Kota Meksiko Kecil yang Merangkul Islam

By , Senin, 27 November 2017 | 12:00 WIB

Di Italia, negara asal fotografer Giulia Iacolutti, percakapan tentang islam berkisar pada ketakutan dan terorisme. Tapi ketika dia tiba di Meksiko, ia tak menemukan percakapan semacam itu.

Pada 2014, seorang profesor memperkenalkan Iacolutti kepada imam salah satu masjid yang muncul di sekitar kota Meksiko, rumah komunitas Muslim yang tengah tumbuh. Selama setahun, ia membaur di rumah mereka, melakukan ritual dan pesta untuk sebuah proyek yang disebut Jannah, kata dalam bahasa Arab yang mewakili surga dalam Islam.

Sekelompok Muslim Sufi asal Spanyol mulai membangun masjid ini di kota San Cristobal de las Casas untuk menampung komunitas yang sedang tumbuh di Chiapas. (Giulia Iacolutti)

Islam masuk ke Meksiko sejak beberapa dasawarsa lalu, melalui imigran dari Lebanon dan Suriah. Bahkan, ada sekelompok Muslim Sufi Spanyol yang datang untuk memualafkan anggota revolusioner Zapatista di tahun 90-an. Islam menyebar dengan cepat. Negara ini sekarang memiliki sekitar 5.270 Muslim—tiga kali lipat dari jumlah 15 tahun lalu, kata Iacolutti. Seorang guru bahasa Arab mengajari mereka membaca Alquran dan beasiswa yang menawarkan kesempatan untuk belajar di Yaman.

Yalal yang berusia tiga belas tahun memiliki saudara laki-laki yang belajar di Yaman dengan beasiswa yang ditawarkan kepada komunitas Muslim di Meksiko. (Giulia Iacolutti)
Ramka yang berusia sebelas tahun menonton film tentang Perawan Maria saat Hari Raya Idul Adha. (Giulia Iacolutti)

Di Meksiko, yang mayoritas penduduknya beragama Katolik, Iacolutti menemukan bahwa memiliki sistem kepercayaan lebih penting daripada mengikuti agama tertentu. Ia berbicara kepada seorang ibu beragama Katolik yang tidak ingin anaknya berpindah ke Islam, namun akan senang jika perpindahan itu mengilhami cara hidup yang lebih saleh.

(Baca juga: Warna-warni Pakaian Adat Para Cholita, Identitas Budaya Bolivia)

Seorang anak berdoa di sebuah masjid di kota Las Nuevas Esperanzas. (Giulia Iacolutti)

"Di Meksiko lebih baik masuk Islam daripada di Eropa," katanya. "Mereka tidak memikirkan teroris."

"Mereka ingin membangun identitas," kata Iacolutti tentang Muslim baru Meksiko. "Apa yang menyenangkan dari Islam adalah ajarannya membawa tindakan praktis dalam kehidupan sehari-hari: Anda harus beribadah lima kali sehari. Anda tidak boleh makan daging babi dan tidak boleh minum alkohol."

Pengikut Ahmadiyah, sebuah gerakan Islam yang lahir di India, berdoa di Meksiko. Denominasi tersebut tidak menganggap Muhammad sebagai nabi terakhir, dan dianggap sebagai orang-orang yang sesat oleh Muslim konservatif. (Giulia Iacolutti)
 
Anastasio Gomez mengganti namanya menjadi Ibrahim Chechev saat pertama kali masuk Islam. Sekarang, dia adalah imam Komunitas Ahmadi di San Cristobal de las Casas. (Giulia Iacolutti)

Para mualaf mendorong pertumbuhan di Mexico City, sementara jumlah kelahiran dan keluarga besar memacunya di daerah pedesaan.

(Baca juga: Pengasingan Bagi Wanita Nepal yang Sedang Menstruasi)

Setelah setahun hidup bersama komunitas itu, Iacolutti berkenalan dengan para imam yang memimpin komunitas Muslim pedesaan di negara bagian Chiapas, jauh di bagian selatan negeri. Dengan menggabungkan praktik-praktik pribumi mereka dengan islam, 400 orang mualaf ini hidup dengan budaya yang jauh berbeda dari rekan-rekan mereka di Mexico City.

Amina berdiri di luar rumahnya di Molinos de Arcos. (Giulia Iacolutti)

Untuk satu hal, mereka cenderung berbaur dengan mudah, karena banyak perempuan pribumi yang menutup kepala mereka dengan kerudung. "Saya ingin berbicara bahasa saya, saya ingin mengenakan pakaian adat, tapi saya juga ingin percaya pada Allah," kata mereka pada Iacolutti.

Baraka (kedua dari kiri) adalah ibu dari tiga anak perempuan dan imam Masjid Al-Kausar di Chiapas. Setelah masuk Islam dia mengganti namanya dari Dominga. (Giulia Iacolutti)

Namun, keterpencilan membuat mereka kesulitan untuk mempertahankan prinsip-prinsip penting agama mereka. Chiapas merupakan negara bagian yang miskin. Di sana, daging yang disembelih sesuai syariat Islam, atau daging halal, sangat jarang.

(Baca juga: Kerajaan Dongeng yang Menghadapi Ancaman Kehidupan Nyata)