Ritus dan Budaya Tato yang Populer Pada Suku Visaya Kuno di Filipina

By Galih Pranata, Senin, 27 Desember 2021 | 09:00 WIB
Bangsa Visaya terbiasa dengan merajah tubunya menggunakan tato kuno untuk menyerang psikologi musuh saat berperang. (The Aswang Project)

Nationalgeographic.co.id—Ketika orang Spanyol pertama kali tiba di pulau Visaya (Bisaya) pada tahun 1521 dari Maluku, mereka melabeli penduduk asli di sana sebagai "pintados", yang berarti 'orang yang dicat' atau 'dicat'.

Tato dipraktikkan secara luas di Filipina pra-kolonial baik untuk tujuan ornamen maupun ritus masyarakatnya. Budaya dan ritus ini sangat populer di Visaya dan di antara suku-suku dataran tinggi yang mendiami Pulau Luzon.

"Tato yang dimiliki para pejuang ini (Visaya) tidak hanya dimaksudkan untuk tujuan dekoratif atau memperindah tubuh saja," tulis William Henry Scott dalam bukunya Barangay: Sixteenth Century Philippine Culture, terbit pada tahun 1994. 

"Tato Pintado memproyeksikan aura intimidasi untuk menakuti musuh mereka, yang merupakan bagian dari strategi psikologis mereka selama perang suku dan penyerbuan," imbuhnya.

Perlu diketahui, bahwa untuk mendapatkan tato yang mereka sebut dengan Pintado, membutuhkan proses siksaan yang hanya dapat dialami oleh pria yang paling tangguh, kadang-kadang juga wanita yang berani.

Beberapa dari kelompok suku Visaya, biasanya mempraktikkan pengayauan (membunuh orang untuk diambil kepalanya -biasanya dilakukan suku yang masih primitif), menjadi salah satu alasan utama di balik pembuatan tato. 

"Mereka percaya tato memiliki kekuatan spiritual dan kualitas magis yang memberi mereka kekuatan dan perlindungan," lanjut Scott.

Tato juga digunakan untuk membedakan atau memberi penghargaan kepada seorang pejuang setelah ekspedisi pengayauan yang sukses dan menandai status sosial mereka dalam komunitas mereka.

Umumunya, untuk menciptakan tato Pintado, mereka menggunakan duri dari pohon Calamansi lokal sebagai alat utama, yang kemudian kreasi seni tato dapat dilakukan dengan dua cara.

"Cara yang pertama adalah dengan mencelupkan duri yang ditempelkan pada tongkat kayu, lalu di pasta arang dan kemudian ditepuk berulang kali di kulit seseorang," terang Scott.

Cara yang kedua adalah dengan merobek atau menusuk kulit dimana bubuk arang akan dioleskan pada luka yang dibuat dari tusukan atau robekan pada kulit, cara yang sangat menyakitkan.

Scott telah memahami, bahwa ragam bentuk tato yang menyelimuti tubuh orang Visaya, tidak di letakkan sembarang atau sesuka hati. "Tato dada diberikan kepada mereka yang telah menjalani serangkaian pertempuran," ungkapnya.

Dilansir dari The Manila Times, "sama seperti di zaman modern, karya tato kuno dikerjakan oleh para seniman-seniman terampil yang memungut bayaran atas jasa mereka."

 

Lukisan Datu Lapulapu, yang menghiasi tubuhnya dengan tato. (National Historical Commission of the Philippines (NHCP))

The Manila Times merilis artikel tentang Tato bangsa Visaya yang populer sejak abad ke-14. Artikelnya berjudul Symbolism in pre-colonial Filipino warrior culture, dipublikasikan pada tahun 2014.

"Seiring bertambahnya pengalaman perang mereka, tato juga akan menutupi bagian dada hingga ke punggung mereka," lanjutnya.

Luzon, pulau terbesar di Filipina, juga dihuni oleh sejumlah kelompok pribumi yang lebih populer dengan tato dan ritual mereka yang ekstensif. Utamanya mereka adalah suku pegunungan utara di Wilayah Cordillera, yang secara kolektif dikenal sebagai 'Cordillerans' atau 'Igorots'.

Baca Juga: Tilik Ritual Memperindah Tubuh Masyarakat Asia Tenggara di Zaman Kuno

Wanita di wilayah Cordillera juga menggunakan tato di tubuh mereka, yang diyakini dapat meningkatkan kecantikan dan kesuburan mereka.

Kelompok adat di seluruh kepulauan Filipina telah mempraktikkan seni tato selama berabad-abad. Tetapi, setelah kedatangan orang Spanyol, Amerika, dan munculnya agama Kristen, praktik tradisional seperti tato, mengalami kepunahan.