Otak di Alam Terbuka

By , Kamis, 24 Desember 2015 | 22:45 WIB

David Strayer tidak pernah berkirim pesan maupun menelepon dengan ponselnya saat mengemudi. Dia bahkan tak setuju untuk makan di dalam mobil. Sebagai psikolog kognitif dengan spesialisasi atensi di University of Utah, Strayer mengerti bahwa otak kita rawan kesalahan, terutama apabila kita mengerjakan banyak hal sekaligus. Di antara hal lain, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa bagi sebagian besar pengemudi, penggunaan ponsel memberikan pengaruh yang sama dengan konsumsi alkohol. Strayer memiliki posisi unik untuk memahami dampak kehidupan modern bagi kita. Sebagai seorang yang keranjingan melancong dengan tas punggung, menurutnya antidot yang tepat adalah: Alam.

Pada hari ketiga perjalanan berkemah di ngarai-ngarai liar dekat Bluff, Utah, Strayer menjelaskan apa yang disebutnya “efek tiga hari” kepada 22 mahasiswa psikologinya. Otak kita, ujarnya, bukan mesin yang tak kenal lelah; otak kita mudah letih. Saat kita menghentikan kesibukan dan menikmati keindahan alam di sekitar kita, tidak hanya tubuh yang beristirahat, tetapi performa mental kita juga membaik. Strayer telah mendemonstrasikan hal ini dengan sekelompok partisipan yang mengalami peningkatan kinerja sebesar 50 persen dalam pemecahan masalah secara kreatif setelah menjelajahi alam liar selama tiga hari. Efek tiga hari, ungkapnya, adalah semacam pembersihan kaca depan mental yang terjadi ketika kita cukup lama menyelami alam. Dalam perjalanan ini, dia berharap untuk membuktikannya secara langsung, dengan menghubungkan para mahasiswanya—dan saya—ke peralatan EEG portabel yang merekam gelombang otak.

“Pada hari ketiga, indra saya terkalibrasi ulang—saya mencium aroma dan mendengar hal-hal yang tidak saya sadari sebelumnya,” kata Strayer. Matahari pagi menyelimuti dinding merah ngarai; para partisipan tenang dan lapar, selayaknya orang-orang yang puas berkemah. “Saya lebih menyatu dengan alam,” lanjutnya. “Jika Anda bisa mendapatkan pengalaman untuk sepenuhnya menikmati waktu Anda selama dua atau tiga hari, ini sepertinya akan menghasilkan pola pikir kualitatif yang berbeda.”

Menurut hipotesis Strayer, berada di alam memungkinkan korteks prefrontal, pusat kendali otak untuk beristirahat, seperti otot yang terlalu banyak bekerja. Jika dia benar, EEG akan menunjukkan penurunan energi dari “gelombang teta tengah depan”—bagian pikiran konseptual dan perhatian berkelanjutan. Dia akan membandingkan gelombang otak kita dengan yang dimiliki oleh para relawan yang tengah duduk di lab atau menghabiskan waktu di lapangan parkir di tengah Salt Lake City.

Mahasiswa Strayer memasang semacam topi mandi yang dilengkapi 12 elektroda ke kepala saya. Mereka menempelkan enam elektroda lainnya ke wajah. Kabel yang tersambung ke elektroda itu akan mengirimkan sinyal listrik dari otak saya ke alat rekam untuk dianalisis lebih lanjut. Saya dengan hati-hati berjalan di atas rumput di sepanjang tepian Sungai San Juan selama sepuluh menit untuk merenung dengan santai. Saya seharusnya tidak memikirkan hal tertentu, hanya menyaksikan air berkilauan di sungai lebar yang mengalir lembut. Saya sudah berhari-hari tidak melihat komputer atau ponsel. Mudah untuk melupakan dalam waktu singkat bahwa saya pernah memiliki alat-alat itu.

Pada 1865, arsitek lanskap tersohor  Frederick Law Olmsted memandang Lembah Yosemite dan melihat tempat yang layak diselamatkan. Dia mendorong badan legislatif California untuk melindungi tempat itu.Olmsted yakin bahwa ruang-ruang terbuka hijau yang cantik seharusnya tersedia untuk dinikmati oleh semua orang. “Sudah menjadi fakta ilmiah,” tulisnya, “bahwa sesekali berpikir mengenai pemandangan yang luar biasa indah itu baik bagi kesehatan dan kebugaran manusia, terutama bagi kesehatan dan kebugaran intelektual.”

Klaimnya lebih didasarkan pada intuisi daripada sains. Namun intuisi itu memiliki sejarah panjang, yang bisa dirunut setidaknya hingga Koresh Agung yang sekitar 2.500 tahun silam membangun taman relaksasi di pusat keramaian ibu kota Persia. Paracelsus, dokter berkebangsaan Jerman-Swiss dari abad ke-16, menyuarakan intuisi yang sama saat menulis, “Seni penyembuhan berasal dari alam, bukan dari dokter.” Pada 1798, sambil duduk di tepi Sungai Wye, William Wordsworth mengagumi bagaimana “mata yang dibungkam oleh daya/harmoni” menawarkan obat bagi “demam dunia.” Penulis Amerika semacam Ralph Waldo Emerson dan John Muir mewarisi sudut pandang itu. Bersama Olmsted, mereka membangun dasar spiritual dan emosional bagi penciptaan taman nasional pertama di dunia dengan menegaskan bahwa alam memiliki kekuatan menyembuhkan.

Tak ada banyak bukti nyata saat itu—berbeda dengan sekarang. Strayer dan ilmuwan lainnya termotivasi oleh masalah kesehatan publik berskala besar seperti obesitas, depresi, dan rabun jauh, yang semuanya jelas berhubungan dengan waktu yang dihabiskan di dalam ruangan. Mereka pun memandang pengaruh alam pada otak dan tubuh dengan ketertarikan baru. Memanfaatkan kemajuan di bidang neurosains dan psikologi yang mencakup segalanya: Dari hormon stres, detak jantung, hingga gelombang otak dan penanda protein—mengindikasikan bahwa setelah kita menghabiskan beberapa waktu di ruang terbuka hijau, “sesuatu yang dahsyat terjadi,” ungkap Strayer.

Di Inggris, peneliti dari University of Exeter Medical School baru-baru ini menganalisis data kesehatan mental dari 10.000 warga kota. Orang yang tinggal di dekat ruang terbuka yang lebih hijau, lebih sedikit mengalami tekanan mental, bahkan setelah disesuaikan dengan pendapatan, pendidikan, dan pekerjaan (semuanya berhubungan dengan kesehatan). Pada 2009, tim peneliti Belanda menemukan lebih sedikit penderita 15 macam penyakit—termasuk depresi, kecemasan, jantung, diabetes, asma, dan migrain—pada orang yang tinggal dalam radius satu kilometer dari ruang terbuka hijau. Angka kematian dan kandungan hormon stres di darah yang lebih rendah, juga diperlihatkan oleh orang yang tinggal di dekat ruang hijau.

Dari penelitian semacam ini sulit untuk mengambil kesimpulan mengapa orang-orang merasa lebih baik. Apakah karena udara segar? Apakah warna atau bentuk pola berulang tertentu memicu neurokimia di korteks visual kita? Atau karena orang-orang yang tinggal di lingkungan yang lebih hijau memanfaatkan taman untuk lebih banyak berolah raga? Itulah yang mula-mula dipikirkan oleh Richard Mitchell, pakar epidemiologi dari University of Glasgow di Skotlandia. Namun kemudian dia membuat penelitian besar yang menunjukkan angka kematian dan penyakit, yang lebih rendah pada orang-orang yang tinggal di dekat taman atau ruang hijau lainnya—bahkan jika mereka tidak memanfaatkannya. “Penelitian kami sendiri ditambah riset lainnya menunjukkan efek pemulihan, baik Anda berjalan kaki di sana atau tidak,” kata Mitchell. Lebih jauh lagi, orang berpenghasilan lebih rendahlah yang tampaknya memperoleh keuntungan terbesar.

!break!

Apa yang dicurigai olehnya adalah bahwa alam menurunkan stres. Dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki pemandangan jendela buruk, mereka yang bisa melihat pepohonan dan rerumputan menunjukkan pemulihan yang lebih cepat di rumah sakit, berprestasi lebih baik di sekolah, bahkan menunjukkan perilaku yang lebih kalem di lingkungan yang memiliki angka kekerasan tinggi. Pengukuran hormon stres, pernapasan, detak jantung, dan pengeluaran keringat menunjukkan bahwa alam dengan dosis rendah—atau bahkan dalam bentuk gambar—dapat menenangkan manusia dan mempertajam performa mereka.

Di Swedia, Dokter Matilda van den Bosch mendapati bahwa setelah menyelesaikan soal matematika yang sulit, keragaman detak jantung para subyek—yang menurun akibat stres—kembali normal lebih cepat ketika mereka menghabiskan 15 menit untuk menikmati pemandangan alam dan kicauan burung di ruang realitas maya 3-D. Berbeda saat mereka duduk di ruangan berdinding polos di Snake River Correctional Institution di timur Oregon. Para sipir melaporkan perilaku para narapidana yang lebih tenang di sel tahanan soliter. Narapidana ini berolah raga selama 40 menit beberapa hari seminggu di sebuah “ruang biru,” tempat video alam diputar, dibandingkan dengan mereka yang berolah raga di ruang kebugaran tanpa video.

Berjalan kaki selama 15 menit di hutan menghasilkan perubahan signifikan dalam fisiologi. Para peneliti Jepang yang dipimpin oleh Yoshifumi Miyazaki di Chiba University mengirim 84 subyek untuk berjalan-jalan di hutan, sementara relawan dengan jumlah yang sama berjalan-jalan di pusat kota. Para penyusur hutan menunjukkan penurunan hormon stres kortisol hingga 16 persen, penurunan dua persen tekanan darah, dan penurunan empat persen detak jantung. Miyazaki meyakini bahwa tubuh kita menjadi rileks di lingkungan alami yang menyenangkan karena di sanalah tubuh berevolusi. Indra-indra kita beradaptasi untuk menafsirkan informasi mengenai tumbuhan dan aliran sungai, bukan lalu lintas dan gedung-gedung pencakar langit.