Melonjaknya Jumlah Sambaran Petir di Arktika Buat Ilmuwan Khawatir

By Maria Gabrielle, Senin, 10 Januari 2022 | 09:00 WIB
Ilustrasi petir. (Pixabay)

Nationalgeographic.co.id—Pepatah sesuatu yang berlebihan tidaklah baik cocok untuk mendeskripsikan situasi terkini yang membuat para ilmuwan khawatir. Di Arktik, wilayah Kutub Utara dari planet Bumi pada tahun 2021 terjadi lonjakan drastis fenomena alam yang tidak biasa sebagai akibat dari perubahan iklim.

Dilansir dari The Guardian, Kutub Utara adalah tempat di mana petir jarang terlihat, hal tersebut disebabkan oleh udara di wilayah itu tidak cukup memiliki panas konvektif untuk menciptakan petir. Namun, wilayah paling utara Bumi tersebut mengalami 7.278 sambaran petir tahun kemarin atau hampir dua kali lipat dari jumlah keseluruhan penampakan petir pada sembilan tahun sebelumnya.

Temuan ini dipublikasikan oleh Vaisala, perusahaan spesialis mengukur fenomena alam asal Finlandia dan berhasil membuat para ilmuwan seperti Chris Vagasky khawatir. “Selama 10 tahun terakhir, jumlah petir keseluruhan di utara Lingkaran Arktik cukup konsisten, tetapi pada garis lintang tertinggi planet ini, 80° sebelah utara, peningkatannya sangat drastis. Peningkatan yang signifikan seperti itu tentu saja menyebabkan Anda khawatir," kata Chris Vagasky, ahli meteorologi.

Pelacakan petir di wilayah tersebut telah menjadi indikator penting dari perubahan iklim karena peningkatan suhu di Kutub Utara lebih cepat tiga kali lipat daripada di tempat lain di planet ini. Tiga faktor yang diperlukan agar petir dan badai petir muncul adalah kelembapan, ketidakstabilan dan gaya angkat.

Mencairnya es di laut Arktik menghasilkan lebih banyak air yang dapat menguap dan menambah kelembapan di atmosfer. Suhu yang meningkat dan ketidakstabilan atmosfer menghasilkan lingkungan sempurna untuk memunculkan petir. Oleh sebab itu, memantau atau melacak bagaimana fenomena alam ini berubah di Kutub Utara seiring berjalannya waktu, dapat mengungkapkan banyak hal tentang perbuahan atmosfer sebagai respons terhadap perubahan iklim.

“Perubahan cuaca di Kutub Utara bisa berarti perubahan cuaca di tempat Anda berada. Semua cuaca bersifat lokal, tetapi apa yang terjadi di tempat Anda berada sekarang bergantung pada bagaimana atmosfer berperilaku di tempat lain di seluruh dunia. Perubahan kondisi di Kutub Utara dapat menyebabkan musim dingin yang lebih ekstrem, lebih banyak gelombang panas atau perubahan ekstrem dalam curah hujan ke benua Eropa,” terang Vagasky.

Pada musim panas lalu terjadi kebakaran hutan besar di Eropa dan Amerika Utara, setidaknya sebagian penyebab dari kebakaran-kebakaran hutan tersebut adalah sambaran petir. Biasanya kurang dari 15 persen kebakaran hutan dipicu oleh petir, akan tetapi kebakaran hutan yang disebabkan oleh petir membakar lebih luas area hutan apabila dibandingkan dengan kebakaran hutan yang disebabkan oleh kegiatan manusia.

Risiko tersambar petir di Kutub Utara masih rendah, tetapi peningkatan munculnya petir dapat mengancam komunitas yang sebelumnya belum pernah menghadapi bahaya dari sambaran petir. Orang-orang yang bermukim di tundra atau yang berada di atas kapal sangat rentan terhadap sambaran petir. Petir juga beresiko merusak infrastruktur listrik dan peralatan lainnya.

Baca Juga: Bisakah Para Ilmuwan Mengembangkan Suaka Es untuk Kehidupan Arktika?

Amerika Serikat adalah negara dengan jumlah sambaran petir teritinggi ke-dua di dunia setelah Brasil pada tahun 2021. Vagasky dan rekan-rekan peneliti berhasil melacak lebih dari 194 juta insiden atau 24 juta lebih banyak daripada yang dilacak pada tahun 2020. Sebuah studi pada tahun 2014 memperkirakan akan ada peningkatan frekuensi sambaran petir sebanyak 12 persen setiap kenaikan suhu satu derajat Celsius.

"Iklim yang berubah dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan yang dipicu petir. Para ilmuwan tidak dapat mengaitkan sambaran petir dari satu hari dengan perubahan iklim kita, tetapi memantau tren petir di Kutub Utara sangat penting dan sesuatu yang perlu dipelajari sekarang dan di masa depan," pungkas Vagasky.

Baca Juga: Bakteri Perairan Arktika Kanada Mampu Mengurai Minyak dan Diesel