Ilmuwan AstraZeneca Ungkap Kenapa Herd Immunity Tak Mungkin Terwujud

By Utomo Priyambodo, Senin, 16 Agustus 2021 | 18:00 WIB
Virus corona varian Delta masih bisa menular dari dan ke orang-orang yang telah divaksinasi. (pharmaceutical-technology)

Oleh karena itu, Pollard menegaskan tidak mungkin herd immunity akan terwujud setidaknya untuk kondisi saat ini. Bahkan, dia juga mengatakan varian baru berikutnya dari virus corona mungkin akan lebih lihai "dalam menularkan ke populasi-populasi yang telah divaksinasi".

Seperti yang telah terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia, orang-orang yang telah menjalani vaksinasi COVID-19 masih bisa tertular varian Delta. Orang-orang yang telah divaksinasi ini biasanya tertular sebagai kasus-kasus yang lebih ringan.

Namun begitu, apabila tertular virus corona, orang-orang yang telah divaksinasi itu ternyata juga masih bisa menularkannya kepada orang-orang lainnya. Yang mengkhawatirkan, apabila virus penyebab COVID-19 ini menular pada kelompok-kelompok rentan yang belum divaksinasi, seperti kelompok lansia, orang dengan penyakit komorbid berat, dan ibu hamil tua, maka kasusnya cenderung bisa parah bahkan berakibat fatal.

Beberapa pakar berharap herd immunity terhadap COVID-19 tetap bisa terwujud. Mereka mengambil contoh herd immunity terhadap campak bisa terwujud di banyak populasi, meskipun penyakit itu juga sangat menular.

Baca Juga: WHO Desak Indonesia Terapkan 'Lockdown' yang Lebih Ketat dan Luas

 

Banyak negara telah mencapai herd immunity terhadap campak dengan memvaksinasi 95 persen populasinya. Sebagai contoh, herd immunity terhadap campak telah terbentuk di Amerika Serikat, di mana penularan endemik penyakit itu berakhir pada tahun 2000. Herd immunity itu terwujud karena sekali seseorang divaksinasi campak, orang itu tidak dapat menularkan virus rubeola yang menyebabkan penyakit tersebut.

Vaksinasi COVID-19 yang dilakukan di seluruh dunia saat ini masih memenuhi peran utamanya, yakni melindungi orang-orang dari penyakit parah. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (Centers for Disease Control and Prevention/CDC), orang-orang yang telah divaksinasi COVID-19 yang kemudian tertular varian Delta, ternyata 25 kali lebih kecil kemungkinannya memiliki kasus parah atau meninggal. Mayoritas orang yang telah divaksinasi yang tertular COVID-19 hanya akan memiliki gejala ringan atau tidak mengalami gejala sakit sama sekali.

Namun begitu, banyak bukti menunjukkan bahwa dengan varian Delta, orang-orang yang telah divaksinasi lengkap masih dapat menularkan virus corona tersebut ke orang lain.

"Kami tidak memiliki apa pun yang akan menghentikan penularan itu ke orang-orang lainnya," ujar Pollard.

Baca Juga: Alfa hingga Delta: Bagaimana Bisa Virus Corona Memiliki Banyak Varian?

 

Sebagai contoh, pemerintah Israel yang sempat mampu mengatasi kasus COVID-19 di negaranya hingga berani mencabut aturan wajib pakai masker, kini harus menghadapai gelombang kasus COVID-19 baru akibat penyebaran varian baru di sana. Kasus COVID-19 sempat turun pesat di negara itu setelah pemerintah Israel memvaksinasi sekitar 80 persen orang dewasa di sana.

Penurunan kasus itu sempat membuat beberapa orang berharap bahwa beberapa wilayah di Israel telah mencapai herd immunity. Namun sejak adanya varian Delta, virus corona versi anyar itu telah menimbulkan lonjakan kasus baru di negara tersebut.

Lonjakan kasus COVID-19 yang besar akibat varian Delta ini juga terjadi di banyak negara lainnya di dunia, termasuk Indonesia. Dalam beberapa pekan terakhir, kasus kematian harian akibat COVID-19 di Indonesia selalu menjadi yang tertinggi di dunia, lebih dari 1.200 kematian per hari. Itu artinya setiap sekitar satu menit ada orang yang meninggal akibat COVID-19 di negeri ini.

Di sisi lain, jumlah penduduk Indonesia yang sudah menjalani vaksinasi COVID-19 lengkap atau sudah menerima dua dosis vaksin baru mencapai 27,8 juta orang. Angka itu baru hanya mencakup sekitar 10 persen dari total jumlah penduduk di negeri ini.