusahaan kelas atas: Shell; Standard of California dan Texaco lewat Caltex; dan Standard of New Jersey bersama Standard of California melalui Stanvac.

Gerak maju pasukan Jepang tak tertahan lagi. Rasa panik melanda pemerintah Hindia Belanda. Ladang-ladang dan kilang-kilang minyak yang dibangun dengan jerih payah sengaja diluluhlantakkan tentara Hindia Belanda. 

Api berkobar di sumur-sumur minyak di Kawengan, Cepu, begitu juga kilang minyak Bataafsche Petroleum Maatschappij di Cepu; terlebih lagi di kilang Pangkalan Brandan.

Untungnya tak semua instalasi minyak benar-benar hancur lebur. Kilang minyak Bataafsche Petroleum Maatschappij di Palju misalnya, masih relatif utuh, yang berhasil direbut tentara Jepang. Selama pendudukan Jepang yang singkat, kilang-kilang dan sumur-sumur minyak yang rusak diperbaiki kembali.

Keran minyak Bataafsche Petroleum Maatschappij di Pangkalanbrandan pada 1916. (KITLV)