Mengapa Patung Pria Yunani Kuno Selalu Telanjang? Ini Alasannya!

By Sysilia Tanhati, Rabu, 30 Maret 2022 | 11:00 WIB
Seniman Yunani kuno berusaha membuat patung yang mirip dengan situasi sehari-hari. (Francisco Ghisletti/Unsplash)

“Ketelanjangan Yunani bukan lambang penghinaan, namun moral kebajikan di antara elit sosial,” kata Neil MacGregor, direktur British Museum dilansir dari Daily Mail.

Memahami anatomi manusia

Seniman selalu mengamati tubuh manusia dengan cermat. Tujuannya untuk memahami bagaimana rupa dan geraknya. Mereka bahkan menunjuk model untuk mempelajari setiap detail berkali-kali dan dengan bentuk tubuh yang berbeda.

Pada saat itu, tidak ada pemisahan antara seni dan sains, keduanya dilihat sebagai subjek yang cair. Sebagian besar filsuf, fisikawan, dan seniman ‘melayang mulus’ di antara disiplin ilmu sambil mengeksplorasi ide-ide yang berbeda.

Tetapi membuat patung yang akurat secara anatomis adalah disiplin ilmu lain. Setiap otot, saraf, sendi harus dipahat dengan presisi. Bahkan jika satu bagian atau bagian dari potongan tidak proporsional, itu tidak memiliki efek yang sama.

Perbedaan mendapatkan dari 95% akurat hingga 100% akurat membuat dunia berbeda di mata pemirsa.

Seniman dan ilmuwan membedah mayat untuk memahami komposisi dan cara kerja tubuh, meskipun meski ini dilarang oleh gereja Katolik.

Baik seniman maupun ilmuwan menganggap penting untuk lebih akurat dan yakin, tentang cara kerja tubuh manusia. Untuk mengetahui otot apa yang digunakan ketika mengepalkan tangannya, saraf mana yang menonjol, bahwa jari telunjuk berada 0,5 cm lebih tinggi dari jari tengah.

Semua detail kecil ini memerlukan studi dan pembedahan tanpa akhir sebelum bisa mendekati kesempurnaan.

     

Baca Juga: Rempah Termahal di Dunia, Saffron Pertama Didomestikasi di Yunani Kuno

Baca Juga: Ritual Nikah Pedofilia Yunani Kuno, Ikat Rambut Jadi Persembahan Dewa