Kuil Firaun Wanita Ini Ungkap Cara 'Master Kuno' Membuat Karya Seni

By Utomo Priyambodo, Sabtu, 20 November 2021 | 13:00 WIB
Kuil Hatshepsut, salah satu kuil Mesir kuno yang terkenal. (ALEKSANDRA HALLMANN)

Nationalgeographic.co.id—Para seniman dan pemahat Mesir kuno mungkin bukan nama-nama besar seperti Michelangelo, Raphael, atau Caravaggio. Namun sebuah studi baru tentang sebuah kuil firaun wanita menunjukkan bahwa para "master seni" Mesir kuno memiliki banyak kesamaan dengan para seniman besar Renaisans.

Alih-alih menjadi pengrajin solo, para pemahat Mesir kuno bekerja dalam tim. Para master berbakat itu mengawasi kru besar yang terdiri atas para pemahat pemula dan asisten lainnya.

Para arkeolog mengatakan pendekatan studi untuk meneliti ribuan pahatan Mesir kuno adalah hal baru dalam Egyptology atau ilmu Mesir kuno. Sebelumnya, Egyptology telah lama hanya berfokus pada interpretasi catatan tertulis. Jadi, studi ini mengungkapkan sisi lain berupa sumber daya dan semangat orang-orang Mesir kuno yang dituangkan ke dalam karya seni mereka.

"Para seniman yang menciptakan semua ini benar-benar terbang di bawah radar Egyptological," kata Dimitri Laboury, seorang ahli Egyptology di University of Liège yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

"Tetapi para seniman itu adalah tokoh kunci dalam masyarakat yang berinvestasi begitu banyak dalam produksi artistik."

Baca Juga: Seniman-Seniman Lukis Pertama di Dunia Berasal dari Indonesia?

Selama hampir dua abad, para peneliti menganggap dekorasi makam dan kuil bukan sebagai karya seni, tetapi sebagai sumber informasi tentang kepercayaan agama Mesir kuno. Dan para seniman di Mesir kuno tidak menandatangani karya mereka sehingga semakin mendorong mereka ke ranah yang tidak dikenali.

Akibatnya, sedikit yang diketahui tentang para seniman Mesir kuno dan metode mereka. Bukti tekstual mengisyaratkan kehadiran para pemahat dan pelukis Mesir kuno, tetapi jarang informasi mengenai detail pekerjaan mereka atau siapa mereka.

Untuk lebih memahami pekerjaan yang dilakukan untuk mendekorasi kuil Mesir kuno, Anastasiia Stupko-Lubczynska, arkeolog dari University of Warsaw, dan rekan-rekan penelitinya mempelajari kuil Hatshepsut. Hatshepsut adalah firaun wanita yang memerintah Mesir kuno antara tahun 1478 Sebelum Masehi dan 1458 Sebelum Masehi.

Hatshepsut merupakan salah satu dari sedikit firaun perempuan Mesir. Kuilnya, yang membentang 273 meter kali 105 meter, dibangun hampir 3.500 tahun yang lalu di Deir el-Bahari, dekat kota Luxor modern.

Di sebuah ruangan seluas 70 meter persegi di bagian belakang yang dikenal sebagai kapel Hatshepsut, dua dinding sepanjang 13 meter diukir dengan gambar prosesi dari banyak pria yang tampaknya tak berujung membawa persembahan berupa gandum, keranjang burung, dan barang-barang lainnya. Ada 200 gambar yang menempati dua pertiga dari dinding-dinding ruangan kapel tersebut.

Stupko-Lubczynska ada di sana sebagai bagian dari upaya yang sungguh-sungguh dan berkelanjutan ekspedisi Polandia-Mesir untuk membersihkan dan memulihkan dinding-dinding kuil yang rusak. Sebelum para konservasionis membersihkan gambar-gambar itu, Stupko-Lubczynska dan tim juru gambar menghabiskan ratusan jam antara tahun 2006 dan 2013 mendokumentasikan dinding-dinding kapel itu dengan tangan, menyalin ukiran-ukiran dinding pada lembaran film plastik dengan skala satu banding satu.

"Kami harus mengulangi proses yang dilakukan oleh para pemahat, menggambar semua garis mereka, menduplikasi langkah-langkah mereka," kata Stupko-Lubczynska seperti dikutip dari Science.

Baca Juga: Kuil Matahari yang Hilang Selama 4.500 Tahun Ditemukan di Mesir

Dalam proses duplikasi tersebut, Stupko-Lubczynska mengidentifikasi detail-detail kecil pada batu kapur halus kapel, termasuk goresan-goresan pahat yang kikuk dan koreksi selanjutnya.

"Karena kami memiliki begitu banyak gambar dengan detail berulang, kami dapat membandingkan detail dan pengerjaannya," ujar Stupko-Lubczynska. "Jika Anda melihat cukup banyak dari pahatan-pahatan itu, mudah untuk melihat ketika seseorang melakukannya dengan benar."

Perlahan-lahan, Stupko-Lubczynska dan rekan-rekannya mulai melihat variasi halus dalam apa yang tampak seperti sekumpulan gambar potong-dan-tempel (cut-and-paste). Beberapa gambar tampak lebih buruk, ada bagian-bagian yang tampak dipahat sembarangan, bukan oleh ahlinya.

Analisis juga menunjukkan bahwa pembuatan ukiran dan pahatan gambar-gambar itu adalah upaya tim yang dilakukan secara bertahap oleh para seniman yang berbeda. Stupko-Lubczynska dan rekan-rekan penelitinya telah melaporkan temuan itu di jurnal Antiquity.

"Bagian wig bisa sangat bagus, dan pada sosok yang sama, wajahnya sempurna," katanya. "Mungkin pengrajin ahli datang di akhir untuk menyelesaikan gambar-gambar tersebut." Tanpa cahaya alami di aula yang luas dan tak berjendela, pasti ada juga asisten-asisten yang memegang lampu minyak yang berkerumun di perancah.

Baca Juga: Penemuan Jasad Bangsawan Khuwy: Sejarah Mumi Mesir Perlu Ditulis Ulang

Sang master berfokus pada tugas yang paling menantang sambil mendelegasikan bagian latar belakang, karakter pendukung, dan pekerjaan persiapan kepada para pemahat yang baru berlatih. Bukti bahwa tangan yang lebih terampil mengoreksi kesalahan par pemula menunjukkan bahwa bahkan kuil firaun itu dipandang sebagai tempat berlatih para pemahat pemula.

"Anda memiliki tangan-tangan yang lebih berpengalaman di samping tangan-tangan yang kurang berpengalaman," kata Laboury. "Sang master sedang melatih murid-murid magang di tempat itu."

"Studi ini benar-benar menambah pemahaman kita tentang keahlian dan cara para seniman kuno ini bekerja," kata Gabriele Pieke, ahli Mesir Kuno di Reiss-Engelhorn Museum di Mannheim, Jerman. Dia dan yang lainnya berharap tampilan di balik layar di kapel Hatshepsut akan membantu meningkatkan profil para seniman terampil yang bertanggung jawab atas begitu banyak hal yang kita kagumi di banyak makam dan kuil Mesir kuno.