Kota Kuno Nippur, Salah Satu Kota Suci Dalam Peradaban Mesopotamia

By Maria Gabrielle, Senin, 25 April 2022 | 10:00 WIB
Potret ziggurat yang didedikasikan untuk Dewa Enlil di Nippur. (David Stanley / Wikimedia Commons)

Nationalgeographic.co.id—Kota kuno Nippur atau Nibru menjadi salah satu kota suci paling menarik di wilayah Timur Tengah. Tempat ini dulunya pernah diakui sebagai ibu kota religius yang penting dalam peradaban Mesopotamia.

Dilansir dari Ancient Origins, kota kuno ini terletak di Irak bagian selatan, antara kota Baghdad dan Basra. Jika dibandingkan dengan kota-kota di sekitarnya, Nippur memiliki kehidupan yang sangat panjang.

Kira-kira kehidupan di tempat ini berlangsung dari tahun 5000 SM hingga 800 M. Kota kuno Nippur dikenal sebagai rumah Enlil, dewa Mesopotamia kuno yang dikenal atas kekuatannya atas udara, angin, bumi dan badai.

Lantaran dianggap sebagai tempat suci, bahkan dalam masa perang rasa hormat terhadap tempat-tempat suci serta rasa takut dewa-dewa murka, kedua belah pihak yang berperang mempertahankan tempat ini. Nippur masih memainkan peran penting dalam politik Mesopotamia karena statusnya sebagai kota suci dan rumah bagi Enlil serta dewa-dewa lainnya.

Raja-raja di kota-kota setempat sering meminta pengakuan dari kuil Enlil, yang disebut Ekur, dengan imbalan menyediakan tanah, batu mulia, dan barang-barang lainnya kepada penduduk Nippur. Mereka juga akan menyediakan laki-laki untuk membangun dan memulihkan kuil dan bangunan penting lainnya di seluruh kota untuk kebaikan para dewa.

Nippur merupakan rumah orang-orang Sumeria kuno. Bagian selatan Mesopotamia yang disebut Sumer ini terdiri dari beberapa kota seperti Nippur dan masing-masing memiliki rajanya sendiri. Kata Sumer diterjemahkan menjadi “tanah para raja yang beradab”.

Bangsa ini dikenal karena inovasi dan kemampuan mereka untuk merancang dan membangun konsep baru. Mereka juga mengembangkan beberapa sekolah dan gedung pemerintah pertama dalam sejarah. Beberapa arsitektur luar biasa mereka masih ada sampai sekarang.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Enlil adalah dewa utama di antara bangsa Sumeria dan disembah terutama di Kota Nippur. Mereka yang ingin memuja Enlil akan mengunjungi kuil Ekur.

Patung Dewa Enlil. (Osama S. Muhammed A. / Wikimedia Commons)

Kuil ini dikenal sebagai tempat pertemuan para dewa di Nippur dan merupakan bangunan paling suci dan dihormati di seluruh Sumeria kuno. Diyakini Enlil telah membangun kuil untuk dirinya sendiri sebagai penghubung antara langit dan Bumi.

Mitos Sumeria kuno menyatakan bahwa Enlil begitu suci. Bahkan dewa-dewa lain tidak dapat melihatnya secara langsung. Bangsa Sumeria yang menyembah Enlil juga percaya bahwa dia bertanggung jawab atas perkembangan Bumi.

Enlil sering digambarkan sebagai dewa kebapakan yang peduli pada rakyatnya. Raja-raja di negara kota terdekat menggunakan Enlil sebagai pengaruh pribadi dan berusaha untuk memerintah dengan cara yang sama dengan bagaimana Enlil memerintah umat manusia.

  

Baca Juga: Acar, Makanan Pendamping Penuh Warna Sejak Peradaban Mesopotamia

 Baca Juga: Acar, Makanan Pendamping Penuh Warna Sejak Peradaban Mesopotamia

Baca Juga: Tugu Peringatan Perang Berusia 4.000 Tahun Teridentifikasi di Suriah

 Baca Juga: Stalagmit di Gua Iran Ungkap Kejatuhan Kekaisaran Mesopotamia Pertama

  

Faktanya, Enlil dianggap sangat tinggi sehingga Nippur adalah satu-satunya negara kota di Sumeria yang tidak pernah memiliki istana. Mereka percaya bahwa sebuah istana akan menarik perhatian Enlil dan ingin kuilnya dianggap sebagai bangunan terpenting di kota.

Sementara itu, berdasarkan sisa artefak dan arsitektur di wilayah tersebut, dari beberapa batu bata yang terpelihara dengan baik menunjukkan simbol pemerintahan yang berbeda dari waktu ke waktu.

Dinasti Ur, di bawah pemerintahan Ur-Nammu, secara khusus membantu membangun kembali Nippur dengan membangun kembali tembok kota, kuil, dan bahkan kanal. Sedangkan di bawah pemerintahan Hammurabi, kuil Enlil sebagian besar dibiarkan terbengkalai.

Penyebutan tentang Nippur dalam catatan ahli geografi Muslim menurun sekitar tahun 800 M. Ini menunjukkan bahwa kota kemungkinan kurang berpenghuni pada saat itu.

Meskipun kadang-kadang masih digunakan untuk tujuan keagamaan, kota ini sepenuhnya ditinggalkan pada abad ke-13 Masehi. Bahkan setelah ditinggalkan, banyak kota setempat masih mengakui reruntuhan itu sebagai situs suci yang dulunya penuh dengan kemegahan.