Baluarti Romawi Menjadi Penanda Batas Kuasanya 2.000 Tahun Silam

By National Geographic Indonesia, Jumat, 29 April 2022 | 20:32 WIB
Tembok Romawi Kuno di Emona, Ljubljana, Slovenia. (Riley A Arthur/National Geographic)

 

Nationalgeographic.co.id—Hüssen, peneliti di Institut Arkeologi Jerman, menyeberangi jalan dan mengarungi semak-semak yang lebat. Pada jarak lima puluh meter dari jalan, dia nyaris menabrak timbunan tanah kotor setinggi satu meter dan sepanjang enam meter. Timbunan tanah yang bercampur bebatuan putih pipih itu tampak lurus secara tidak alami di sepanjang lantai hutan.

Hampir 2.000 tahun yang lalu, dinding ini adalah batas yang memisahkan Kekaisaran Romawi dan kawasan lain di dunia. Di Jerman, gundukan rendah itu sajalah yang tersisa dari dinding yang dulu pernah berdiri setinggi tiga meter dan sepanjang ratusan kilometer.

Pastilah dinding itu merupakan peman­dang­an mengherankan di tengah alam liar yang ter­kucil, 1.000 kilometer di utara kota Romawi. “Dinding di sini diplester dan dicat,” kata Hüssen. “Semuanya berbentuk bujur sangkar dan ukurannya tepat. Orang-orang Romawi itu tahu persis bagaimana seharusnya membangun dinding ini.” Mahasiswa teknik yang mengukur bentangan dinding lainnya mendapati satu bagian sepanjang 50 kilometer yang hanya me­lengkung 92 sentimeter.

Hüssen menghadap ke utara, memunggungi Kekaisaran Romawi. Dua ratus meter dari situ, tidak jauh setelah melewati padang kecil, tampak bukit yang menjulang seperti dinding berwarna hijau. “Di sinilah batas itu,” katanya, “dan di balik itu tampak pemandangan indah yang masih belum terjamah tangan manusia.”

Rangkaian menakjubkan yang terdiri atas din­ding, sungai, benteng gurun, dan menara jaga gunung menandai perbatasan Romawi. Pada masa keemasannya di abad kedua Masehi, Kekai­­saran Romawi mengirimkan tentara un­tuk berpatroli di daerah perbatasan yang terentang dari Laut Irlandia hingga Laut Hitam, selain juga di seluruh Afrika Utara.

Tembok Hadrian di Inggris, yang mungkin merupakan segmen paling masyhur, terpilih menjadi situs Warisan Dunia UNESCO pada 1987. Tahun 2005, UNESCO menetapkan situs gabungan dengan perbatasan Jerman sepanjang 550 kilometer. Para pakar pelestarian berharap dapat menambahkan sejumlah situs di 16 ne­gara lain. Upaya internasional mungkin da­pat membantu menjawab pertanyaan yang ke­pelikan­nya mengherankan: Mengapa bangsa Romawi membangun dinding itu? Untuk me­lindungi pemerintah yang dikepung oleh kaum Barbar, atau semata untuk menegaskan ke­hebatan kekaisaran itu secara fisik?

Menetapkan dan mempertahankan per­batasan juga merupakan obsesi di zaman modern. Sebagaimana para politisi berdebat untuk membangun dinding antara Amerika Serikat dan Meksiko serta pasukan kedua negara Korea berhadapan di sepanjang daratan yang sarat ranjau, realitas yang dihadapi para kaisar Roma pun masih terus diperdebatkan.

Sebagai polisi rahasia, frumentarii bukan berarti bebas dari kesalahan. Mereka tidak disukai sebagian besar orang Romawi. (Apollodorus of Damascus/Trajan's Column)

DARI SEKITAR 500 SM, Romawi terus ber­kembang selama enam abad, mengalami trans­formasi dari sebuah negara-kota kecil di lingkungan yang keras menjadi kekaisaran terbesar sepanjang sejarah Eropa.Kaisar Trajan mewarisi tradisi agresif ini dengan senang hati. Antara tahun 101 dan 117, dia berperang untuk menaklukkan wilayah yang di masa kini dikenal sebagai Rumania, Armenia, Iran, Irak, dan dengan kejam meredam pem­berontakan bangsa Yahudi.

Saat dia mangkat tahun 117, wilayah kekuasa­an­nya membentang dari Teluk Persia hingga Skot­­lan­dia. Dia mewariskan kekaisarannya ke­pada anak angkatnya—senator Spanyol ber­usia 41 tahun, Publius Aelius Hadrianus. Kaisar yang dikenal sebagai Hadrian ini di­hadapkan pada wilayah yang begitu luas, sehingga sulit bagi Roma untuk mengendalikannya. Tekanan para politisi dan jenderal untuk mengikuti jejak ayah angkatnya pun membuatnya nyaris putus asa. “Keputusan pertama yang diambilnya adalah me­ninggalkan sejumlah provinsi baru dan me­mangkas anggaran pemeliharaannya,” kata pe­nulis biografi, Anthony Birley. “Hadrian cukup bijaksana untuk menyadari bahwa pen­dahulunya telah melakukan hal-hal yang jauh melampaui kemampuannya.”

Kebijakan kaisar baru ini membuat citra Romawi terpuruk. Bagaimana mungkin kekai­saran yang ditakdirkan untuk memerintah dunia mengakui, sejumlah wilayah sulit dijangkau? Hadrian seakan-akan mengakui, hasrat Roma­­wi yang menggebu-gebu telah padam. Pro­vinsi yang paling berharga, seperti Gaul atau Spanyol, tanah asal Hadrian, memiliki banyak kota dan pertanian.

Namun, ada pertempuran yang tidak sepadan hasilnya. “Dengan memiliki bagian Bumi dan lautan yang terbaik,” demikian pengamatan Appian, seorang pengarang Yunani, bangsa Roma “bertekad untuk melestarikan ke­kaisaran dengan memerintah secara bijak dan hati-hati, bukan dengan meluaskan daerah kekuasaan secara tak terbatas dengan menaklukkan kaum barbar yang miskin dan tidak memberikan keuntungan.”