Peran Geologi dan Iklim pada Keanekaragaman Hayati Hutan Hujan Tropis

By Sysilia Tanhati, Minggu, 3 Oktober 2021 | 11:00 WIB
Hutan Amazon (Ivars Utināns)

Dengan menggunakan model ini, para peneliti dapat menyimulasikan keanekaragaman spesies tanpa harus memasukkan data untuk setiap spesies individu. Namun, model gen3sis memerlukan data dinamika geologi benua yang sedang dipertimbangkan, serta kelembaban dan suhu dari rekonstruksi iklim.

Mereka menyimpulkan bahwa iklim saat ini bukanlah alasan utama mengapa keanekaragaman hayati lebih rendah di hutan hujan Afrika. Sebaliknya, keanekaragaman hayati telah muncul dari dinamika pembentukan gunung dan perubahan iklim. Hasil simulasi sejarah sebagian besar bertepatan dengan pola distribusi keanekaragaman hayati yang dapat diamati saat ini. Proses geologis serta fluktuasi suhu global menentukan di mana dan kapan spesies muncul atau punah.

Dinamika geologi menjadi salah satu faktor penting tingginya keanekaragaman hayati di suatu tempat. Lempeng tektonik aktif menciptakan pembentukan pegunungan, seperti Andes di Amerika Selatan dan munculnya kepulauan, seperti di Asia Tenggara. Kedua proses ini menghasilkan banyak relung ekologi baru, yang pada gilirannya memunculkan banyak spesies baru.

Baca Juga: 'Peta Kehidupan' Baru: Indonesia Punya Banyak Hewan Tak Dikenal

Keanekaragaman hayati harus dapat meningkatkan kesejahteraan warga di sekitarnya. Ekowisata pengamatan burung menjadi cara pelestarian alam yang berkelanjutan di Tablasupa. (Zulkifli/National Geographic Indonesia)

Di sisi lain, sabuk hutan hujan tropis Afrika memiliki aktivitas tektonik yang lebih sedikit selama 110 juta tahun terakhir. Rendahnya tingkat keanekaragaman hayati di Afrika juga disebabkan karena hutan lembab yang berbatasan dengan daerah kering. Hal ini membatasi penyebaran spesies. “Spesies dari daerah lembab hampir tidak dapat beradaptasi dengan kondisi kering di sekitar daerah kering," tutur Pellissier.

Para peneliti sekarang menyempurnakan model dan menjalankan simulasi untuk memahami munculnya keanekaragaman hayati di wilayah kaya spesies lainnya. Misalnya seperti di pegunungan di Cina barat. Kode model dan rekonstruksi paleoenvironmental adalah open source. Sehingga dapat digunakan oleh semua peneliti evolusi dan keanekaragaman hayati di berbagai wilayah di dunia.