Gerakan Tukar Baju Mengemuka di Tengah Ancaman Limbah Tekstil

By Utomo Priyambodo, Rabu, 25 Mei 2022 | 08:00 WIB
Gerakan Tukar Baju atau Clothing Swap telah menjadi gerakan yang mengglobal. (The SWAP Team/Flickr)

Nationalgeographic.co.id—Salah satu jenis limbah yang banyak dibuang manusia setiap harinya adalah limbah pakaian atau tekstil. Menurut European Parliament, produksi tekstil diperkirakan bertanggung jawab atas sekitar 20% pencemaran air bersih global.

Mencuci bahan sintetis tekstil diperkirakan melepaskan sekitar 0,5 juta ton serat mikro (mikrofiber) ke laut setiap tahunnya. Pencucian pakaian sintetis juga menyumbang 35% dari mikroplastik primer yang dilepaskan ke lingkungan. Satu beban cucian pakaian poliester dapat melepaskan 700.000 serat mikroplastik yang dapat berakhir di rantai makanan.

Industri fesyen diperkirakan bertanggung jawab atas 10% emisi karbon global. Angka ini lebih besar dari gabungan emisi karbon dari sektor penerbangan dan pelayaran laut internasional.

Menurut Badan Lingkungan Eropa, pembelian tekstil di Uni Eropa pada tahun 2017 menghasilkan sekitar 654 kilogram emisi karbon dioksida per orang. Sejak tahun 1996, jumlah pakaian yang dibeli di Uni Eropa per orang telah meningkat sebesar 40% menyusul penurunan tajam harga yang telah mengurangi masa pakai pakaian.

Tiap orang Eropa menggunakan hampir 26 kilogram tekstil dan membuang sekitar 11 kilogram setiap tahunnya. Pakaian bekas dapat diekspor ke luar Uni Eropa, tetapi sebagian besar (87%) dibakar atau ditimbun.

Di Indonesia, ancaman limbah tekstil juga sama mengkhawatirkannya. Majalah National Geographic Indonesia edisi Maret 2020 "Tiada Lagi Sampah" pernah melansir data jenis sampah dari laporan bertajuk "Major sources and monthly variations in the release of land-derived marine debris from the Greater Jakarta area, Indonesia" yang terbit di jurnal Nature. Berdasarkan laporan studi ini, dari 18.273 temuan sampah di Jakarta, sekitar 8,2 persennya merupakan limbah pakaian.

Deputi Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Arifin Rudiyanto, mengatakan Indonesia menghasilkan 2,3 juta ton limbah tekstil atau setara dengan 12 persen dari limbah rumah tangga. Arifin menyitir data tersebut dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (SIPSN KLHK) pada tahun 2021.

"Namun dari keseluruhan limbah tekstil tersebut, hanya 0,3 juta ton limbah tekstil yang didaur ulang," kata Arifin seperti dikutip dari Kompas.com.

Secara global, kurang dari 1% pakaian yang didaur ulang (recycle) lagi sebagai pakaian. Salah satu alasannya, teknologi yang kini ada belumlah memadai untuk mendaur ulang semua jenis pakaian.

Gerakan Tukar Baju mampu mengurangi limbah tekstil yang dibuang tiap tahun dan memperpanjang masa pakai pakaian. (Beatrice Murch/Flickr)

Oleh karena itu, kini muncullah gerakan-gerakan untuk memakai kembali pakaian bekas untuk mengurangi pembuangan limbah tekstil ke lingkungan. Salah satu gerakan yang sudah mengglobal adalah Tukar Baju (Clothing Swap).

Gerakan ini merupakan sebuah inisiasi untuk memperpanjang usia pakaian dengan cara menukarkannya dengan pakaian orang lain. Di Indonesia, gerakan ini sudah dijalankan oleh Zero Waste Indonesia sejak tahun 2019 sebagai solusi sampah fesyen dan limbah tekstil, seperti dikutip dari Madani.