Kapal Pengiriman Barang Jadi Alasan Turunnya Populasi Hiu Paus Dunia

By Afkar Aristoteles Mukhaer, Selasa, 10 Mei 2022 | 14:00 WIB
Populasi hiu paus menurun akibat sering tertabrak dengan kapal pengiriman barang dan kapal besar lainnya. (Yunaidi Joepoet)

Nationalgeographic.co.id—Hiu paus adalah ikan besar yang tinggal di perairan tropis di seluruh dunia. Pada 2021, Freya Womersley, peneliti University of Southampton yang memimpin Global Shark Movement Project, mendapati bahwa ikan itu dapat pulih dari cedera akibat benturan dengan perahu dalam hitungan minggu.

Meski demikian, penelitian terbarunya bersama para peneliti dari seluruh dunia—termasuk Indonesia—melaporkan bahwa sering terjadi tabrakan antara hiu paus dan kapal besar. Kejadian yang seharusnya mendapat perhatian, namun kerap diremehkan.

Di sekitar khatulistiwa dunia ada banyak kapal kargo untuk perdagangan internasional dan kapal-kapal besar berpenumpang antarpulau atau antarbenua. Hal itu membuat sering terjadinya tabrakan dengan hiu paus. 

Status hiu paus saat ini menurut International Union for Conservation of Nature IUCN, termasuk golongan yang populasinya rentan. Tabrakan dengan kapal besar inilah yang menjadi alasan mengapa jumlahnya menurun.

Pengamatan ini melibatkan 50 lembaga penelitian dan universitas internasional untuk melacak pergerakan hiu paus dan kapal di seluruh dunia. Mereka mengidentifikasi area yang berisiko dan kemungkinan tabrakan.

Berdasarkan pergerakan yang terlacak satelit, ada 350 hiu paus berlabel. Satwa-satwa itu dimonitor oleh Global Shark Movement Project yang datanya disandingkan dengan pergerakan kapal. Kebanyakan hiu paus tinggal di daerah yang dekat dengan pesisir—tentunya ada banyak perahu dan kapal besar lalu-lalang di kawasan itu.

"Industri perkapalan maritim yang memungkinkan kami memperoleh berbagai produk sehari-hari dari seluruh dunia, mungkin menyebabkan penurunan hiu paus, yang merupakan spesies yang sangat penting di lautan kita," kata Womersley di laman University of Southampton.

90 persen dari pengamatan hiu paus, ternyata banyak titik yang tumpang tindih dengan rute pelayaran besar. (Abraham Sianipar/Conservation International)

Dia dan timnya memetakan titik yang tumpang tindih antara hiu paus dengan armada kargo, tangker, penumpang, dan kapal penangkapan ikan global. Jenis kapal besar ini diketahui sangat mungkin menyerang dan membunuh hiu paus.

Hasilnya, ada 90 persen pergerakan hiu paus yang berada di bawah rute aktivitas pengiriman. Laporan itu mereka muat dalam makalah yang dipublikasikan di PNAS pada 9 Mei 2022 berjudul Global collision-risk hotspots of marine traffic and the world’s largest fish, the whale shark.

Pernyataan tentang kematian hiu paus disebabkan kapal diutarakan dari data penyebaran label hiu paus. Ternyata label-label itu dalam pantauan satelit, lebih sering berakhir di jalur pelayaran pengiriman yang sibuk daripada yang diperkirakan. Mereka menyimpulkan, hilangnya transmisi label kemungkinan karena hiu paus dipukul, dibunuh, terhantam, dan tenggelam ke dasar laut.