Meneladani Mangkunegara VI, Sang Reformis yang Nyaris Terlupakan

By Utomo Priyambodo, Selasa, 30 November 2021 | 10:00 WIB
Patung torso Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegoro VI di Astana Oetara. Di kompleks permakaman ini beristirahat dalam keabadian Mangkunegara VI beserta keluarga, kerabat, dan para abdi dalemnya. (Cagar Budaya Astana Oetara )

Nationalgeographic.co.idMangkunegara VI memang tidak setenar Sultan Agung dari Mataram ataupun Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa. Ia tidak terkenal karena kegarangannya dalam perang maupun kekuatannya dalam mempertahankan takhta ataupun memperluas kekuasaannya.

Namun bagi banyak rakyat Jawa di wilayah Kadipaten Mangkunegaran, kerajaan otonom yang berkuasa di wilayah Surakatya, peran Mangkunegara VI sangatlah krusial, terutama di bidang perekonomian. Sebagai raja Jawa, Mangkunegara VI memiliki visi kepemimpinan yang jauh ke depan dan lebih modern.

Ia tidak lagi mementingkan takhta di atas segalanya. Namun yang terpenting adalah substansinya.

Dia berani mereformasi bidang ekonomi dan budaya. Bahkan dia menghindari potensi-potensi konflik yang mungkin ada dengan memilih mundur dari jabatannya sebagai adipati atau penguasa Kadipaten Mangkunegaran dan kemudian berprofesi sebagai pedagang.

Mangkunegara tampaknya tahu betul bahwa di era modern ini, kekuatan tidak hanya dikumpulkan melalui takhta. Baginya, pengumpulan kapital dengan menguasai sumber-sumber ekonomi juga penting bagi suatu kerajaan.

Sekitar 125 tahun lalu, Mangkunegara VI naik tahta menjadi penguasa kerajaan di negara kolonial. Dia menjadi Adipati Mangkunegaran sejak penghujung abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Kondisi kerajaan di bawah pemerintahannya selama 1896 hingga 1916 ini diwarnai oleh banyak perubahan.

Halaman berikutnya...