Dokter Reisa Broto Asmoro: Anak di Indonesia Hadapi Situasi Sulit Selama Pandemi

By Sheila Respati, Sabtu, 24 Juli 2021 | 14:20 WIB
Juru Bicara Penanganan Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru dr Reisa Broto Asmoro. (Kompas.com)

Nationalgeographic.co.idPandemi Covid-19 memberi tantangan bagi seluruh masyarakat di dunia. Tidak hanya kelompok usia dewasa dan lanjut usia, pandemi juga memengaruhi kehidupan anak-anak.

Bertepatan dengan Hari Anak Nasional yang jatuh pada Jumat (23/7/2021), Juru Bicara Penanganan Covid-19 dr Reisa Broto Asmoro mengatakan bahwa anak-anak Indonesia mengalami beragam situasi kompleks selama pandemi Covid-19.

“Sebanyak 80 juta anak Indonesia tidak dalam keadaan baik-baik saja,” kata dr Reisa dalam keterangan pers yang diterima NGI, Sabtu (24/7/2021).

Ia menjelaskan, selama pandemi, sekitar 60 juta anak kehilangan memori indah bersekolah. Sementara itu, pembelajaran jarak jauh (PJJ) juga tidak dapat diakses oleh semua anak karena keterbatasan fasilitas, perangkat, atau keuangan.

Menurut dr Reisa, anak-anak juga kehilangan kesempatan bermain, bersosialisasi, dan mengenal alam terbuka. Dunia maya, khususnya media sosial, juga memberi ancaman bagi anak berupa perundungan, diskriminasi, kekerasan verbal, hingga pelecehan.

Baca Juga: Dari Kesehatan hingga Kesenjangan Pendidikan, Ini Dampak Pandemi Covid-19 bagi Anak-Anak

Tak hanya itu, anak-anak juga mengalami beban mental ketika orangtuanya terkonfirmasi menderita Covid-19.

“Tekanan dan beban mental saat menjalani pandemi pasti tidak mudah bagi anak-anak Indonesia. Hal yang paling membuat sedih, beberapa anak kehilangan orangtuanya yang menderita Covid-19 karena kondisi tidak bisa terselamatkan,” ujar dr Reisa.

Oleh sebab itu, dr Reisa mengajak untuk melindungi anak-anak Indonesia di masa pandemi dengan berbagai upaya yang bisa dilakukan.

“Anak Indonesia harus semakin kita lindungi karena masa depan mereka adalah masa depan kita juga,” imbuh dr Reisa.

Ia berharap penambahan kasus positif harian dapat diturunkan sehingga kapasitas rumah sakit dapat dimaksimalkan untuk merawat pasien bergejala berat. Tak hanya itu, angka kematian akibat Covid-19 yang terus bertambah pun harus dapat ditekan.

Pemerintah, kata dr Reisa, tengah menggencarkan upaya testing, tracing, dan treatment (3T).  Upaya testing, dapat menguji seseorang positif atau negatif Covid-19. Dengan demikian, perawatan dapat segera dilakukan dan kemungkinan menulari orang lain lebih minim.