Stasiun Ambarawa: Riwayatnya Bersama Kota Militer Hindia Belanda

By Ratu Haiu Dianee, Sabtu, 5 Maret 2022 | 08:00 WIB
Depo Lokomotif pada Museum Kereta Api Indonesia di Ambarawa (Tri Wahyu Prasetyo)

Nationalgeographic.co.id—Museum Kereta Api Indonesia merupakan tinggalan bangunan Stasiun Ambarawa. Kereta yang melintasi stasiun ini memiliki rute Ambarawa – Secang – Magelang dan Ambarawa – Parakan – Temanggung.

Menurut sejarahnya, Stasiun Ambarawa dikenal sebagai stasiun Willem I sesuai dengan nama Raja Hindia Belanda yang pernah berkuasa. Pada masa Hindia Belanda, Ambarawa merupakan daerah militer. Raja Willem Frederik Prins Vans Oranje-Nassau yang akhirnya mendirikan bangunan stasiun kereta api.

Stasiun Willem I pertama kali digunakan sebagai sarana pengangkutan komoditas hasil ekspor dari sekitar Ambarawa serta daerah pedalaman menuju pelabuhan Semarang.  

Selain digunakan untuk mengangkut hasil bumi kereta api Ambarawa juga mengangkut pasukan Hindia Belanda menuju kota Semarang.

Maka, pada 21 Mei 1873, Stasiun Kereta Api Ambarawa telah dibangun dengan luas tanah 127.500 meter persegi.

Saat itu, Ambarawa merupakan salah satu kota yang masuk ke dalam fase pertama pembangunan rute perkeretaapian oleh Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij atau NISM dengan lebar rel sebesar 1.435 milimeter.

Bangunan Stasiun Willem I yang dulunya berbahan kayu direnovasi menjadi berbahan beton pada 1907, yang arsiteturnya masih bisa kita saksikan hingga sekarang.     

Pembangunan Stasiun Kereta Api Ambarawa setelah Benteng Willem I, Benteng terbesar di Jawa

Kompleks benteng terbesar di Jawa, yakni benteng Willem I, rampung pada 1848. Dibangunlah jaringan kereta api di Ambarawa pada 1873 oleh perusahaan kereta api swasta NISM.

Laman Heritage KAI melansir bahwa pembangunan jaringan kereta api tersebut merupakan syarat yang harus dipenuhi NISM untuk mendapatkan ijin konsensi pembangunan rute kereta api pertama Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta).

Nederlands Indische Spoorweg atau NIS diwajibkan membangun rute kereta api cabang lintas Kedungjati-Ambrawa sepanjang 37 kilometer guna keperluan militer.

Stasiun Bedono (Tri Wahyu Prasetyo)

Awal Perjalanan Dibangunnya Stasiun Willem I

Selama Tanam Paksa pada 1830 hingga 1850, kawasan pedalaman Jawa memasok hasil tanaman perkebunan. Hasil bumi petani Jawa tidak menjadi kebutuhan Hindia Belanda saja, melainkan perdagangan di pasar internasional. Oleh karena itu, diperlukan sarana transportasi untuk mengangkut produk pertanian dari pedalaman ke kota-kota pelabuhan seperti kota Semarang.

Pembangunan rel kereta api pertama ditandai upacara tanda dimulainya pembangunan rel kereta api rute Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta) yang bermula di Desa Kemijen.  

Acara ini ditandai dengan peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Mr. L.A.J. Baron Sloet Van de Beele pada 1864.

Baca Juga: Kabar Kereta Api Kita dari Lembaran-lembaran Kartu Pos Hindia Belanda

Akhirnya, rel kereta api pertama di Indonesia diresmikan pada  10 Agustus 1867, dengan rute Semarang ke Tanggoeng, Kabupaten Grobogan, yang memiliki jarak sekitar 25 kilometer. Seiring berjalannya waktu, pada 10 Juni 1872 rute tersebut dikembangkan hingga melewati Yogyakarta.

Lalu, rute Kedungjati baru - Bringin - Tuntang – Ambarawa telah dirampungkan pada tanggal 21 Mei 1873, termasuk pembangunan stasiun kereta api di Ambarawa.

Rel bergerigi yang terletak di tanjakan menuju Stasiun Bedono (Tri Wahyu Prasetyo)

Rel Kereta Api yang Menggunakan Gerigi dan Hanya Ada Dua di Indonesia

Pada rute kereta api Jambu menuju Gemawang yang harus melewati bukit terjal, akhirnya NIS membangun rel bergerigi dan membeli lokomotif uap seri B25 yang khusus dilengkapi dengan roda gigi.

Rel gerigi yang letaknya di tengah-tengah rel kereta api memiliki fungsi sebagai penahan agar lokomotif uap B25 dapat menanjak ke jalur tersebut tanpa mengalami kesulitan.

Sementara roda gigi pada lokomotif uap B25 berfungsi sebagai pengait rel bergerigi yang ada di bawahnya. Jika tidak menggunakan roda gigi, kereta api tidak dapat melewati jalan menanjak.

Selain sebagai pengait, roda gigi juga berfungsi sebagai penahan kecepatan kereta api.

Stasiun Ambarawa yang kini menjadi Museum Kereta Api Indonesia (Tri Wahyu Prasetyo)
   

Stasiun Willem yang Kini menjadi Musium Kereta Api Indonesia

Pada 1976, Perusahaan Jawatan Kereta Api atau PJKA menghentikan pengoperasian Stasiun Willem I dan rute sekitarnya seperti Ambarawa - Secang - Magelang dan Ambarawa - Parakan - Temanggung.

Kemudian, Kepala PJKA atau Perusahaan Biro Kereta Api Ir. Soeharso bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah Soepardjo Roestam untuk membahas rencana pembangunan museum kereta api.

Stasiun Willem I atau Stasiun Ambarawa ini akan dijadikan sebagai Museum Kereta Api Indonesia dengan mengumpulkan beberapa lokomotif uap dan lokomotif lainnya yang akan diletakkan di stasiun Ambarawa.

Baca Juga: Kota Awal Kereta Api Menderu

Baca Juga: Kilas Balik Perkembangan Kereta Api di Indonesia dari Tahun 1870-1900

Dalam rencana ini bertujuan untuk menyelamatkan tinggalan lokomotif uap yang salah satunya menjadi daya tarik wisata di Jawa Tengah.

Selain itu, mengingat Ambarawa memiliki latar belakang sejarah yang kuat dalam perjuangan kemerdekaan Pertempuran Ambarawa.

Akhirnya, Stasiun Ambarawa resmi menjadi museum pada  21 April 1978 yang diresmikan oleh Menteri Perhubungan Republik Indonesia Rusmin Noerjadin yang menjabat pada saat itu.

Koleksi sarana perkeretaapian heritage pada Museum Kereta Api terdiri dari 26 lokomotif uap, 4 lokomotif diesel, 5 kereta, dan 6 gerbong dari berbagai daerah.

Selain itu, rel bergerigi pada Stasiun Bedono menjadi satu-satunya rel bergerigi yang masih aktif di Indonesia.