Berlangganan

P.W. Hofland, Seorang Belanda yang Meletakkan Fondasi Kabupaten Subang

Senin, 15 November 2021 | 10:00 WIB
Galih Pranata, Mahandis Yoanata Thamrin
Bagikan :
Wikimedia Commons
Potret yang diambil sekitar tahun 1930, patung Peter William Hofland, pemilik perusahaan raksasa, Pamanoekan en Tjiasemlanden.

Nationalgeographic.co.id—Berbekal peruntungan, Hofland berangkat dari Belanda menuju Jawa. Bermula dari kerjasamanya dengan VOC dalam perdagangan kopi. Kelak, ia berperan dalam membangun pondasi sebuah kabupaten di Jawa Barat, Kabupaten Subang.

Peter William Hofland memulai karirnya sebagai pedagang kopi berkat kerjasamanya dengan VOC. Pada 1840, Skelton menjual saham yang kemudian oleh Hofland dan saudaranya diakuisisi dan meneruskan Pamanoekan en Tjiasemlanden.

Dilansir dari ANRI, dalam naskahnya berjudul Citra Kabupaten Subang dalam Arsip yang diterbitkan tahun 2015, menyebut bahwa Pamanoekan en Tjiasemlanden diperkirakan sudah berdiri sejak tahun 1812 dan diteruskan secara berangsur-angsur hingga ke tangan Hofland bersaudara.

"Luas tanahnya hampir mencakup seluruh wilayah Subang, membentang dari pesisir utara hingga puluhan kilometer ke selatan. Ia mengembangkan lahan bersama saudaranya bernama T.B. Hofland" tambah tim penyusun naskah dari ANRI.

Pada 1858, ia membeli saham kebunnya secara utuh dari saudaranya, menandai bahwa Peter Hofland telah menjadi pemilik tunggal dari perusahaan perkebunan super luas, Pamanoekan en Tjiasemlanden. Berkat ketekunannya, lahan perkebunan semakin meluas dan produktif.

Halaman berikutnya...

Ia menanam sejumlah kina, karet, kopi hingga teh yang membentang luas. Hampir seluruh wilayah Pamanoekan en Tjiasemlanden yang kelak menjadi batas-batas geografis Kabupaten Subang.

Ia membuat patok-patok, memberikan batasan yang tegas bagi wilayah perkebunannya yang mulai meluas. Lepas dari perkebunannya, ia turut membangun sejumlah infrastruktur yang kini masih digunakan oleh rakyat Subang.

Jan ten Brink dalam bukunya berjudul Op de grenzen der Preanger. Reisschetsen en mijmeringen, yang diterbitkan pada tahun 1861, menjelaskan tentang perjalanan Hofland dalam membangun peradabannya di Subang.

"Hofland mengembangkan bisnis yang juga berimbas baik pada penduduk lokal dengan membuka pasar lokal untuk masyarakat dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan dengan pasar lainnya," tulis ten Brink.

Ia menjadi sosok yang disegani, utamanya bagi masyarakat yang tinggal di areal perkebunan Pamanoekan & Tjiasem Landen Lands. "Dia adalah tuan tanah yang sangat dihormati di masyarakat, tak hanya karena kekayaannya, dialah raja agung yang mulia," imbuhnya.

Tag: