Membangkit Gading Terbenam

By , Selasa, 26 Maret 2013 | 17:08 WIB

(Penduduk Distrik Ust-Yanskiy Yakutiya, dengan tundra seluas tiga kali Sumatra Barat, menurun dari 80.000 menjadi hanya 8.000 dalam lima dasawarsa terakhir.) Sekarang, ratusan, bahkan ribuan orang Yakutiya menjadi pemburu gading.

Walaupun tampak primitif, demam gading didorong oleh gelombang dunia modern: runtuh­nya Uni Soviet dan hiruk-pikuk kapital­isme perbatasan yang terjadi setelahnya, larang­an internasional terhadap perdagangan gading gajah, bahkan pemanasan global.

Kenaikan suhu ikut berperan dalam kepunahan mamut menjelang ujung zaman es terakhir dengan me­nyusutkan dan menenggelamkan habitat padang rumputnya, menyebabkan hewan itu ter­perangkap di pulau-pulau terpencil.!break!

Kini pen­cairan dan erosi pusara es-abadi raksasa itu—serta maraknya pemburu gading—ikut membangkitkan sang raksasa. Pada September 2012, seorang anak lelaki berusia 11 tahun di Semenanjung Taymyr Rusia menemukan mamut muda yang terawetkan dengan baik, salah satu tungkai purbanya mencuat dari endapan setengah beku.

Namun, pemicu terbesar perdagangan gading mamut adalah kebangkitan Cina, yang memiliki tradisi ukiran gading berusia ribuan tahun. Hampir 90 persen gading mamut yang ditemukan di Siberia—diperkirakan lebih dari 60 ton per tahun, meskipun angka sebenarnya mungkin lebih tinggi—dibawa ke Cina, yang dipenuhi orang kaya baru yang begitu gila akan gading.

Lonjakan permintaan ini mengkhawatirkan beberapa ilmuwan, yang menyayangkan hilangnya kesempatan men­dulang data penting. Sebagaimana batang pohon, gading menyimpan petunjuk tentang pola makan, iklim, dan lingkungan. Bahkan warga Yakutiya sendiri bertanya-tanya sampai kapankah sumber daya yang tidak terbarukan ini dapat bertahan.

Gading mamut diharapkan dapat me­ngurangi tekanan pada hewan yang jauh lebih langka: gajah. Gading mamut legal, sekali­pun perdagangannya tidak diatur dengan baik. Selain itu, kedua jenis gading itu dapat dibedakan berdasarkan pola gading yang dikenal sebagai garis Schreger.

Harganya juga kurang lebih sama. Namun, belum ada tanda-tanda penurunan permintaan Asia terhadap gading gajah. Sebaliknya, pembantaian gajah Afrika justru meningkat, dan pada 2012 petugas bea cukai Hong Kong membuat rekor sitaan sebanyak lima setengah ton gading gajah. Masalah ini semakin pelik saat terungkap bahwa tujuan pengiriman gading gajah yang ilegal dan gading mamut yang legal biasanya sanggar ukir yang sama di Cina.

Tidak seorang pun di antara pemburu gading yang saya temui selama perjalanan ke Yakutiya utara yang pernah bepergian ke luar tundra Siberia. Namun, mereka semua sangat mafhum terhadap permintaan Cina, yang menyebabkan harga gading mamut kualitas terbaik berlipat ganda menjadi sembilan juta rupiah per kilogram di Yakutsk, ibu kota Republik Sakha, dalam dua tahun terakhir.

Harga ini naik dua kali lipat lagi begitu menyeberangi perbatasan Cina. Di sebuah toko barang antik di Hong Kong, saya melihat gading mamut berukuran tiga meter yang diukir dengan hiasan rumit dewa anggur Romawi, dijual dengan harga lebih dari 10 miliar rupiah. Ketika para pemburu gading mengetahui bahwa saya tinggal di Beijing, mereka diam-diam mengajukan per­tanyaan yang sama: “Bisa tolong mencarikan pembeli di Cina?”

Pencarian pun dilakukan di seantero yakutiya. Di desa Kazachye, pusat perdagangan di tepi Sungai Yana, pemburu gading bersiap me­nyeberangi tundra dengan mobil salju, pe­rahu hidrofoil, bahkan kendaraan semua-medan era-Soviet dengan roda-rantai tank.!break!

Di sebuah danau es terpencil, saat saya sedang memeriksa es dan lumpur purba di tepi pantai yang tererosi bersama para pemburu gading, seorang pemuda yang menggigil muncul dari air nan dingin dengan mengenakan pakaian scuba dan masker selam—pemburu yang mencoba cara baru. Selanjutnya, di tepi Sungai Yana, kami bertemu dengan dua orang yang menyemburkan air dari slang ke tebing es yang menghitam.