Angin Segar untuk Konservasi Badak Sumatra: Seekor Bayi Telah Lahir!

By Afkar Aristoteles Mukhaer, Selasa, 29 Maret 2022 | 10:00 WIB
Seekor bayi badak sumatra telah lahir di Suaka Rhino Sumatra Taman Nasional Way Kambas (SRS TNWK). Jumlah badak sumatra kini genap menjadi delapan ekor dan usaha konservasi masih terus berlanjut. (Biro Humas KLHK)

Nationalgeographic.co.id—Sejak 2004, badak sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) betina bernama Rosa sudah hilir-mudik di sekitar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung. Penampakannya sering muncul di jalan, perkebunan, dan perkampungan, bahkan bertemu dengan manusia yang lalu-lalang dengan kendaraannya.

Karena kedekatannya dengan manusia inilah, para pegiat konservasi khawatir bila keberadaannya bisa terancam. Pegiat konservasi juga khawatir bila akan ada kemungkinan buruk lainnya seperti terjangkit penyakit dari hewan ternak. Maka, 25 November 2005, Rosa dipindahkan ke Suaka Rhino Sumatra Taman Nasional Way Kambas (SRS TNWK), Lampung. 

Kini, ia membawa kabar menggembirakan untuk dunia konservasi. Kamis (24/03/2022), Rosa melahirkan seekor bayi betina yang membawa segar untuk keberlangsungan populasi badak sumatra.

Bayi yang dilahirkan Rosa ini menambah jumlah populasi badak sumatra di TNWK menjadi delapan ekor. Kelahirannya merupakan hasil perkawinan dengan badak sumatra jantan bernama Andatu. Perlu diketahui, sejak 2011 Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) telah menetapkan status badak sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) kritis atau terancam punah.

Baca Juga: Kawin Sedarah, DNA Kuno Ungkap Sejarah Evolusi Keluarga Badak

Baca Juga: Eksperimen Menggantung Badak dari Helikopter Ini Raih Penghargaan

Baca Juga: Fosil Badak yang Lebih Tinggi dari Jerapah Ditemukan di Cina

  

"Kelahiran badak sumatra ini merupakan sebuah kabar gembira di tengah upaya pemerintah Indonesia dan mitra kerja meningkatkan populasi badak sumatra," ujar Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK Wiratno dalam rilis. Lima ekor sisanya yang ada di TNWK sebelumnya adalah Bina, Ratu, dan Delilah, untuk betina, serta Andalas dan Harapan untuk jantan.

Meski demikian, upaya kelahiran bayi badak sumatra ini bukanlah perkara mudah. Rosa yang merasa nyaman dengan kedekatannya dengan manusia, membuat perilakunya sulit dikendalikan dalam program reproduksi yang dilakukan para pegiat konservasi.

Intensitas perkawinan Rosa terhitung sedikit dan bertahun-tahun tidak hamil juga, sehingga memicu munculnya fibroid rahim (mioma). Dia baru dikawinkan sekitar tahun 2015, ujar Wiratno. Kehamilan pertama terjadi di tahun 2017, tetapi mengalami keguguran. Tercatat, Rosa sudah delapan kali mengalami keguguran sejak pertama kali bunting hingga 2020.

Kehamilan yang kesembilan kali inilah yang memberi hadiah bagi populasi badak sumatra. Rosa sudah mengandung selama 476 hari dari Desember 2020 hingga Maret 2022. Wiratno mengatkan, kelahiran ini menunjukkan kepada dunia bahwa pihaknya berhasil melakukan konservasi spesies mamalia besar.